• Sepi Peminat, Demiz Ingin Program 300 Doktor Dievaluasi

    Oleh : dea06 Desember 2017 16:33
    INILAH, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mengevaluasi program 300 doktor yang telah dicanangkan tahun 2013 lalu. Program ini dinilai menemui sejumlah hambatan yang akhirnya membuat program tersebut tidak bisa dimaksimalkan.

    Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar. Padahal, Demiz sapaan akrabnya menyebutkan, program 300 doktor ini merupakan terobosan yang sangat baik untuk menunjang kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

    Sehingga, pihaknya telah mendukung penuh realiasi beasiswa studi S3 untuk para Aparatur Sipil Negara (ASN) tersebut.

    Namun, realisasi program ini nyatanya sejak tahun pertama digulirkan, program 300 doktor baru diikuti oleh sekitar 60 ASN. Padahal, sambung dia, ada sekitar 40 ribu ASN di lingkungan Pemprov Jabar yang bisa memanfaatkan peluang beasiswa tersebut.

    "Mungkin ada hambatannya mungkin peminatnya banyak tapi terganjal masalah syarat umur (maksimal 38 tahun), kedua minat studi yang tidak sesuai kebutuhan daerah jadi perlu dievaluasi, kita perlu banyak doktor padahal," kata Demiz kepada wartawan di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (6/12/2017).

    Pada awalnya, pihaknya membentuk program ini dengan harapan bisa melahirkan doktror-doktor yang menghasilkan riset yang berkualitas. Dengan hasil riset itulah ia meyakini bisa menjadi modal penting untuk pengembangan dan perbaikan berbagai sektor yang jadi kelemahan Jabar selama ini.

    "Kita perlu doktor dan hasil-hasil risetnya. Jadi yang mengabaikan dana riset itu sendiri ini akan tertinggal karena riset sangat penting," kata dia.

    Oleh karenanya ia menilai program beasiswa untuk para ASN ini perlu dilakukan evaluasi agar memberikan keleluasaan lebih kepada ASN yang ingin melanjutkan studinya. Sehingga, sambung dia, program 300 doktor ini bisa segera terealisasi.

    "PNS kita ada puluhan ribu masa mencari 300 orang saja susah. Barangkali perlu dievaluasi apakah umur atau minat studi yang jadi hambatan karena disesuaikan kebutuhan daerah. 300 (doktor) saja menurut saya terlalu sedikit," pungkasnya. [jek]