• PJT II Memastikan Jatiluhur Akan Kosong dari Jaring Apung

    Oleh : Asep Mulyana02 Desember 2016 17:41
    •  Share
    •  Tweet
    INILAH, Purwakarta - Perum jasa tirta (PJT) II Jatiluhur kembali menggiatkan penertiban keramba jaring apung (KJA) yang ada di perairan Waduk Ir Djuanda (Jatiluhur) secara besar-besaran sejak awal November lalu.

    Perusahaan BUMN ini memastikan, ke depan perairan Jatiluhur akan kosong dari keberadaan 23 ribu unit KJA.

    Direktur Pengelolaan air PJT II Jatiluhur, Harry M Sungguh mengatakan, dalam penertiban KJA ini jajarannya melibatkan petugas gabungan dari personil TNI/Polri dan Satpol PP setempat. Tujuan penertiban lokasi budidaya ikan ini tak lain sebagai upaya mengembalikan kualitas air di bendungan terbesar di Jabar itu.

    “Sejak awal November, kami telah mengangkat sekitar 500 unit KJA. Jika ditotalkan dari awal tahun, KJA yang sudah ditertibkan ini sekitar 1.760 unit,” ujar Harry, Jumat (2/12/2016).

    Harry menjelaskan, jika semua keramba ikan yang jumlahnya masih berada dikisaran 23 ribu unit ini telah ditertibkan, maka perusahan tersebut berkomitmen untuk mengembalikan fungsi waduk terbesar di Jabar itu. Salah satunya, mengembalikan kualitas air seperti semula.

    “Untuk sementara, Waduk Jatiluhur harus dikosongkan dari keramba ikan. Kami menargetkan, kurun waktu lima tahun ke depan KJA yang saat ini berada di waduk Jatiluhur seluruhnya akan diangkat ke darat. Estimasinya, bisa menertibkan 4.000 unit per tahun,” jelas dia.

    Dia kembali menegaskan, penertiban KJA ini dianggap mendesak. Sebab, saat ini waduk Jatiluhur telah tercemar limbah yang dihasilkan dari usaha budidaya ikan itu.

    Menurut dia, banyaknya KJA ini bukan saja dapat merusak ekosistem air danau Jatiluhur, tapi berdampak lebih luas terhadap sektor lain yang berkaitan erat dengan keberadaan danau dan bendungan Jatiluhur.

    “Air jatiluhur sudah semakin asam karena tercemar limbah dari kolam itu. Bukan hanya kualitas air, kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan pada turbin. Bahkan, dampak terparah dari limbah pakan itu bisa membuat korosi pada konstruksi bendungan,” tambah dia.

    Makanya, sambung dia, keberadaan KJA harus segera diminimalisasi. Karena, selain berdampak pada menurunya kualitas air untuk konsumsi, juga paling parah menyebabkan korosi (karat) peralatan pembangkit di bendungan utama Jatiluhur. [ito]