• Relawan Emil Sampaikan Permohonan Maaf

    Oleh : Ghiok Riswoto05 September 2017 20:30
    KRITIKAN Sejumlah kalangan terhadap aksi pemasangan alat peraga kampanye bergambar Ridwan Kamil yang dinilai tidak mengindahkan lingkungan direspon cepat para relawan Emil. Selain menyampaikan permohonan maaf, relawan Emil juga mengapresiasi kritikan dan saran tersebut.

    Respon cepat ditunjukan relawan Ridwan Kamil terkait kritikan yang disampaikan sejumlah kalangan baik di media massa maupun medsos atas aksi pemasangan alat peraga kampanye bergambar Ridwan Kamil yang dipaku dipohon.

    Selain menyampaikan permohonan maafnya, para relawan tersebut juga memastikan tidak akan ada lagi kejadian serupa. Terlebih, tim relawan sebenarnya sudah menetapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) pemasangan alat peraga sosialisasi baik itu spanduk, poster maupun baliho.

    Juru Bicara Relawan Ridwan Kamil, Ramram Muhammad mengungkapkan, merespon pemberitaan di media massa maupun media sosial mengenai alat peraga sosialisasi bakal calon Gubernur Jabar Ridwan Kamil, pihaknya menghaturkan permohonan maaf atas kejadian tersebut.

    "Dengan segala kerendahan hati kami menyampaikan permohonan maaf. Dan kami sangat berterima kasih atas masukan semua pihak yang telah mengingatkan petugas kami di lapangan agar tidak memasang alat peraga kampanye di pohon. Ini masukan yang sangat berharga bagi kami," ungkapnya.

    Ramram juga mengaku sangat mengapresiasi antusiasme tim lapangan serta sangat berterima kasih terhadap kritikan dan masukan semua pihak yang telah mengingatkan petugas pemasang poster yang dipaku di pohon di beberapa daerah seperti di Purwakarta beberapa waktu lalu.

    "Kami sampaikan permohonan maaf dan sangat berterima kasih atas masukan semua pihak yang telah mengingatkan petugas kami yang memasang poster-poster dengan dipaku di pohon-pohon. Saat ini poster-poster tersebut telah kami cabut," ungkap Ramram dalam siaran persnya kepada INILAH KORAN, Selasa (5/9)

    Ramram menegaskan, relawan Ridwan Kamil saat ini sudah menetapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait pemasangan alat peraga sosialisasi baik itu berupa spanduk, poster maupun baliho yang diantaranya tidak boleh dengan cara dipaku di pohon. Bahkan menurut Ramram, Ridwan Kamil secara pribadi juga telah mengingatkan relawan untuk tidak memasang alat peraga sesuai SOP.

    "Pak Ridwan Kamil secara pribadi juga sudah berulang kali mengingatkan dan bahkan sudah menegur langsung tim relawan dan tidak meminta agar tidak mengulanginya lagi. Insya Allah ke depan tidak akan terjadi lagi aksi-aksi seperti itu," ujar Ramram.

    Seperti diberitakan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat menemukan sejumlah alat peraga kampanye yang tidak mengindahkan lingkungan hidup, salah satunya alat peraga bergambar sosok Walikota Bandung Ridwan Kamil.

    Ketua Walhi Jabar Dadan Ramdan menuturkan, pihaknya menemukan alat peraga kampanye Ridwan kamil yang dipaku di pohon. Selain Ridwan Kamil, hal yang sama dilakukan oleh Agung Suryamal Soetisno.

    "Ini jelas melanggar dan itu indikator tidak ada komitmen dalam menjaga lingkungan hidup,” tegasnya.

    Ia menyebutkan, pemasangan alat peraga kampanye seperti spanduk dan baliho yang dipaku di pohon adalah hal yang bertentangan dengan semangat menjaga lingkungan. Terlebih, pohon pun adalah mahluk hidup yang mesti dilindungi.

    "Kami menolak para kandidat yang menempelkan alat peraganya di pohon-pohon, atau tempat umum yang tidak dibolehkan aturan. Selain melanggar Peraturan revisi KPU 7/2015 Tentang Pemasangan Alat Peraga, itu juga bisa merusak lingkungan dan estetika kota," katanya.

    Dengan pertimbangan tersebut, Walhi mengimbau masyarakat untuk tidam memilih calon gubernur Jawa Barat yang tidak memiliki komitmen terhadap perbaikan lingkungan.

    Menurut Walhi, perilaku kampanye bakal calon kepala daerah akan sangat mencerminkan bagaimana visi pembangunan wilayah ke depannya. Jika dalam kampanyenya sudah melakukan perusakan-perusakan seperti memaku alat peraga kampanye pada pohon, maka komitmen pembangunannya terhadap lingkungan patut dipertanyakan.

    "Jika alat peraga sosialisasinya merusak lingkungan dan estetika kota, calon bersangkutan tidak memiliki komitmen yang baik terhadap lingkungan,” tuturnya.(dea a/ghiok r)