• Headline

    Debit Air di Sejumlah Bendungan Jabar Menyusut

    Oleh : Dea Andriyawan13 September 2017 13:42

    INILAH, Bandung - Kemarau panjang di Jawa Barat tidak hanya berakibat pada kelangkaan air bersih di sejumlah daerah, juga mengakibatkan penurunan debit air di bendungan- bendungan, seperti yang terjadi di Bendungan Jati Gede dan Cileunca.

    Kepala Dinas PSDA Jawa Barat Nana Nasuha mengakui berdasarkan informasi yang dia miliki, memang terjadi penurunan debit air yang merata di bendungan yang ada di Jawa Barat. Namun Nana menilai penurunan debit air yang terjadi tidak terlalu berpengaruh pada suplay air untuk keperluan pengairan khususnya untuk kegiatan pertanian sawah.

    "Bendungan lainnya juga terjadi penyusutan, in flow nya terjadi penyusutan, tapi out flow nya masih lumayan cukup besar, nah seperti contoh (Bendungan) Jati Dede, Jati Gede itu kalau in flow nya relatif kecil sekitar 5/6m kubik perdetik, tapi karena (Air) ditampung dulu di Jati Gede, saat dikeluarkan itu debitnya masih pada angka 25/26 m kubik perdetik untuk memenuhi kebutuhan air irigasi," ungkap Nana, saat di hubungi, di Bandung, Rabu (13/9/2017).

    Nana menjelaskan, penurunan permukaan air di sejumlah bendungan pada saat kemarau memang menjadi hal yang wajar, karena air dari sungai yang mengalir ke bandungan pun kecil.

    Dampaknya pun untuk saat ini menurut Nana tidak terlalu parah, hanya sedikit saja lahan pertanian sawah yang tidak terairi jika dibanding dengan jumlah total lahan pertanian yang ada di Jawa Barat.

    "Musim kemarau itu rasionya sangat besar, oleh karena itu debit-debit air yang mengalir di sungai pun betul-betul relatif kecil," jelasnya.

    Ia menuturkan, dengan pola tanam yang telah ditentukan, dinilai akan mampu meminimalisasi risiko gagal tanam yang akan dialami petani dalam aktifitas pertaniannya.

    "Daerah bendungan selama luas tanam mengikuti pola tanam yang sudah ditetapkan insyaAllah aman, kita itu ada pola tanam, kalau dalam musim tanam satu itu biasanya 100 persen, musim tanam dua masih bisa 100 persen, paling di musim tanam tiga itu jelas tidak 100 persen," ungkap Nana.

    Pihaknya pun saat ini terus melakukan penanganan terhadap kondisi kekeringan di lapangan, salah satunya adalah dengan menggelar operasi jaringan irigasi untuk mempertahankan pemanfaatan air.

    Operasi Jaringan Irigasi adalah upaya membagi aliran air yang keluar dari setiap bendungan kepada masing-masing daerah, atau dengan kata lain melakukan interval pengaliran air.

    "Kita dalam kekeringan ini melakukan operasi, jadi katakan lah ditingkat jaringan utama dibagi sistem golongan, jadi ada jeda waktu, golongan satu, dua, tiga dan seterusnya, " ungkapnya.

    Sementara itu, ia menuturkan, daerah di Jawa Barat yang paling merasakan dampak musim kemarau adalah di daerah Utara Jawa Barat seperti Indramayu dan sekitarnya.

    " Daerah Jabar yang paling terdampak, yang paling terdampak seperti Indramayu, walaupun ada kekeringan sifatnya masih ringan, tidak terlalu besar masih sekitar 3000an hektare, tapi tidak parah, hanya ringan, sedang, tidak sampai pada gagal panen," pungkasnya.

    Sebelumnya, data yang dirilis oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar, delapan daerah di Jawa Barat berstatus siaga darurat kekeringan, yakni Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Sukabumi, Kota Banjar, dan Kota Tasikmalaya.

    Kemudian jumlah kecamatan yang terdampak adalah 176 kecamatan, 496 desa, dan 936.328 jiwa. [jek]



meikarta.. the world of ours