• Pembudidaya Garam Kejar-kejaran dengan Hujan‎

    Oleh : Asep Mulyana14 November 2017 16:23
    INILAH, Karawang - Pembudidaya garam di Kabupaten Karawang terpaksa harus mempercepat masa panen mMengingat musim panen di akhir tahun ini berbarengan dengan datangnya hujan. Lambat sedikit, bisa-bisa hasil budidaya rusak ‎dihantam air hujan.

    Ketua Forum Komunikasi Kelompok Usaha Garam Rakyat (FK Kugar) Kabupaten Karawang, Aep Suhardi mengaku telah mendorong pembudidaya lebih cekatan. Hal itu supaya, garam yang siap panen tidak rusak tertimpa air hujan.

    "‎Istilahnya kami harus kejar-kejaran dengan hujan. Supaya, masih bisa menikmati panen garam‎," ujar Aep, Selasa (14/11/2017).

    Aep mengaku, masa panen garam ini telah berlangsung sejak Agustus lalu. Namun, memasuki panen di November ini berbarengan dengan musim hujan.

    Makanya, pembudidaya harus berlomba-lomba panen. Supaya garam tidak rusak oleh air hujan.‎

    Menurut Aep, musim panen saat ini pembudidaya sedang menikmati 'manisnya' harga garam. Pasalnya, harga sedang tinggi. Yakni, antara Rp 1.000 untuk garam kualitas rendah, Rp 4.000 per kilogram untuk garam dengan kualitas super.
    Sedangkan musim panen sekarang, lanjut Aep, rata-rata hasil yang diperoleh pembudidaya antara 40-60 ton per hektarenya. Jika dilihat dari hasil produksi tersebut, sambung Aep, memang hasilnya belum maksimal. Sebab, target hasil produksi selama musim panen mencapai 100 ton per hektarenya.
    Terkait luasan lahan garam di Karawang, Aep menuturkan tak seluas wilayah sentra garam lainnya. Pasalnya, luasannya hanya 250 hektare, tersebar di enam kecamatan wilayah pesisir. Meskipun, areal ladang garamnya minim, akan tetapi produksi garam di wilayah ini mampu menopang sebagian kebutuhan lokal akan garam. [ito]