• Puluhan TKI Indramayu Terkena Masalah

    Oleh : erika13 Maret 2018 17:02
    INILAH, Cirebon- Puluhan tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Indramayu diketahui terkena masalah saat bekerja di luar negeri sejak awal tahun ini.

    Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Kabupaten Indramayu mendata, setidaknya 24 kasus menimpa TKI Indramayu. Jumlah itu dimungkinkan bertambah mengingat tak sedikit laporan diterima otoritas terkait di luar SBMI maupun yang tak dilaporkan.

    "Dari laporan keluarga TKI yang masuk ke SBMI, ada sekitar 24 kasus yang menimpa TKI. Itu belum termasuk yang dilaporkan ke dinas terkait dan yang tak dilaporkan," terang Ketua SBMI Indramayu, Juwarih, Selasa (13/3).

    Dia membeberkan, beragam masalah yang dihadapi para TKI di antaranya hilang kontak, masa kerja melebihi kontrak, sakit, hingga depresi.

    Menurutnya, timbulnya berbagai problem yang menimpa TKI di luar negeri salah satunya akibat pengawasan yang minim dari pemerintah.

    Salah satu kasus TKI di antaranya menimpa Dastin binti Tasja (30), warga Blok H Sarpin RT 05 RW 01, Desa Juntikedokan, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu.

    Pihak keluarga melaporkan kehilangan kontak dengan Dastin kala yang bersangkutan bekerja menjadi pekerja rumah tangga (PRT) di Amman, Yordania, sejak 13 tahun terakhir.

    "Anak saya sudah 13 tahun tak ada kabar beritanya, kami tidak tahu dia dalam kondisi baik atau tidak," ungkap ayah kandung Dastin, Tasja.

    Dia menyebutkan, Dastin berangkat ke Yordania sejak 25 Maret 2005. Dia direkrut seorang sponsor asal Desa Juntikedokan, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, bernama Junaedi. Dastin diberangkatkan melalui PT Safarindo Insan Copar via PT Avida Avia Duta yang beralamat di Jalan Abdurrahman Nomor 17, Kelurahan Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur.

    Sementara agensi yang menempatkan Dastin diketahui Rolla Gerent - Al Mucu YTA - Zahroon Regiyon di Amman, Yordania. Dastin ditempatkan di rumah majikannya di PO Box 132, Deater Mimi Cipality, Amman, Yordania.

    Tasja mengungkapkan, enam bulan pertama bekerja di Amman, Dastin pernah mengirimkan uang Rp3 juta. Namun kemudian, bahkan kabarnya pun tak pernah lagi diterima keluarganya.

    Sang ibu, Wastinah berharap pemerintah pusat maupun daerah bisa membantu menemukan dan memulangkan anaknya. Dia mengaku merindukan putrinya itu.

    "Kangen, ingin sekali bertemu dengan anak saya," tuturnya.

    TAG :


    Berita TERKAIT