• Headline

    Lapas Cirebon Pilih Dinginkan Suasana Ketimbang Cari Provokator

    Oleh : erika22 Maret 2018 18:26
    fotografer: Erika Lia Lestari
    Kepala Lapas Cirebon, Heni Yuwono
    INILAH, Cirebon- Pasca tawuran ratusan warga binaan, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1 Kesambi, Kota Cirebon, memfokuskan diri pada pendinginan suasana. Pencarian provokator dikesampingkan sementara waktu.

    Kepala Lapas Cirebon, Heni Yuwono menyatakan, kondusivitas di dalam lapas lebih diperlukan pasca tawuran. Untuk ini, pihaknya akan merangkul warga binaan dengan mengintensifkan diskusi demi mengetahui akar permasalahan.

    "Kami upayakan pendinginan suasana dulu, tidak buru-buru mencari provokator (tawuran)," cetusnya, Kamis (22/3).

    Pihaknya bahkan belum pula menyiapkan tindakan bila kelak provokator tawuran diketahui. Namun begitu, penjagaan di lapas saat ini diperketat. Sedikitnya 43 calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang sedianya masih dalam tahap orientasi dan pengenalan lapangan, kini dilibatkan pada tim pengamanan di dalam lapas.

    Di luar tenaga CPNS, sedikitnya tujuh anggota Polres Cirebon Kota pun diterjunkan untuk berjaga di luar lapas. Biasanya, lapas dijaga sepuluh orang tenaga pengamanan.

    Selain itu, pihaknya juga tengah mengusahakan perbaikan CCTV yang rusak oleh teknisi. Akibat tawuran, empat dari 19 unit CCTV yang ada di dalam lapas rusak.

    Dia menyebutkan, Lapas Cirebon dihuni sekitar 878 warga binaan dengan beragam kasus, seperti narkotika, tipikor, dan umum, yang menempati total sembilan blok. Dari jumlah itu diketahui 11 di antaranya merupakan terpidana hukuman mati yang masing-masing menempati satu kamar dan eksekusinya tengah menanti perintah Kejaksaan Agung. Di luar itu, terdapat pula tiga teroris yang dipisahkan dari terpidana lainnya.

    Terkait kebijakan penambahan pesawat telepon khusus bagi warga binaan, Heni mengaku telah muncul kesepakatan di antara pejabat struktural lapas. Rencananya, pada tiap blok besar yang rata-rata dihuni 300 orang, akan disediakan tiga unit pesawar telepon khusus. Sementara, pada blok kecil akan disediakan 1-2 unit.

    "Kami sedang proses dan mencari provider yang bisa memenuhi kebutuhan ini (terutama memberi harga murah)," katanya.

    Dia pun menegaskan, kepemilikan telepon seluler (handphone) oleh warga binaan tetap dilarang sesuai aturan. Razia sendiri pun akan tetap dilaksanakan sebagaimana ketentuan yang berlaku. Dia mengklaim, warga binaan pun sesungguhnya memahami hal ini sebagai kewajiban petugas.

    Dia memastikan, tawuran warga binaan murni didasari keberatan razia oleh petugas yang dilakukan setiap hari, tanpa isu lain semisal pungutan liar. Kalaupun ada isu lain, hanyalah aspirasi berupa kapasitas berlebih. Soal ini, imbuhnya, semua lapas di Indonesia mengalami problem sama sehingga belum ada pembicaraan mengenai opsi pemindahan warga binaan.

    "Ada dua jenis razia, rutin dan insidentil. Kami pun menggelar razia ketika sudah dapat informasi A1 ada barang terlarang di dalam lapas," jelasnya.

    Menurutnya, barang terlarang seperti handphone yang dimiliki warga binaan diperoleh dengan cara dilemparkan dari luar dinding lapas. Pelemparan dilakukan saat siang hari atau malam hari, di mana rata-rata penghuninya tengah berada di kamar masing-masing.

    Karena itu, pihaknya memperkuat pengamanan di pos-pos pantau yang terdiri dari empat pos dengan dukungan CCTV di tiap pos. Selain itu, pihaknya juga menutup akses jalan umum di sekeliling lapas pada jam-jam tertentu, khususnya malam hari.

    Lebih jauh dia menyebut, tawuran itu menjadi bahan introspeksi diri dalam memberi pelayanan yang lebih baik bagi warga binaan. Kepada publik, khususnya keluarga warga binaan, dia pun mengumumkan kunjungan sudah bisa dilakukan pada Kamis (22/3). Kunjungan sempat ditiadakan pada Rabu (21/3) saat tawuran.

    "Kamis ini suasana lapas sudah lebih kondusif, kegiatan pun sudah berjalan seperti biasa. Kunjungan sudah bisa dilakukan," tuturnya.[jek]

    Tags :
    # #


    Berita TERKAIT