• Headline

    KPAI Menduga Ada Dalang Dibaik Tawuran Pelajar SD

    Oleh : Asep Mulyana22 April 2018 11:26
    INILAH, Purwakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Kabupaten Purwakarta, mensinyalir ada dalang dibalik rencana 15 pelajar SD yang diduga hendak tawuran pada Jumat (20/4/2018) kemarin.

    "Kami tidak yakin, kalau anak-anak ini melakukan prilaku yang menyimpang seperti itu atas kemauan sendiri. Kami menduga, ada faktor lingkungan yang mempengaruhi," ujar Ketua KPAI Kabupaten Purwakarta, Nur Aisyah Jamil, saat ditemui di kediamannya akhir pekan kemarin.

    Aisyah berpendapat, sangat sulit dipercaya jika anak belasan tahun ini memiliki inisiatif membawa senjata tajam. Dia menduga, ada keterlibatan orang dewasa yang sengaja memberi mereka barang berbahaya itu.

    "Tidak mungkin anak belasan tahun ini, punya rencana untuk melakukan tindakan yang menyimpang seperti itu. Bisa jadi ada yang mendukung atau memfasilitasi," jelas dia.

    Menurut Aisyah, anak-anak seusia mereka tengah memasuki tahap pertumbuhan untuk mencari aktualisasi diri. Sehingga, ketika ada yang mendukung, otomatis secara tidak langsung mendorong rasa keingintahuan mereka. Meskipun, hal itu merupakan prilaku menyimpang.

    "Seumuran mereka, itu sedang mencari jatidiri. Makanya, prilaku negatif sekalipun pasti akan mereka kerjakan. Karena sedang mencari jatidiri, mereka pun akhirnya butuh pengakuan, Saya nih jagoan, semua orang harus paham saya hebat karena saya bawa golok. Dan itu, mengindikasikan bahwa ada orang dewasa yang memfasilitasi," jelas dia.

    Dia menegaskan, fokus jajarannya pasca kejadian ini, yakni mencari tahu sumber yang memfasilitasi senjata tajam kepada mereka. Kemudian, melakukan upaya pemulihan mental anak-anak tersebut. Termasuk, melakukan pendampingan hukum.

    "Orang yang memfasilitasi mereka ini yang harus pertama dibidik," tegas dia.

    Dia menambahkan, anak-anak itu harus diisolasi dulu. Supaya, mentalnya bisa pulihkan. Ini menjadi tugas KPAI itu bagaimana memulihkan mental mereka. Supaya, mereka mampu beradaptasi kembali dengan lingkungan dan bagaimana mereka bisa melakukan tugasnya sebagai anak-anak.

    "Mereka harus mendapatkan haknya, hak pendidikan, hak perlindungan hukum, hak damai. Dan saya tidak mau orang lain membulat mereka, karena itu akan membuat trauma berkepanjangan," tegas dia.

    Dalam hal ini, pihaknya pun sedikit menyayangkan perlakuan pihak kepolisian sesaat setelah mengamankan para pelajar ini. Seharusnya, perlakuan yang diberikan kepada anak-anak ini tidak mesti disamakan dengan orang dewasa.

    "Untuk kepolisian, mungkin ada beberapa hal yang harus dianalisisa ya. Anak-anak ini, harus mendapat penegakan hukum yang tidak disamakan dengan orang dewasa. Hal ini untuk menjaga sisi psikologi mereka," seloroh dia.

    Pendapatnya ini bukan tanpa alasan. Karena, sesaat setelah diamankan anak-anak ini diduga mendapat hukuman yang mendownkan mental mereka. Seperti ditelanjangi dan disuruh mengacungkan senjata tajam yang mereka bawa.

    "Walaupun mereka ini diindikasikan akan melakukan kejahatan, saya berharap polisi mampu melihat situasi mental anak-anak tersebut. Seperti apa ketika ditelanjangi, seperti apa ketika dia bawa golok dan goloknya harus diacungkan. Itu pasti emosi mereka terpuruk," jelas dia.

    Karena, pihaknya yakni ketika dibawa ke kantor kepolisian saja, mental anak-anak ini sudah sangat down. Beban mental mereka akan semakin berat, apalagi mereka akan menghadapi ujian. Artinya, ini menjadi pukulan yang sangat berat untuk mereka.

    "Makanya, ini menjadi tugas kami bagaimana memulihkan kondisi mental pelajar tersebut," pungkasnya.[jek]

    Tags :
    # #


    Berita TERKAIT