• Headline

    Pimpinan UN Swissindo Diduga Palsukan Sertifikat BI

    Oleh : erika19 Agustus 2018 14:37
    INILAH, Cirebon- Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Subdit Pajak dan Asuransi Bareskrim Mabes Polri diketahui telah mengamankan pimpinan UN Swissindo, Sino Sugiharto Noto Negoro alias M1 (Master One). Sino diduga telah membuat dan menggunakan sertifikat Bank Indonesia (BI) palsu.

    Kepala Subdit Pajak dan Asuransi, Kombes Pol T Widodo Rahino dalam rilisnya melalui Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon menyampaikan, Sino diduga telah melanggar Pasal 263 KUHP.

    "Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan seolah-olah sejati, bila pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian," tuturnya.

    Dugaan pelanggaran hukum terhadap Sino setelah Bareskrim Polri melakukan penyidikan terhadap sekitar 35 orang sebagai saksi. Ke-35 saksi itu meliputi saksi dari BI, BRI, BNI, BCA, Mandiri, CIMB Niaga, dan Bank Danamon, saksi dari para nasabah dan relawan UN Swissindo perwakilan Lampung, Kudus, Jambi, Cirebon, Kuningan, Purwokerto, dan Jakarta, pengurus UN Swissindo Pusat, maupun tersangka Sino selaku pimpinan UN Swissindo.

    Selain memeriksa saksi-saksi, pihaknya juga menyita sejumlah dokumen. Di antaranya fotokopi struktur organisasi UN Swissindo Negara Indonesia, selembar fotokopi sertifikat BI, dan lainnya.

    "Dari pemeriksaan saksi-saksi, UN Swissindo merupakan suatu komunitas yang mengklaim diri punya tujuan sebagai pengemban misi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dengan menyatakan kepemilikan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). SBI ini diklaim sebagai jaminan pelunasan utang dan tunjangan seumur hidup seluruh rakyat Indonesia," jelasnya.

    Menyebut diri sebagai pimpinan UN Swissindo Dunia, Sino menginformasikan kepada para 'pengikutnya', lima benua tergabung dalam komunitas ini, yakni Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia. Para relawan UN Swissindo pun telah menyebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.

    Dengan mendasarkan pada SBI, UN Swissindo menawarkan sejumlah progam, salah satunya pelunasan beban utang. Dalam program ini, siapapun bebas dari beban utangnya bila memiliki utang dengan akad kredit di bawah 4 Februari 2016 dan besaran utang maksimal Rp2 miliar/kepala.

    Caranya, debitur memenuhi persyaratan administratif, ditambah memberikan uang administrasi dengan besaran variarif mulai Rp100 ribu hingga Rp500 ribu. Debitur pun dipersilakan mengurus sendiri dokumen surat pembebasan utang (SPBU), di mana pengurus hanya menyontohkan dan tak dipungut biaya.

    Program lain berupa tunjangan hidup di mana anggotanya dijanjikan memperoleh jaminan hidup sekitar Rp15 juta/bulan seumur hidupnya. Selain menunjukkan surat identitas, anggotanya disyaratkan membayar biaya cetak.

    Pada 17 Agustus 2017, UN Swissindo mengklaim akan memberi kado kemerdekaan. Para penerima voucher M1 diminta meregistrasi ke Bank Mandiri terdekat demi memperoleh buku tabungan dan kartu ATM.

    Namun, pihak Bank Mandiri menolak registrasi maupun permintaan membuat buku tabungan serta ATM. Pihak Bank Mandiri pun menyatakan tak berhubungan dengan UN Swissindo.

    Rupanya, tak hanya Bank Mandiri, bank lain seperti BRI, BNI, CIMB Niaga, maupun Danamon, pernah menerima orang-orang yang mengaku relawan UN Swissindo dan mengajukan pembebasan utang serta jaminan hidup. Bank-bank ini pun telah menegaskan tak berkaitan dengan UN Swissindo. Program UN Swissindo sendiri telah menyebabkan macetnya pembayaran kredit/pinjaman di bank-bank bersangkutan.

    Sementara, BI sendiri sebelumnya telah menyatakan sertifikat yang dimiliki UN Swissindo palsu. BI memastikan tak pernah mengeluarkan sertifikat tersebut.

    Widodo menyatakan, kepada penyidik, BI memberi keterangan, penerbitan dan penatausahaan Sertifikat Bank Indonesia secara tanpa warkat (scripless), telah mulai dilakukan sejak 2002 sebagaimana diatur dalam PBI Nomor 4/10/PBI/2002 tentang Sertifikat Bank Indonesia

    TAG :


    Berita TERKAIT