• Headline

    Tepis Mitos, Goa Sunyaragi Bertransformasi

    Oleh : erika20 Agustus 2018 21:33
    fotografer: Erika Lia Lestari
    Taman Air Goa Sunyaragi (TAGS) sejak lama dikenal sebagai salah satu objek bersejarah Kota Cirebon. Melalui Badan Pengelola TAGS, Keraton Kasepuhan Cirebon selaku empunya berjibaku mentransformasinya dari lokasi muram yang sekedar menjual mitos menjadi destinasi wisata yang ikonik dan elegan.

    TAIS di Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, dikenal sebagai bangunan terunik se-Asia Tenggara karena terbuat dari susunan karang laut yang dibangun sejak abad ke-16 dan abad ke-17. Kata Sunyaragi sendiri diambil dari dua kata terpisah, yakni sunya yang berarti sunyi dan ragi yang berarti raga.
    (foto: Erika Lia Lestari)

    Sesuai fungsinya, Taman Air Gua Sunyaragi dibangun sebagai tempat menyepi (bertapa) keluarga dan keturunan Kesultanan Cirebon. TAIS sendiri diketahui memiliki sepuluh gua, masing-masing Gua Pengawal, Pande Kemasan, Simanyang, Peteng, Langse, Arga Jumut, Padang Ati, Klangenan, Lawa, dan Gua Pawon.

    Selain kesepuluh gua itu, terdapat pula bangunan utama lain, masing-masing Bangsal Jinem yang menjadi bagian depan Taman Air Sunyaragi, Mande Beling, keputran/keputren sebagai area bermain putra dan putri raja di Balai Kambang dan Panggung Budaya, termasuk pintu kembar yang konon menembus ke Mekah dan Cina.

    Sebagai salah satu situs bersejarah, mitos pun melekat pada TAIS. Hingga beberapa tahun ke belakang, TAIS lebih banyak dikunjungi orang-orang yang mengkultuskannya setelah mendengar kisah-kisah di balik bangunan-bangunan di sana.

    "Setiap malam Jumat, Goa Sunyaragi ramai oleh orang -orang. Tapi mereka datang bukan untuk wisata, melainkan berdoa," ungkap Kepala Bagian pemandu Badan Pengelola Taman Air Goa Sunyaragi, Jajat Sudrajat.

    Pengkultusan semacam itu sesungguhnya disayangkan pihaknya. Namun, mereka tak bisa berbuat banyak.

    Di luar mitos yang melingkupinya, areal TAIS kala itu terbilang sangat minim pemeliharaan. Jajat menuturkan, selama setidaknya tiga tahun mengelola TAIS atas mandat Sultan Keraton Kasepuhan Sultan kala itu, Sultan Sepuh XIII Pangeran Raja Adipati Maulana Pakuningrat (bertahta dari 1969-2010), dirinya seolah menjadi 'pelanggan' aparat kepolisian.

    "Sering sekali saya dipanggil polisi untuk dimintai keterangan, gara-gara Goa Sunyaragi saat itu identik sebagai tempat mesum," ungkapnya.
    (foto: Erika Lia Lestari)

    Masa itu, Goa Sunyaragi yang berlokasi di tepi jalan raya tak memperoleh penerangan yang cukup. Keremangan, yang bahkan mendekati kegelapan, menjadikannya sebagai arena empuk aktivitas negatif seperti mabuk, berjudi, hingga tempat mesum.

    Jajat mengaku, mengupayakan perubahan Goa Sunyaragi dengan melaporkannya kepada sultan. Menurutnya, mengubah pola pikir publik sendiri pun tak mudah. Dalam upaya perubahan imej TAIS, dia harus berhadapan dengan warga yang mencari nafkah dengan menjual minuman keras, kondom, dan sejenisnya.

    "Sekitar 1997 TAIS diubah jadi lokasi yang menjual mitos menjadi tempat wisata bersejarah. Kami rekrut penjaga malam dan petugas kebersihan," katanya.

    Pemberlakuan tiket masuk bagi para pengunjung pun dilakukan, setelah sebelumnya hanya bersifat sukarela untuk kebersihan TAIS. Sekitar 2000, setiap pengunjung dikenakan bea masuk Rp2 ribu.

    Pembenahan terus dilakukan hingga pada 2014 dilakukan revitalisasi yang bersumber dana dari pemerintah pusat. Bersamaan dengan itu, dibukalah Tol Cipali yang dipandang sebagai potensi untuk meningkatkan tingkat kunjungan ke TAIS. Pasca pembenahan di banyak hal, bea masuk pun ditingkatkan menjadi Rp10 ribu.

    Jajat mengemukakan, bila menjual mitos, TAIS akan menjadi bukan apa-apa. Melalui serangkaian pembenahan hingga kini, TAIS pun bertransformasi menjadi lokasi bersejarah yang kekinian. Selain sebagai objek penelitian, TAIS pun sekarang menjadi objek wisata yang ramai dikunjungi banyak kalangan.

    "TAIS sekarang banyak dikunjungi keluarga dan anak-anak muda yang ingin berfoto untuk dipamerkan di media sosial. Selain untuk foto-foto, ada juga yang datang kemari karena ingin tahu sejarahnya," papar Jajat.

    Balai Bahasa Jawa Barat (BBJB) pun mengganjar Goa Sunyaragi untuk menerima Anugerah Kawistara Ramah Berbudaya sebagai Pengguna Bahasa Indonesia Terbaik Dalam Rangka Pemartabatan Bahasa Negara di Ruang Publik oleh Wali Kota Cirebon, Nashrudin Azis, pada Oktober 2016.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT