• Headline

    Melihat Pembuatan Koreo Saat Persib Bertanding

    Oleh : Rianto Nurdiansyah24 Mei 2018 09:30
    INILAH, Bandung-Mungkin bobotoh sudah tidak asing dengan Creative Division 33. Namun tentunya masih ada pula yang belum mengenal sekumpulan pengemar Persib Bandung yang memiliki cara tersendiri dalam memberikan dukungan ini.

    Bobotoh memang lazimnya hanya memberikan dukungan kepada Maung Bandung di hari pertandingan saja. Namun tidak seperti itu yang dilakukan oleh Creative Division 33. Bahkan tak jarang satu pekan menjelang laga, mereka sudah mempersiapkan sekaligus memikirkan cara memberikan totalitas dukungan yang paling yahud.

    Jika bobotoh pernah melihat bahkan dibuat merinding oleh pertunjukan Koreografi 3D (tiga dimensi) yang ditampilkan di Tribun Timur laga kandang Persib. Ya, itulah karya mereka.

    "Creative Division ini yang buat saya dan mulai berjalan musim (2018) ini," ujar salah seorang pendiri Creative Division 33, Bobi Jaelani, Rabu (23/5).

    Setidaknya ada 5 hingga 10 bobotoh yang konsisten bergabung dengan kelompok ini. Menurut Bob, jumlah tersebut akan lebih produktif jika dibandingkan 100 orang namun tidak ikut bergerak membuat karya.

    "Sekarang daripada yang membantu 100 orang tapi enggak kerja, ya lebih baik hanya 5 orang yang kerja," katanya.

    Latar belakang mereka tak seluruhnya bergerak dibidang seni. Walaupun memang banyak dibantu oleh mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yang ikut ambil bagian setiap kali Creative Division 33 menggagas koreografi.

    "Tapi ada juga dari bobotoh umum, mereka enggak ada basic gambar atau melukis. Modalnya cuma niat saja dan rela cape," katanya.

    Bobotoh memang haram hukumnya bilamana membahas soal pengorbanannya tatkala mendukung Maung Bandung. Namun begitu banyak suka duka Creative Division 33 selama mempersembahkan karya untuk menyemangati skuat kebangaannya.

    Lupa waktu makan dan tidur karena pengerjaan koreo selalu memakan waktu hingga larut, sudah biasa dialami mereka. Belum lagi ketika turun hujan hingga membuat karya mereka sulit rampung. Mengingat cat dan kain memang masih menjadi media utama, khususnya untuk koreo 3D.

    "Tapi kalau koreo berhasil, anak-anak 'ajret-ajretan' karena senang. Apalagi yang bertugas di bawah lorong (stadion), walaupun mereka gak bisa melihat pertandingan," paparnya.

    Waktu dan tenaga sudah pasti dibutuhkan setiap kali mereka mengejakan koreografi. Soal minimnya dana, rupanya bukan halangan dalam membuat kreasi. Pada beberapa kesempatan, Creative Division 33 hanya mengandalkan bahan-bahan bekas.

    Seperti untuk koreogradi 3D yang ditampilkan pada laga Persib kontra PSM Makassar di Stadion GBLA, Kota Bandung, Rabu (3/5) Malam. Di mana dalam waktu hanya satu hari kelompoknya membuat koreografi 3D yang tak sebatas dukungan kepada tim. Namun menyangkut pula isu nasional, menyinggung tragedi bom yang juga sempat mengganggu agenda Persib di Liga 1 2018. Yaitu ketika hendak melawat ke markas Persebaya Surabaya, pekan lalu.

    "Untuk pertunjukan (koreogeafi) kali ini paling rekor. Karena diguyur hujan terus, terus dana juga enggak ada. Jadi kami mengumpulkan bahan-bahan sisa, seperti kain dan cat," paparnya.

    Bob sampaikan, paling sederhana koreo 3D bisa menghabiskan dana hingga 5 juta. Namun ada satu kesempatan hingga merogoh angka Rp 50 juta. Nominal tersebut memang cukup masuk akal, lantaran sama halnya seperti mewarnai Tribun Timur stadion yang luas dengan cat dan menutupnya menggunakan kain.

    Namun Bob belum kepikiran menjalin kerjasama dengan pihak sponsor untuk setiap karya mereka ke depan. Padahal tim kebangaanya disokong oleh salah satu produk cat. Kata dia, lebih baik memaksimalkan sumber daya bobotoh yang ada saja.

    "Ditakutkan kalau dari sponsor ada keterbatasan dalam membuat karya. Karena yang dicari oleh kita bukan materi, tapi kepuasan batin buat mendukung Persib dengan cara begini juga Alhamudulillah sudah senang," pungkasnya.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT