• Ciomas Mengejar Cibaduyut

    Oleh : Admin Inilahkoran03 Januari 2017 18:00
    CIOMAS itu lebih fenomenal ketimbang Cibaduyut. Tapi itu dulu. Tak sulit bagi kampung kecil di Kabupaten Bogor itu mengejar sentra industri alas kaki Kota Bandung itu jika mau.

    Hampir seluruh hidup Asep Junaidi dihabiskan di Ciomas. Tepatnya dalam industri dan perdagangan alas kaki. Sejak berusia 11 tahun, dia sudah belajar membuat sepatu. Kini, usianya sudah 54 tahun. Artinya, sudah 43 tahun dia bergelut di dunia yang sama.

    Dia yang jadi salah satu saksi hidup sejarah industri alas kaki Ciomas. Dia pula yang mengurut dada saat Ciomas kemudian disalib Cibaduyut, sentra produksi alas kaki di Kota Bandung.

    Kini, dia berharap Pemerintah Kabupaten Bogor belajar dari sejarah itu. Pemkab, menurutnya, kudu mengambil kebijakan yang berpihak pada pelaku industri kecil menengah (IKM) dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).

    Kabupaten Bogor, menurutnya, punya potensi. Industri alas kaki Ciomas sudah terhitung puluhan tahun. Tapi, di era 1980-an, peran itu diambil alih Cibaduyut.

    “Kalau industri alas kaki di Ciomas itu sejak tahun 1930-an, sedangkan Cibaduyut baru menjadi daerah sentra industri sepatu sejak tahun 1980-an. Kami harap ada kebijakan Pemkab Bogor agar industri alas kaki Ciomas lebih maju dari saat ini,” ujar pemilik Asledr Shoes itu, Selasa (3/1).

    Dia mengakui, pengrajin Ciomas kalah kreatif dibanding Cibaduyut. Tapi, ketertinggalan itu bisa dikejar. “Hanya, kendala besanya adalah modal dan pemasaran. Saya saja modal sendiri, tanpa pinjam dari bank. Bunga bank cukup tinggi sehingga kami tak berani pinjam modal ke sana,” tambahnya.

    Ia berkeluh, maraknya impor sepatu dari China juga mempengaruhi keberlangsungan pengrajin lokal Bogor atau lainnya. “Pemerintah pusat jangan terlalu longgar dengan masuknya produk impor, khususnya dari China. Jujur, kalau untuk bahan imitasi, kita kalah bersaing harga karena bahannya kita beli dari mereka. Tapi kalau alas kaki berbahan kulit, harga kita bisa bersaing,” jelas Acep.

    Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Bogor Ilham Permana meminta Bupati Bogor Nurhayanti berani mengambil kebijakan, mewajibkan PNS maupun guru memakai sepatu buatan pengrajin lokal.

    “Tahun 2012 pernah digalakkan PNS diwajibkan memakai sepatu buatan pengrajin lokal. Kenapa sekarang tidak digiatkan lagi sebagai bagian solusi pemasaran produk IKM dan UMKM seperti sentra industri alas kaki ini,” kata Ilham.

    Selain kebijakan mewajibkan PNS dan pelajar memakai sepatu produk pengrajin lokal, Pemkab juga diminta untuk memberikan pelatihan manajemen dan pemasaran. “Jumlah pengusaha muda ditingkatkan dan mereka harus dibina mulai dari keterampilan, permodalan, manajemen hingga pemasaran. Pencetakan pengusaha muda ini harus digiatkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Pemuda dan Olahraga, dan Kamar Dagang Indonesia (Kadin),” tambah politisi Partai Golkar ini.

    Ilham melanjutkan, insan IKM dan UKM juga harus bisa memanfaatkan teknologi agar meluaskan wilayah pemasaran. “Kita bisa meniru online shopping Kementerian Perindustrian yaitu e-smart. Manfaatkanlah sosial media dan teknologi agar jangkauan pemasaran semakin luas,” pungkasnya. (ing)





meikarta.. the world of ours