• Headline

    Seru, Empat Menteri PKB Menjadi Petugas Nikah Massal

    Oleh : Daulat Fajar Yanuar25 Agustus 2017 18:54
    INILAH, Jakarta - Setiap sakit ragawi pasti memiliki obatnya masing-masing. Begitupula dengan penyakit yang merelungi jiwa-jiwa yang sedang jatuh cinta, obatnya yakni menikah.

    Menikah adalah impian setiap insan. Namun tidak semuanya berkemampuan untuk menyelenggarakannya. Bisa karena biaya ataupun mental. Tapi mental akan semakin terasah setelah menjalaninya. Tingginya biaya nikah memang bikin manusia jiper duluan.

    Untuk mengurangi beban biaya nikah warga tidak mampu sekaligus menekan angka jomblo nasional, Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) menggelar pernikahan massal bertajuk 'PKB Mantu' di Jakarta, Jumat (25/8).

    Sekretaris Jenderal DPP PKB Abdul Kadir Karding mengatakan perhelatan ini rutin diadakan sebanyak tiga kali dalam setahun. Dan sekarang sudah memasuki tahunnya yang ketiga.

    Pihaknya paham betul jika banyak masyarakat kelas menengah ke bawah yang tidak mampu melangsungkan pernikahan karena tingginya biaya. Sebab harus menggelar pesta dengan ratusan undangan serta beragam sajian makanan.

    "Ini bentuk kepedulian PKB kepada masyarakat yang ingin melangsungkan pernikahan tetapi tidak mampu secara finansial," kata Karding.

    Menariknya, PKB menugaskan para menteri-menterinya yang duduk di kabinet Indonesia Hebat pimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

    Ada empat menteri yang duduk di sana bertugas siang malam mengurusi negara dengan segala problematikanya. Mereka adalah Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi, Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, dan Menristekdikti Mohamad Nasir.

    Imam bertugas sebagai pemandu acara pernikahan massal yang menghadirkan 103 pasangan itu. Sedangkan Nasir berperan sebagai pembaca doa, Eko mewakili pengantin pria, dan Hanif sebagai perwakilan pengantin perempuan.

    Di awal pembukaan acara, Nasir mendoakan para pengantin supaya menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. "Saya doakan pengantin awet pernikahannya," kata Nasir.

    Sementara Eko yang mewakili keluarga pria berharap PKB dapat menyelenggarakan pernikahan massal ini di seluruh Indonesia. Pasalnya kegiatan ini sangat bermanfaat bagi keluarga yang tergolong tidak mampu.

    "Bapak-bapak dan ibu-ibu pengantin di sini juga berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah, ya. Saya harap PKB nanti dapat menyelenggarakan ini di seluruh desa," ujarnya.

    Bergantian, Hanif maju ke atas panggung berbicara mewakili keluarga perempuan. Disampaikannya pihak keluarga berjanji akan menjadi istri sekaligus ibu yang baik bagi rumah tangga yang akan dijalani.

    "Kami berjanji akan merawat pengantin pria dengan sebaik-baiknya," kata dia.

    Di akhir acara, Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar memberikan wejangan kepada para pengantin agar sabar dalam menjalani bahtera rumah tangga yang tidak selamanya manis seperti kisah drama Korea.

    Kata Cak Imin, panggilan akrabnya, menikah adalah sunnah dari Rosululloh SAW dan merupakan salah satu ibadah bernilai pahala tinggi. Dia berharap, ke depannya para pengantin baru tersebut dapat menjalankan ibadah besar lainnya seperti naik haji.

    "Semoga para kepala keluarga bisa memimpin rumah tangganya berdasarkan landasan agama Islam," katanya.

    Salah satu pasangan peserta nikah massal 'PKB Mantu' Nanang dan Neni mengaku sangat gembira dengan fasilitas yang diberikan kepada mereka. Menurut Nanang, semestinya acara seperti ini semakin banyak digelar karena signifikan dalam menekan biaya pernikahan.

    Nanang sore itu bak raja dalam satu hari. Meskipun tidak semeriah pernikahan pangeran dan putri kerajaan, namun bagi dirinya diarak sebagai pengantin dengan iringan tanjidor dan qosidahan khas Betawi sudah lebih dari cukup.

    "Kebantu banget buat orang seperti saya yang pekerjaannya sebagai tukang sapu jalanan. Selain dibantu mahar berupa uang sejumlah Rp 200 ribu, kami juga diberikan pakaian dan hadiah lainnya. Pokoknya senang," ucapnya. [jek]



meikarta.. the world of ours