• Kemendes Terus Melakukan Perbaikan Internal

    Oleh : Daulat Fajar Yanuar21 November 2017 20:28
    fotografer: net
    ilustrasi
    INILAH, Jakarta " Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) terus berupaya memperbaiki koordinasi internal agar terus dapat meningkatkan kapabilitas mereka sebagai departemen pemerintahan yang memiliki posisi strategis.

    Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo mengatakan belajar dari 2015 silam ketika kementeriannya mengalami kebocoran anggaran di sana-sini, dirinya terus menggenjot para pegawai mereka melalui serangkaian jenis pelatihan administrasi negara agar performa mereka dapat menjadi lebih baik.

    “Hasilnya, (dulu) penyerapan dana desa menjadi tidak maksimal. Makanya kita terus melakukan perbaikan internal kementerian,” kata Eko kepada wartawan ditemui di ruang kerjanya, Jakarta, Selasa (21/11).

    Dia menjelaskan, akibatnya pada 2015 yang lalu penyerapan anggaran Kemendes PDTT hanya mencapai 68% dan departemen yang berkantor di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, hanya menduduki peringkat 78 dari seluruh lembaga pemerintahan.

    Bahkan yang lebih parah lagi, Kemendes PDTT kala itu menyandang gelar tata kelola administrasi terjelek nomor dua dengan laporan keuangan versi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang gagal mencapai kepuasan yakni Wajar Dengan Pengecualian (WDP). “Alhamdulillah, kini kami patut bersyukur, penyerapan dana desa naik dari 82% menjadi 97%,” ujarnya.

    Ke depan, ujar Eko, Kemendes PDTT optimistis target pembentukan 7.000 desa mandiri bisa terwujud pada tahun 2019 mendatang, dengan rincian pengentasan 5.000 desa tertinggal dan 2.000 desa berkembang untuk ditingkatkan statusnya.

    Usaha tersebut memang belum melahirkan hasil yang signifikan terhadap penurunan angka kemiskinan di kawasan desa. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Maret 2017 yang lalu, penurunan angka kemiskinan di desa hanya mencapai 3,42% padahal dana desa yang digelontorkan pada tahun ini mencapai Rp 60 triliun.

    “Namun penurunan ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penurunan angka kemiskinan di kawasan perkotaan yang hanya mencapai 3%. Padahal kota didukung dengan infrastruktur yang lebih lengkap dibandingkan dengan desa,” kata Eko.

    Untuk menyiasati agar penurunan angka kemiskinan semakin meningkat, Eko mendorong Program Produk Unggulan Kawasan Pedesaan (Prukades) berdasarkan potensi sumber daya alam unggulan masing-masing desa agar roda ekonomi masyarakat terus bergerak.

    Faktor utama penyebab kemiskinan desa, kata Eko, adalah dikarenakan terbatasnya akses pasar yang mengakibatkan mahalnya biaya angkut, jeleknya infrastruktur, dan rusaknya produk karena tidak terdistribusikan.

    “Kami akan membawa dunia usaha yang sesuai ke desa-desa. Prukades juga membawa pasar masuk ke desa agar lebih fokus produksi dengan skala besar. Dunia usaha kita minta menyiapkan sarana dan prasarana pascapanen seperti angkutan transportasi dan tenaga pengolah produksinya,” pungkas Eko. (jul)

    Tags :
    # #


    Berita TERKAIT