• Headline

    Senjakala Keramik Kiaracondong, Antara Elpiji dan Pemasaran

    Oleh : Asep Pupu Saeful Bahri26 Maret 2018 10:25
    fotografer: Inilah/Asep Pupu SB
    INILAH, Bandung - Kerajinan keramik Kiaracondong begitu melegenda sejak lama, bahkan hingga menembus pasar dunia. Namun kini kondisinya memprihatinkan. Ongkos produksi kian tinggi seiring peralihan bahan bakar dari minyak tanah ke gas.

    Oma Rukman berkisah. Keramik Kiaracondong menapaki puncak kejayaannya pada empat dekade silam. Tak kurang dari 30 perajin berjejer sepanjang Jalan Stasiun Lama. Kini hanya lima sampai enam perajin saja yang masih bertahan memproduksi keramik.

    "Mulai berkembang tahun ‎1970-an dan itu sampai 30 pengrajin. Semua 30 dulu pake minyak tanah, terus pke gas karena naik terus jadi bangkrut," kata Oma, seorang perajin keramik yang masih bertahan hingga kini, saat berbincang beberapa waktu lalu.

    Oma merupakan generasi kedua perajin keramik Kiaracondong. Kakek berusia 74 tahun itu mewarisi keterampilan ayahnya. Kini dia pun sudah berusaha agar anaknya bisa meneruskan usaha produksi keramik ‎ini

    "Ayah saya Pak Itong Saputra,‎ kayanya ilmunya dapat setelah pulang dari Belanda kerja di gerabah. Sekarang anak yang nerusin udah mulai ada anak yang pertama dan kedua‎," ujarnya.

    Oma mengakui, saat ini produksi keramik Kiaracondong kalah bersaing dengan serbuan produk dari Tiongkok ‎lantaran menawarkan harga lebih murah. Dia juga kesulitan menekan harga jual mengingat ongkos produksi cukup tinggi.

    "Karena kita ingin mempertahankan kualitas. Kalau sama produk lain kualitas keramik kita berani diadu, kita lebih bagus," jelasnya.

    Untuk proses pembuatan keramik hiasan apabila menggunakan mesin cetak masih bisa dikejar satu hari sampai tuntas. Namun jika dicetak manual, harus menempuh waktu produksi selama dua pekan. Semua proses pengerjaan dilakukan secara manual oleh para pekerja.

    "Jadi kalau gerabah itu dibakarnya 1.000 derajat celcius dibakarnya, kalau keramik 1.200 derajat, dan ini kita lukis motifnya itu kaya batik, yang dicetak itu kalau pesanan souvenir atau pakai foto," dia menerangkan.

    Saat ini Oma biasa menjual hasil produksiannya mulai dari harga paling murah sebesar Rp2.500‎ untuk suvenir berukuran kecil, hingga guci dan hiasan ruangan yang lebih besar dijual dengan harga Rp1.250.000. "Satu bulan 50 juta juga itupun kotor," cetusnya.

    Selain ongkos produksi yang meningkat‎, menurut Oma, jalur distribusi juga kini semakin menyempit. Keramik buatannya paling tidak dipesan sampai Kanada atau Perancis. Sementara beberapa negara lainnya masih belum menyentuh langsung keramik Kiaracondong.

    Kelemahannya masih dari pemasaran yang belum sepenuhnya mendukung. "Jadi sekarang itu kita kirim ke Bali, terus dari Bali ini baru ke Amerika, karena tidak tahu ada di Bandung,"‎ dia menegaskan.

    ‎Harapan terbesar Oma sekarang ini agar harga gas elpiji tidak terus naik. Sebab, dia kesulitan jika harus menaikkan harga jual. Selain itu, dia juga tetap harus menjaga kualitas keramik Kiaracondong agar tetap diunggulkan.

    "Sekarang pakai gas mahal sampai 150 juga tapi tetap produksi. ‎Yang diharapkan gas aja jangan mahal, karena itu jadi bahan pokok‎," pungkasnya. [gin]


    Tags :
    # #


    Berita TERKAIT