• Narkolema

    Oleh : Abdullah Gymnastiar28 November 2016 09:11
    •  Share

    Saudaraku, Aa pernah membaca kisah tentang seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua orang anak. Dia seorang ibu yang baik, dalam rumah tangga yang baik pula. Kemudian dia berkenalan dengan internet, dan mulai tertarik terhadap obrolan-obrolan dan sesuatu yang tidak halal, sehingga dia terhanyut olehnya.

    Siang dan malam anak-anaknya menjadi tidak terurus, suaminya juga terabaikan. Suami yang menasehatinya tidak mau didengarkan. Sampai suatu saat suaminya hampir hilang kesabaran, dan akan membanting komputer yang sering dipakainya untuk membuka internet. Tetapi ia malah lebih marah lagi kepada suaminya. Akhirnya, mulailah ia mengadakan janji dengan lelaki lain, lalu berzina.

    Hasilnya, di mata anak-anaknya, perempuan ini menjadi ibu yang amat hina. Di mata orangtuanya, ibu ini menjadi anak yang durhaka. Di mata suaminya, ia sudah tidak ada nilainya. Setelah bercerai, ia pun jadi terhina di sisi siapa pun.

    Semua yang didapatnya itu akibat ia tidak bisa melepaskan diri dari kecanduan internet, terutama pornografi. Yang awalnya seorang ibu baik-baik, dalam waktu tidak lama berubah menjadi begitu hina. Kalau saja tidak kembali kepada Allah, dirinya pasti nelangsa.

    Dalam sebuah hadis qudsi riwayat Imam at-Tirmidzi, disebutkan bahwa Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, jika engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku ampuni dirimu. Bagaimana pun dosamu, Aku tak peduli, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sebesar bumi pula.”

    Nah, saudaraku. Kisah ibu ini hanya satu dari sekian kisah akibat wabah yang kini merebak dan merambat. Wabah yang sangat berbahaya ini adalah narkotik lewat mata (narkolema), atau kecanduan pornografi. Orang yang sudah terkena narkolema, sangat sulit keluar dari kecanduannya. Seperti kecanduan narkoba.

    Oleh sebab itu, mari periksa diri kita masing-masing. Misalkan di rumah kita ada internet atau wi-fi. Lalu di dalam kamar mulai mencoba melihat yang tidak halal, maka segeralah internet itu diputus atau dijual. Ganti dengan yang pakai kuota kecil, atau yang jaringannya lemot hingga akhirnya bikin kita eneg sendiri.

    Internet memang penting, tetapi internet menjadi tidak penting kalau dipakai maksiat. Coba periksa seberapa manfaat internet. Atau, jangan-jangan kita memasangnya di rumah karena berharap pujian orang. “Wah, rumah kamu keren, ada internetnya.” Padahal dipakainya juga untuk ngobrol di medsos. Apalagi kalau internetnya diam-diam mulai membuat penghuni rumah terjangkiti wabah narkolema.

    Selain internet, termasuk dvd. Lebih baik segera dijual, kalau sudah mulai terus-terusan ingin menyewa atau membeli kaset-kaset dvd. Banyak waktu dan uang kita yang bisa terbuang sia-sia. Jika sudah kecanduan dvd, nanti bisa mudah tertarik atau beralih menyewa di toko-toko yang gelap, dan akhirnya terkena narkolema.

    Seperti kalau di dalam kamar kita dipasang televisi, maka setiap malam inginnya menonton terus, sampai akhirnya acara yang tidak perlu juga ditonton. Karena itu lebih baik kita keluarkan televisinya dari dalam kamar, sebelum berangkat menjual dvd-nya. Uangnya nanti dipakai untuk yang lebih manfaat, atau sebagiannya disedekahkan.

    Saudaraku. Kita harus benar-benar menjaga diri dan keluarga kita dari wabah narkolema. Ada pun bagi saudara yang merasa agak terjangkiti, mari hentikan dan segera tobat. Mungkin ada pembaca yang berbisik sendiri, “Tapi Aa’, kemarin saya cuma melihatnya sekali saja, itu juga sebentar dan iseng kok.” Ya, itu termasuk dalam maksud yang merasa agak.

    Seriuslah bertobat! Terlebih bagi yang sudah kecanduan, bahkan yang keadaannya sudah seperti si ibu tadi atau mungkin lebih, harus perjuangan ekstra. Harus berani menjual internet dan dvd misalnya. Atau, misalkan kita inginnya menelepon atau mengobrol di medsos dengan seseorang itu terus, dan kalau sudah mengobrol ujungnya menjurus maksiat, maka hapus saja nomornya.

    Atau, kalau bertemu dengan sebuah kelompok bermain,yang obrolannya selalu yang begitu, maka beranilah berhenti bergaul dengan mereka. Keberanian kita untuk menutup pintu-pintu maksiat adalah bagian penting dari seriusnya tobat. Kalau gerbang maksiatnya tetap terbuka lebar, nanti akan jadi lagi, jadi lagi, dan jadi lagi. Ini berarti memang kita yang tidak sungguh-sungguh tobatnya.

    Segera kembali kepada Allah SWT. Kita memelas dan menangis minta ampunan kepada-Nya, dan laksanakan salat tobat. Allah tahu beratnya perjuangan kita untuk mengatasi narkolema ini.

    Seperti saudara yang sedang jatuh hati pada seseorang, lalu berupaya bagaimana caranya untuk tidak bertemu, menghapus nomornya, membuang potretnya yang pernah diambil diam-diam di medsos, dan seterusnya. Allah melihat jungkir-baliknya hati kita, susahnya perjuangan kita. Insya Allah perjuangan itu pasti tidak disia-siakan oleh Yang Mahabaik, Maha Pengampun.

    Hanya kepada Allah kita menyembah, berharap pengampunan dan pertolongan. Tobat yang bagus adalah bagi orang yang bertauhid, bukan orang yang musyrik. Tidak ada yang lebih membahagiakan dalam hidup ini selain memikirkan kebaikan dan kasih sayang-Nya.