• Headline

    Allah Maha Indah

    Oleh : Abdullah Gymnastiar06 Desember 2016 10:09
    •  Share
    Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Mas’ud disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga yang di dalam hatinya ada sebesar zarah saja ketakaburan (kesombongan).” Seseorang berkata, “Sesungguhnya orang itu suka dengan baju yang bagus (hasanah) dan alas kaki yang bagus.” Lalu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah Mahaindah dan mencintai keindahan, dan kesombongan itu menolak yang haq dan meremehkan orang lain.”

    Hadis ini dikaitkan dengan yang menggunakan sarung hingga menutupi mata kaki. Para ulama memiliki beragam pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan, yang begitu sombong, dan ada yang tidak. Karena Abu Bakar bajunya juga panjang, tapi beliau tidak termasuk yang sombong.

    Sehingga yang harus kita ingat di sini bahwa tidak masuk surga walau di hatinya ada sebesar zarah kesombongan. Sekecil apa pun. Ada pun sombong itu adalah mendustakan kebenaran dan meremehkan orang lain.

    Nah, di tengah sabda Rasulullah saw itu terdapat bahwa sesungguhnya Allah itu Mahaindah. Imam Ibnu Qayyim menyebut keindahan itu ada empat tingkatan. Yakni keindahan Dzat Allah SWT. Nanti kalau kita masuk surga, di sana semuanya sudah sangat indah. Kita akan terpesona dengan keindahan yang dahsyat. Tetapi ketika disingkapkan wajah Allah, saat memandang indahnya Dzat Allah, maka itulah puncak kebahagiaan.

    Kemudian, keindahan sifat-sifat Allah. Bahwa semua sifat-sifat Allah itu indah. Lalu, keindahan dari perbuatan-perbuatan Allah. Ada pun keindahan asma’ul husna, sebagaimana sebagiannya telah sering kita bahas.

    Jadi, kita harus tahu bahwa seisi alam ini diciptakan dan didesain sangat indah oleh Allah, dan kita pun menyukai keindahan. Misalnya, mohon maaf, imam salat dengan suara merdu lebih kita sukai dibanding sebaliknya yang seperti suara Aa, yang sering parau. Kita tidak mengerti mengapa kita menyukai suara yang merdu. Tapi di sanalah letaknya keindahan.

    Kita juga senang melihat pemandangan yang indah. Taman, gunung, ataupun pemandangan alam lainnya, yang keindahannya membuat hati kita lebih nyaman. Termasuk, puisi yang indah.

    Saudaraku. Allah Mahaindah dan mencintai keindahan. Para nabi itu tampan-tampan. Sungguh, Nabi Muhammad saw tampan dan indah. Kalau begitu, bagaimana dengan kita? Pastinya, kita tidak boleh iri. Yang penting bagi kita adalah bagaimana hati kita yang indah. Karena hati yang indah bisa memperindah lahiriah. Sedangkan kalau lahiriah bagus, tapi hati busuk tidak akan indah. Misalnya, apa saudara mau punya istri yang jelita, tapi di dalam rumah dia sering melempar belati dan kampak? Saya kira keindahan lahir semata dalam sekejap akan sirna, kalau hatinya tidak indah.

    Ayo, saudaraku, perindah hati kita! Bersihkan hati dari kesombongan, dengki, riya’, serta segala kekotoran dan kebusukan. Jauh dari perilaku kasar, bengis, tidak sabar, tidak teratur, jorok, dan lainnya. Supaya kita menjadi indah, sebagaimana indahnya akhlak Rasulullah.

    Satu contoh, kalau kita sombong, maka kita sulit atau tidak bisa mengatakan permisi, maaf, tolong, dan terima kasih. Padahal keempat kata itu bagian dari kesopanan yang memperindah diri. Misalnya, “Maaf pak, tolong angkat drum aspal itu ke sini.” Tapi yang begini, drum aspalnya yang berat.

    Atau, misalkan di jalan. “Priit.. maaf, silakan ke pinggir,” kata pak polisi. Sampai di pinggir, “Selamat siang, dik, boleh saya lihat SIM-nya?” Lalu dijawab, “Aduh, maaf pak, SIM saya ketinggalan.” “Baiklah, saya bisa maklumi, lain kali tolong jangan lupa lagi, ya.” “Iya, terima kasih, pak.”

    Saya kira yang begitu adalah polisi terindah. Tapi ini bukan berarti seandai kena tilang polisi, saudara lalu emosi, “Kata Aa’ Gym, bapak ini tidak indah! Sering-sering bersihin hati, pak!” Mengapa Aa’ Gym dibawa-bawa? Kalau memang pelanggaran, maka tidak apa-apa ditilang. Perindah saja diri kita sendiri dengan mengendalikan amarah.

    Saudaraku. Kita harus terus berusaha menjadi indah dengan cara memperindah hati. Kunci merperindah hati adalah selalu ingat kepada Yang Mahaindah. Sehingga kita memperindah diri bukan demi dipuji, atau agar orang terpikat kepada kita, tetapi semata-mata karena “Sesungguhnya Allah Mahaindah dan mencintai keindahan.” Karena kita berharap dicintai oleh Yang Mahaindah.