• Headline

    Kekuatan untuk Kebaikan

    Oleh : Abdullah Gymnastiar09 Desember 2016 09:51
    •  Share
    Saudaraku. Dalam salah satu pengajian di Masjid Daarut Tauhiid (DT) pernah hadir seorang sahabat Aa waktu masih muda. Yakni Letjend. Agus Sutomo, beserta rekan-rekan beliau dari Kodiklat TNI AD alias ‘dapurnya’ Angkatan Darat. Tema pengajian malam itu adalah nama dan sifat Allah, al-Qawiy. Allah Yang Mahakuat, yang tidak bisa dikalahkan siapa pun.

    Seperti setiap kita suka merasa diri besar, tapi baru ditaruh di tengah laut saja kita sudah tidak bisa apa-apa. “Seorang letnan jenderal kalau ditaruh di tengah laut juga jadi kecil sekali,” Aa sampaikan sambil mohon maaf kepada Pak Agus agar bisa menyesuaikan dengan kondisi di pengajian DT. Tapi sungguh, kita semuanya benar-benar kecil di hadapan Pencipta dan Penguasa lautan, daratan, bumi dan langit. Kita tidak ada apa-apanya di hadapan Yang Mahabesar lagi Mahakuat.

    Sebagaimana waktu ceramah di marinir dulu. Kepada para marinir yang gagah itu Aa minta mengacungkan tangan bagi yang siap kepalanya dibungkus kantong kresek. Mereka boleh minta apa saja asalkan bersedia dibungkus kantong kresek sampai tidak ada sirkulasi udara. Karena biasanya tidak lebih dari dua menit yang bakal diminta cuma satu, yaitu minta dibuka lagi kantongnya.

    Betapa lemahnya kita sehingga melawan kantong kresek saja tidak sanggup. Oleh sebab itu, di dalam Islam penting sekali bagi kita untuk sepenuhnya menyadari dan meyakini bahwa semua kekuatan berasal dari Allah Yang Mahakuat.

    Akan tetapi, Allah juga memberikan satu isyarat yang sangat menarik. Seperti dalil berikut, Dari Abu Hurairah beliau berkata, Rasulullah saw bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Namun keduanya memiliki kebaikan. Berlombalah untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah. Jika engkau terkena suatu musibah, maka jangan berkata, ‘seandainya aku mengerjakan begini maka ini akan menjadi begini dan begitu.’ Tapi katakanlah, ‘ini adalah takdir Allah dan apa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.’ Karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ membuka pintu masuknya godaan setan.” (HR. Imam Muslim)

    Jadi, lemah asal beriman sudah baik. Tapi kalau kita bisa mengembangkan sigma kekuatan (sigma itu dari beragam kekuatan kita), maka akan semakin baik dan semakin dicintai Allah. Artinya, kalau kita membangun kekuatan harus membangun kebaikan dan membangun kedudukan di sisi Allah SWT.

    Seperti tentara. Kalau selain berotot kawat, balung besi, leher beton, wajah asbes, juga imannya kokoh, maka begitu menjadi lebih bagus. Atau, misalkan jika Pak Agus yang sudah Letjend, juga al-Hafiz. Sudah beliau masih berusia muda, berotot tegap, dan bintang tiga, ditambah bisa hafal al-Quran, maka dahsyatnya jauh sekali mengalahkan yang di pesantren.

    Rasulullah saw di usia 63 masih tegap, berotot, tidak gemuk dan tidak kurus. Seumur hidup beliau hanya dua kali sakit. Rasulullah pun seorang yang kuat, perkasa, dan pemberani. Salah satu olah raga Rasul adalah gulat. Mungkin jarang disebut, tapi gulat itu sunnah.

    Diriwayatkan Rasulullah saw pernah bergulat dengan Rukhanah, seorang pegulat tertangguh di Mekah waktu itu. Rukhanah bergulat dengan Rasul hingga tiga kali. Karena untuk yang pertama dan yang kedua dianggapnya Rasul menang dengan kebetulan. Baru saat kalah untuk ketiga kalinya dia percaya.

    Lalu, suatu saat datang anaknya Rukhanah dengan membawa seratus ekor kambing. “Wahai Muhammad, kamu telah mengalahkan bapakku, lawanlah aku yang lebih muda.” Sehingga bergulat sampai dia juga tiga kali kalah. “Saya serahkan seratus kambing ini kepadamu Muhammad,” katanya. Tapi Rasul menjawab, “Saya bergulat bukan untuk kambing.” Akhirnya dia pun masuk Islam.

    Jadi, saudaraku. Seharusnya bukan hanya tentara dan polisi yang fisiknya tegap, tetapi kita semuanya juga, jika potensi itu ada pada kita. Kita membangun sigma kekuatan harus menjadi bagian dari amal saleh. Membangun kekuatan untuk kebaikan dan kedudukan kita di sisi Allah. Semoga kita semakin dicintai oleh al-Qawiy, Allah Yang Mahakuat.