• Headline

    Jangan Biarkan Hati Kita Sakit (2)

    Oleh : redaksi09 Desember 2016 10:06
    •  Share
    Ketika penyakit hati telah masuk menghuni hati, yang mendesak harus dilakukan adalah mendatangi dokter hati yakni para ulama yang bisa mendeteksi jenis penyakit yang telah masuk ke dalam hati dan memberikan saran obat terbaik yang bisa melelehkan dan mematikan penyakit hati itu.


    Kategori penyakit hati ketiga adalah berburuk sangka kepada Allah (suu’ al-dhann bi Allah). Mereka yang tidak memiliki kelegaan hati untuk menerima apa yang Allah timpakan berupa nasib yang tidak mengenakkan hatinya dan tidak memiliki cukup kesabaran untuk menunggu hikmah di balik segala peristiwa biasanya akan melewati hari-harinya penuh dengan derita. Hati semacam ini adalah hati yang sakit, hati yang tidak produktif, dan bahkan hati yang bersikap sinis pada kehidupan dan sekitarnya.

    Tanamkan selalu baik sangka bahwa Allah dengan segala keadilan-Nya dan sifat kasih dan sayang-Nya pasti meletakkan hikmah dan rahasia di balik semua yang terjadi. Perhatikan firman Allah dalam QS Al-Tawbah: 14-15 yang terjemahannya adalah sebagai berikut: “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

    Orang yang beriman senantiasa akan berada dalam nasib baik. Bahwa musibah atau ujian akan Allah timpakan, sungguh semuanya merupakan sandiwara kehidupan yang akan menjadikan seluruh kisah hidup menjadi lebih indah. Adalah benar yang disabdakan Nabi Muhammad bahwa segala sisi kehidupan orang beriman adalah menakjubkan; ketika diberikan nikmat dia bersyukur dan ketika ditimpakan musibah dia bersabar. Kedua-duanya adalah memiliki nilai pahala yang luar biasa.

    Kategori penyakit hati yang keempat adalah menganggap atau berkeyakinan bahwa syariat Islam adalah tidak lengkap dan kurang mewadahi semua persoalan hidup manusia. Ada banyak orang yang pengetahuan agamanya tidak utuh dan sempurna yang menganggap bahwa syariat Islam adalah aturan masa lalu yang tidak mungkin mampu menangani masalah-masalah kontemporer. Ada sebagian lainnya yang menganggap bahwa syariat Islam adalah syariat khas Timur Tengah yang tidak mungkin sesuai dengan karakter masalah di luar wilayah Timur Tengah.

    Rupanya, mereka lupa bahwa Tuhan yang menurunkan syariat adalah Tuhan Seru Sekalian Alam. Mereka lupa bahwa Allah adalah Tuhan dari semua makhluk, sebagaimana mereka lupa bahwa Rasulullah adalah diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Mereka yang menyadari hal ini pasti akan meyakini universalitas (‘aalamiyyah) ajaran Islam dan karenanya akan mengantarkan keyakinannya akan kesesuaian Islam dengan seluruh tempat dan untuk semua masa (shaalih li kulli makaan wa zamaan).

    Memelihara kebodohan dan keengganan untuk melengkapi pengetahuan tidak jarang menjadi penyakit hati yang mematikan. Fakta semacam ini bukan hanya terjadi kini saat membunuh orang lain dianggap sebagai bagian dari syariat dan menyayangi orang lain dianggap sebagai sikap lemah dan pengecut. Kondisi seperti ini mengharuskan terciptanya dunia pendidikan yang terbuka luas sebagai obat kebodohan ini.

    Perhatikan hadis riwayat Jabir berikut ini: “Kami pernah keluar dalam sebuah perjalanan, lalu salah seorang di antara kami terkena batu pada kepalanya yang membuatnya terluka serius. Kemudian dia bermimpi junub, maka dia bertanya kepada para sahabatnya; Apakah ada keringanan untukku agar saya bertayamum saja? Mereka menjawab; Kami tidak mendapatkan keringanan untukmu sementara kamu mampu untuk menggunakan air, maka orang tersebut mandi dan langsung meninggal. Ketika kami sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau diberitahukan tentang kejadian tersebut, maka beliau bersabda: “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka! Tidakkah mereka bertanya apabila mereka tidak mengetahui, karena obat dari kebodohan adalah bertanya!Sesungguhnya cukuplah baginya untuk bertayamum dan meneteskan air pada lukanya atau mengikat lukanya kemudian mengusapnya saja dan mandi untuk selain itu pada seluruh tubuhnya yang lain.” Sunan Abu Dawud, no.336)
    Poin dari hadis tersebut di atas adalah kalau tidak tahu, jangan berfatwa.

    Bertanyalah kepada yang tahu. Dan kalau ada perselisihan, ikutilah petunjuk Alquran QS Al-Nisa’ ayat 59: “Jika kalian berselisih pendapat dalam suatu perkara, maka kembalikanlah pada Allah dan Rasulullah.” Jadikanlah Alquran dan Hadis sebagai rujukan, sebagai referensi, karena keduanya adalah dua pegangan yang berlaku abadi dan tak akan pernah menyesatkan.

    Kategori penyakit hati yang kelima adalah kosongnya hati dari iman, dari kepercayaan pada ajaran agama Islam. Ketika ada yang kekurangan kebenaran dalam hati, maka hati disebut dengan kondisi sakit. Kalau hati memang sudah kosong dari kebenaran, maka itulah yang disebut dengan hati yang mati. Hati yang mati tak akan memberikan manfaat apapun, bahkan akan menjadi bumerang untuk diri dan orang lain.

    Lalu apa saja langkah preventif dan kuratif yang bisa dilakukan untuk penyakit-penyakit hati di atas? Langkah preventifnya adalah dengan menjaga diri dari kemungkinan masuknya “virus hati.” Menjauhi lingkungan negatif, penuh virus, dan mendekat dengan lingkungan penuh aura positif penuh vitamin, adalah langkah yang sedari dini harus diutamakan.

    Paksa diri untuk terus belajar agama Allah, betapapun harus melalui jalan mendaki. Paksa diri untuk semakin senang membaca dan merenungkan Alquran, walau kesibukan tak pernah berhenti mengejar waktu. Paksa diri untuk semakin dekat dan tunduk patuh kepada Allah walau godaan-godaan semu semakin rajin melalaikan kita untuk ingat kepada-Nya. Paksa diri untuk secara ikhlas beramal kebaikan dan, terakhir, paksa diri untuk senang bersama orang-orang baik.

    Sementara itu, ketika penyakit hati telah masuk menghuni hati, yang mendesak harus dilakukan adalah mendatangi dokter hati yakni para ulama yang bisa mendeteksi jenis penyakit yang telah masuk ke dalam hati dan memberikan saran obat terbaik yang bisa melelehkan dan mematikan penyakit hati itu. Sebagaimana untuk penyakit badan, penyakit hati membutuhkan apotek yang menyediakan aneka ragam jenis obat dan terapi. Majelis taklim dan puasa adalah apotek terbesarnya.

    Last but not least, bangunlah kebanggaan diri sebagai orang bergama, bangkitkan semangat untuk senantiasa melayani Allah. Langkah ini akan menjadikan hidup memiliki warna-warna indah. Perhatikan dawuh sebagian ulama: “Siapa saja berbahagia dengan melayani Allah, maka segala sesuatu akan berbahagia melayaninya. Dan barangsiapa senang hati dengan Allah, maka semua orang akan senang hati melihatnya.”(*) Oleh: Ahmad Imam Mawardi