• Headline

    Penyebab Ujub dan Takabur

    Oleh : Abdullah Gymnastiar09 Januari 2017 08:40
    Dari Iyadh bin Umar, beliau berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menurunkan wahyu kepadaku supaya kalian saling tawadhu’ (merendahkan hati), sehingga tidak ada seorang pun yang menganiaya orang lain, dan tidak pula seseorang membanggakan diri kepada orang lain.” (HR. Imam Muslim)

    Saudaraku. Ujub dan takabur itu ada bedanya. Kalau takabur mendustakan kebenaran dan menganggap remeh orang lain, sehingga takabur selalu memerlukan orang lain untuk diremehkan. Sedangkan ujub mengagumi diri sendiri, dan lebih akan bermain di hati. Tetapi, biasanya ujub dan takabur ini lengket atau bertemanan.

    Nah, terdapat bermacam-macam penyebab ujub. Pertama, fisik atau lahiriah. Misalnya kita bisa ujub karena merasa badan kita yang paling indah, paling atletis, berotot, atau wajah kita paling cakep. Lalu saat melihat orang yang kurus, kita diam saja tapi dalam hati berkata, “Kasihan dia, cacingan!” Begitu ujub. Sedang kalau dikatakan, “Hei, cacing, mau kemana?” maka itu sudah takabur.

    Padahal kita tidak ikut serta membangun otot badan kita sehelai pun. Seatletis dan sehalus apa pun kulit kita, tetap saja Allah yang menciptakan dan yang memiliki, dan mudah pula bagi-Nya untuk mengambil kembali. Jika Allah berkehendak, tinggal diberi kulit pisang, lalu kita terpeleset dengan kepala terbentur. Lalu hilang ingatan, “Saya siapa ya?”

    Kedua, ibadah. Misalnya kita saum Senin-Kamis, sedang orang lain tidak. Kita memang tidak memberi tahu orang kalau kita sedang saum, tapi dalam hati, “Ya, Allah, Engkau tahu hanya saya sendiri yang saum, berikan hidayah kepada mereka, ya Allah.”

    Atau, misalkan kita saum Daud dan yang lain Senin-Kamis. Lalu dari dalam hati terucapkan, “Kamu tingkatkan saja, nanti kalau sudah terbiasa saum Daud bisa dirasakan bedanya.” Atau, misalnya, “Dik, sudah berapa juz hafalannya?” “25 juz.” “Alhamdulillah, kalau kamu berapa?” “27 juz.” “Bagus, tingkatkan. Kalau saudara?” “30 juz.” “Bagus, terus tingkatkan.” Padahal juz 30 sudah penghabisan.

    Ketiga, ilmu atau pendidikan. Contohnya, “Maaf, saudara kuliahnya S1, S2, atau S3?” “Saya hanya SMA, pak.” “SMA, hmm...” sambil wajahnya mengerut gembira. “Eh, bukan SMA, pak, tapi SD.” “Oh! SD, hmm…” Wajahnya semakin bersungut-sungut tersenyum. Padahal, jangankan wajahnya yang begitu, hatinya yang ujub pun disaksikan Allah.

    Saudaraku. Ingatlah bahwa ilmu itu tidak ada artinya kalau tidak berbuah takut kepada Allah. Lagipula, apakah syarat masuk surga itu harus punya gelar? Tidak! Yang hanya lulusan SD tapi hatinya takut kepada Allah, tidak menyakiti orang, tidak mengambil hak orang, salatnya tepat waktu, hingga dikala malam tenggelam dalam tangis zikir, sangat dan sangat jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah, daripada orang yang gelarnya berjejeran tapi salat pun tidak mengerti dan korupsi lagi! Na’udzubillah.

    Keempat, prestasi atau penghargaan. Ujub karena prestasi contohnya, “Nggak disangka, padahal saya belum mengeluarkan kemampuan yang sebenarnya.” Tapi kalau misalnya, “Memang mereka nggak level dengan saya,” ini berarti takabur. Termasuk dengki juga bisa karena prestasi.

    Allah mengetahui semua itu, sebab Allah juga yang menciptakan dan yang memberi prestasi tersebut. Karenanya bila prestasi tanpa tauhid, maka penyakit hati yang akan berkembang di sana.

    Kelima, terkenal. Terkenal ini sama beratnya dengan prestasi dalam mengotori hati. Misal di jalan ditilang polisi, “Bapak tidak tahu siapa saya?” Polisinya mulai bingung, “Siapa, ya?” “Saya ini terkenal, lho!” “Terkenal? Apa mungkin bapak ini Hitler?”

    Sudahlah. Terkenal di dunia sama sekali tidak ada apa-apanya, sebab dunia ini amatlah kecil. Yang dahsyat itu terkenal di kalangan penduduk langit. Sebagaimana banyaknya sahabat Nabi saw yang tidak kita kenal, tetapi sangat boleh jadi di tengah penduduk langit, tentunya pula di sisi Allah, mereka amat dikenal.

    Keenam, banyaknya jemaah maupun follower medsos. Yang ini pun mudah membuat kita merasa mulia, sehingga ada yang sampai membeli follower. Juga yang tiap hari sibuk mencari “like”, atau pusing memikirkan apa yang akan dijadikan status agar banyak yang meng-like (menyukai). Untuk apa? Rasulullah saw tidak punya medsos, tapi follower beliau tetap banyak.

    Dari Abu Hurairah beliau berkata, Rasulullah saw bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Kemuliaan adalah sarung-Ku, dan kesombongan adalah selendang-Ku. Barang siapa yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, maka pastilah Aku akan menyiksanya.’” (HR. Imam Muslim)

    Ketujuh, jabatan dan kekuasaan. Yang ini juga sudah jelas sebagai sumber penyakit hati. Misalkan ada yang ketika belum punya jabatan biasa-biasa saja. Lalu tiba-tiba kelihatan berwibawa, “Ya, saya sekarang sudah menjadi anggota dewan.” Mendadak sikapnya berbeda, sedikit bicara, badan tegak seperti robot, dan berwibawa mukti. Mungkin akan normal lagi bila sudah tidak terpilih.

    Seharusnya dengan menjadi anggota dewan makin tawadhu’. Tidak banyak bicara karena memang tidak bermanfaat dan takut kepada Allah, dan tidak usah berubah jadi robot. Apalagi, seperti antara komandan dan wakil komandan, yang harus hormat lebih dulu itu wakil komandan. Jadi, wakil rakyat yang harusnya menghadap kepada rakyat (kita).

    Kedelapan, kesederhanaan. Kebalikan dari yang sudah-sudah, kesederhanaan juga bisa membuat kita merasa suci. Misalnya, “Yah, kalian teruskan saja berebut kekayaan, jabatan, popularitas, pujian maupun pacaran, kalau saya sejak bayi bersih dari semua perbuatan-perbuatan yang dekat dengan dosa-dosa besar itu, dan saya nanti insya Allah khusnul khatimah.” Padahal yang begini ada dalilnya:

    “Yaitu mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm [53]: 32)

    Dan, kesembilan, isi atau gaya bicara. Termasuk contohnya adalah kata-kata “ana” (saya) dan “antum” (Anda). Tidak salah mengucapkan “ana” dan “antum” kepada kawan bicara atau komunitas yang mengerti. Tetapi kalau kepada yang belum mengerti, kita baru berkata, “Ana minta tolong…” “Kan nama saudara Asep, kapan diganti Ana?”

    Bahkan, kepada kawan bicara atau komunitas yang paham pun harus tetap berhati-hati. Jangan sampai kita menjadi eksklusif dengan bahasa-bahasa yang tanpa memakai bahasa tersebut, sebetulnya juga tidak apa-apa.

    Kalau misalnya saat mengobrol dengan teman, kita menampilkan perkataan supaya mencerminkan bahwa kita berasal dari komunitas yang ahli masjid, yang terjaga, dan sangat kental dengan dakwah, maka berarti kita bukan mengajak orang menjadi bagus. Tetapi kita sedang memperlihatkan saja bahwa diri kita berbeda, alias ujub.

    Nah, saudaraku. Masih banyak penyebab ujub dan takabur yang lain. Karena itu, mari kita periksa hati masing-masing. Kalau di hati kita sudah mulai merasa berbeda, mulia, suci, ganteng, cantik, hebat, pintar, maupun merasa lebih lainnya, maka segeralah ingat kepada Pencipta lagi Penggenggam seluruh makhluk, Tuhan semesta alam.



meikarta.. the world of ours