• Headline

    Kesempatan yang Hanya Sekali

    Oleh : Abdullah Gymnastiar10 Januari 2017 09:26
    •  Share
    •  Tweet
    Saudaraku, pernahkah merasa kehilangan sebuah kesempatan yang tidak akan terulang lagi? Misalkan, saat umur 35 tahun saudara sangat berkeinginan mengabdi kepada pemerintah, yakni menjadi seorang PNS.

    Kemudian dengan ijazah S1 mengikuti tes CPNS dalam batas akhir usia diperbolehkan. Tetapi, pada hari pelaksanaan tes itu saudara tiba-tiba diare berat, sehingga jumlah mondar-mandir ke toilet hampir sebanyak jumlah soal yang harus dijawab.

    Padahal, menjadi PNS itu merupakan syarat mutlak yang diberikan oleh calon mertua untuk meminang anaknya. Kira-kira, bagaimanakah perasaan saudara ketika itu? Mungkin hanya meriang setahun saja, karena masih ada peluang lain. Yaitu waktu tambahan bagi saudara untuk menambah pendidikan supaya nanti bisa mengikuti tes CPNS lagi.

    Ketika kita merasa kehilangan sebuah kesempatan, masih tetap ada peluang serupa yang bisa diikhtiarkan, dan masih ada waktu. Kalau kita menerima, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah, maka kegagalan dalam meraih apa pun di dunia ini takkan terasa berat. Bahkan boleh jadi kita tidak akan begitu berharap masih ada kesempatan yang mirip. Bukan karena kapok, tapi disebabkan kita sudah tidak terlalu cinta pada duniawi.

    Nah, saudaraku, ada satu kesempatan yang hanya sekali dan takkan ada yang dapat diikhtiarkan atau peluang-peluang yang mirip lagi ketika sudah lewat. Yaitu kesempatan hidup ini sendiri. Kesempatan untuk bertobat, beribadah, beramal, bersedekah, berbuat baik, berakhlak mulia, serta mengharapkan pahala, surga, dan rida Allah SWT.

    Kalau kesempatan hidup ini disia-siakan, maka ketika ia sudah lewat atau kita meninggal, sudah tidak ada lagi cerita. Kecuali petaka yang jauh lebih dahsyat, dan tidak bisa dibandingkan dengan meriang setahun. Di dunia ini pun petaka itu sudah dimulai, cuma sebagian dari kita ada yang tidak atau belum menyadari. Bahkan tidak adanya kesadaran untuk segera bertobat itu sendiri sudah merupakan petaka besar bagi kita.

    Padahal selain kesempatan hidup ini takkan terulang, ia juga berbeda dengan kesempatan mengikuti tes CPNS. Tidak sama dalam hal jadwal, tempat dan pelaksanaannya. Jadwal maut datang menjemput tidak dipajang di internet oleh pemerintah, tempatnya tidak diumumkan, dan tidak ada orang yang menjual buku maupun membuka kursus yang mengetahui cara meninggal.

    Misalkan tips meninggal dengan tenang di tempat tidur, yaitu tidak beraktivitas dan sepanjang waktu harus selalu berada di tempat tidur. Walaupun sanggup begitu, demi Allah, ini takkan menjamin. Bisa saja suatu saat tangan digigit kutu kasur, dan saking gatalnya pergi ke kamar mandi mencucinya, lalu terpeleset dengan kepala membentur toilet. Tidak jadi meninggal dengan tenang.

    Waktu, tempat, dan cara adalah rahasia Allah SWT. Kita lahir berurutan, tapi kita mati tanpa urutan. Adik kandung saya sudah meninggal, saya belum. Dan kita tidak tahu, apakah setelah ini saya yang akan meninggal lebih dulu, atau saudara yang sedang membaca tulisan ini. Tidak ada yang tahu, karena mati itu benar-benar rahasia Allah. Tidak mustahil setelah saudara membaca tulisan ini, baik saya yang entah sedang berada di mana atau saudara sendiri, tiba-tiba saja pusing. Dan sebelum sempat minum obat, ada kemungkinan kita sudah tidak pusing lagi. Panjang umur.

    Seperti kejadian pesawat yang menabrak Gunung Salak beberapa waktu lalu. Semua yang meninggal di sana tidak ada yang tahu kalau hari, tempat, dan pesawat baru itu sebagai cara mereka meninggal. Mereka tidak membuat janji untuk berkumpul dan meninggal bersama di sana. Bahkan ada yang jauh-jauh lahir di Rusia juga mendatangi sendiri tempat kematiannya. Hanya Allah yang tahu. Sedangkan mereka yang bukan hari itu dan bukan di Gunung Salak tempat dan cara meninggalnya, bermacam-macam alasannya untuk tidak jadi menaiki pesawat tersebut.

    Jadi, kapan, di mana, dan bagaimana cara saya dan saudara meninggal, kita tidak tahu dan tidak akan pernah mengetahuinya. Oleh sebab itu, janganlah sia-siakan kesempatan hidup ini. Setiap saat maut dapat datang menjemput, di mana saja bisa menjadi tempat terakhir kita hidup, dan sedang dalam aktivitas apa pun kesempatan yang hanya sekali ini dapat ditutup. Sungguh tidak ada gunanya lagi penyesalan di akhirat nanti.

    Mari kita persiapkan diri agar ketika ajal datang, kita dapat meninggal dengan karunia khusnul khatimah. Berhati-hatilah selalu dalam menjalani kesempatan hidup ini, terus memeriksa hati. Amal, ibadah, dan akhlak terus kita perbaiki dan tingkatkan. Lebih maksimal berikhtiar supaya bisa lebih banyak bersedekah. Dan perbanyaklah berzikir.

    Kita berharap semoga saat kesempatan itu habis, Allah SWT meridai. Jangan ditunda-tunda. Karena kematian kita bukan seperti jadwal pelaksanaan tes CPNS, yang dapat ditentukan oleh masing-masing instansi. Waktu, tempat dan cara kematian tiap-tiap kita merupakan rahasia dan sesuka Allah saja. Kita cuma harus selalu siap setiap saat.