• Headline

    Tiga Tempat Tersingkapnya Siapa Seseorang

    Oleh : Abdullah Gymnastiar17 Maret 2017 09:03
    Diceritakan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ada seorang laki-laki berkata kepada Umar, “Sesungguhnya si Fulan itu orangnya baik.” Umar bertanya, “Apakah engkau pernah bersafar bersamanya?” Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.” Umar bertanya, “Apakah engkau pernah bermuamalah (berbisnis) dengannya?” Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.” Umar bertanya, “Apakah engkau pernah memberinya amanah?” Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.” Umar berkata, “Kalau begitu engkau tidak memiliki ilmu tentangnya. Barangkali engkau hanya melihat dia salat di Masjid.” (Mawa’idz shohabah)

    Saudaraku. Jadi, kalau kita misalnya hendak merekomendasikan seseorang, ingatlah perkataan Umar tersebut. Sebab ketika kita sudah dekat dengan seseorang, Allah suka membuka sedikit atau mengizinkan terbukanya siapa seseorang itu, dalam tiga tempat seperti yang dikatakan Umar.

    Satu, saat sedang dalam perjalanan. Misalkan bagi yang pelit bisa kelihatan. Seperti bekal kue yang dia bawa disimpan terus. Tetapi giliran temannya yang membuka bekal, dia ikut mengambil, dan bekalnya sendiri dibawa pulang kembali. Lalu, saat membayar ongkos atau jajan, tangannya seolah tersangkut di dalam sakunya sehingga lama mengeluarkan uang, supaya dibayari temannya.

    Belum lagi keluh-kesahnya. Misalnya, “Jalan-jalan bikin capek.” Padahal dia sendiri yang ingin jalan-jalan. Hingga kalau sudah capek emosinya akan tampak, begitu juga keegoisan, keserakahan, dan lain-lainnya. Karena dalam safar itulah, misalnya, orang yang tidak sabar akan terbuka ketidaksabarannya. Sebetulnya bukan Allah yang membukanya, tapi dia yang membuka sendiri sehingga Allah mengizinkannya terbuka.

    Dua, dalam muamalah (bisnis). Biasanya di sini akan tersingkap juga kelakuan asli seseorang. Seperti omongan palsu, keserakahan, kelicikan, ingin untung sendiri, dan banyak hal lain yang Aa yakin bagi yang sudah tahu bisnis lebih hafal perinciannya.

    Orang bisnis manis di awal, pahit di tengah, dan muntah-muntah di belakang. Pernah ada sejumlah orang yang pendidikannya tinggi dan bicaranya bagus datang mengaji ke Daarut Tauhiid, lalu mengajak bisnis. Awalnya bagus, tapi setelah sebulan langsung menghilang. Kita yang ditipu tidak rugi, tapi yang pasti rugi adalah yang menipu.

    Bahkan ada yang baru mau bisnis saja sudah bertengkar. Misalnya ada yang mengajak, “Ayo kita bisnis ini.” “Ayo! Tapi kalau untung nanti bagaimana pembagiannya?” kata temannya. “Ya, pokoknya saya yang lebih besar, kan saya yang duluan ngomong.” “Tapi kalau saya nggak mendengarkan, kamu kan ngomong sendiri. Nggak bisa, harus bagi dua!” “Nggak! Ini masalah waktu, dan saya yang duluan. 60-40, titik!” “Nggak adil, kamu!” “Bagaimana lagi, saya yang ngomong duluan.” Begitulah, padahal perusahaannya belum ada.

    Yang ketiga, ketika diberi amanah. Banyak contohnya yang telah sering dijelaskan. Seperti disuruh mengajar pukul delapan, tapi datangnya pukul sembilan kurang seperempat. Padahal lonceng akhir pelajarannya pukul sembilan, sehingga dia mengajar cuma seperempat jam. Atau, saat dititipi sesuatu, dipakai saja olehnya, dan ketika meminjam barang tidak dikembalikan.

    Saudaraku. Seseorang ketahuan aslinya dalam perjalanan, muamalah, dan saat diberi amanah, karena dia membuka dirinya sendiri. Oleh sebab itu, kita harus benar-benar menjaga diri dalam tiga tempat itu. Tempat yang mudah bagi kita membuka apa saja yang telah ditutupi oleh Allah SWT. Kita pun perlu berhati-hati dalam merekomendasikan seseorang.




meikarta.. the world of ours