• Headline

    Mengubah Hidup Jadi Lebih Baik

    Oleh : Abdullah Gymnastiar17 Maret 2017 09:24
    •  Share
    KEBERUNTUNGAN bukanlah kalau kita memperoleh uang, kedudukan, penghargaan, gelar, atau popularitas. Keberuntungan adalah ketika kita bisa mengubah hidup menjadi lebih baik.

    Ada yang pangkatnya naik, tapi ujungnya nelangsa. Ada yang bertambah uangnya, tapi akhlaknya makin tidak benar. Atau ada yang hidupnya makin tidak nyaman karena terkenal.

    Yang bisa saya pahami dalam Islam, orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Ada pun orang yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang rugi. Jadi, rugi bukanlah saat ditipu atau uang habis.
    Mengapa? Ini karena perkara rezeki tidak akan ke mana-mana. Yang penting kita makin menjadi baik agar rezeki kita juga jadi baik. Sebab ada penjahat yang mungkin diberi uang banyak, tapi keberkahannya hilang. Kita cukup menjadi orang yang beruntung saja, dengan terus makin lebih baik dari waktu ke waktu.

    Ada lima cara supaya berhasil mengubah diri menjadi lebih baik. Pertama, berani jujur melihat diri sendiri atau muhasabah diri. Caranya sederhana. Tulis di selembar kertas: “Keburukan yang harus saya perbaiki.” Misalnya, “Saya sombong, pelit, mata sering berzina, banyak menyakiti orang, munafik, musyrik, pemarah, pendengki, ujub, riya’, cinta dunia, dan seterusnya.”

    Menulisnya tidak perlu ada yang tahu, dan baca sendirian saja. Lebih bagus lagi pasang foto kita di kertas itu. Kemudian tanyakan kepada foto itu: Kamu yang di foto ini bakal menjadi ahli surga atau ahli neraka? Wajah ini bakal bercahaya di surga atau hangus? Mulut ini bakal minum di telaga Rasul, atau mulut peminum lahar dan nanah? Kalau sudah punya anak, kamu orangtua yang benar atau pembohong? Teladan yang baik atau buruk?

    Pertanyakan terus, dan tetap tatap wajah di foto kita itu. Sampai kita bisa benar-benar jujur melihat diri sendiri, dan kalau bisa sampai menangis itu lebih baik. Karunia Allah yang sangat mahal bisa jujur melihat diri sendiri, sendirian, dan menangis.

    Tobat adalah gerbang ketenangan. Jangan pernah berharap bisa bertobat kalau tidak pernah jujur melihat kebusukan diri sendiri. Karena tidak ada tobat bagi orang yang tidak menyesal, dan tidak ada penyesalan bagi yang tidak berani jujur mengakui keburukan dirinya sendiri.

    Kedua, milikilah cermin pribadi. Kita becermin biasanya agar mengetahui tentang wajah kita yang sebenarnya. Cermin yang menampakkan di sebelah mana letak jerawat kita. Bukan cermin yang menunjukkan wajah kita lebih mulus dan cakep, padahal aslinya ada bisul. Nah, maksudnya, kita membutuhkan kawan atau seseorang yang bisa menjadi cermin buat kita. Bisa suami, istri, anak, pokoknya orang terdekat kita.

    Kita memerlukan orang yang memberi tahu tentang kita apa adanya. Misalkan ibu-ibu selesai dandan ternyata masih ada belek yang tertinggal. Kemudian di pengajian ada yang menyapa, “Ya Allah, ibu manis sekali, penuh cahaya dan awet muda.” Tapi ada juga yang lain berbisik, “Teteh, ngaca lagi sana, belek belepotan mual saya melihatnya.” Yang bicara apa adanya lebih penting bagi kita.

    Kita tidak perlu pujian. Saya sudah mencoba dipuji ramai-ramai, dan sudah pula dicaci-maki se-Indonesia. Demi Allah, dipuji, dikagumi, dihormati jauh lebih berbahaya dibanding dicaci-maki. Tertipu pujian membuat hati kita mengeras. Makin tidak berani jujur melihat kebusukan sendiri. Karena dipuji itu hanya nikmat menurut nafsu, tapi tidak menurut iman.

    Ketiga, carilah teman atau guru yang ahli. Ibarat kita berangkat menemui dokter, karena kita mengetahui dokter itu ahli penyakit. Kita tidak mau mendatangi dokter yang tidak tahu apa-apa. Misalnya, “Sepertinya dokter ini nggak tahu apa-apa, masa saya datang malah ditanya sakitnya apa?”

    Termasuk di dalamnya jangan salah bergaul. Tolong tetap diingat sabda Nabi Saw bahwa bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut harum, dan bergaul dengan pandai besi akan ikut bau asap. Bergaul dengan orang-orang yang kualitasnya lebih tinggi, kualitas kita terbawa naik. Tapi kalau bergaul dengan yang akhlaknya lebih buruk, kita bisa dipanggil kiai. Padahal kita baru iqra’ jilid dua.

    Keempat, manfaatkan orang yang tidak suka kepada kita. Yang ini rahasia kita saja. Orang-orang yang tidak suka kepada kita itu adalah orang-orang yang sangat setia. Siang dan malam beliau selalu ingat kepada kita. Saat kita sudah tidur beliau masih melek memikirkan kita. Hanya dan hanya kita yang ada di hatinya.

    Beliau terus kasak-kusuk mencari dan menyelidiki kekurangan kita, yang kita sendiri tidak punya waktu untuk mencarinya. Beliau korbankan seluruh waktu, tenaga dan pikiran untuk kita semata. Lalu beliau akan menceritakan tentang keburukan kita ke mana-mana, supaya informasi itu sampai kepada kita.

    Sepanjang berghibah beliau sumbangkan pula pahalanya untuk kita. Kalau pahalanya habis, beliau pun rela mengangkut dosa-dosa kita. Kesetiaan dan pengorbanan apalagi yang mesti kita tuntut dari beliau? Seharusnya kita kirimkan kue bolu, getuk atau pempek kepada beliau, sebagai ucapan terima kasih. Karena kita harus menghindari utang budi.

    Maksudnya, orang yang tidak suka kepada kita itu sungguh luar biasa. Ambil informasi yang telah beliau sebarkan, dan tafakuri. Karena beliau sudah bersusah payah menyelidiki. Jangan sampai malah kita berbalik sebal, lalu ikut-ikutan tidak tidur memikirkan beliau.

    Kelima, tafakuri apa yang terjadi di lingkungan kita selama ini. Seperti setiap hari kita bertemu dengan berbagai macam orang, maka jadikan pelajaran. Misalnya kita bertemu dengan orang yang sopan. Ketika mau makan kita disuguhinya, kita mau duduk kursinya diambilkan, dan saat kita mau mulai mengunyah lauknya dimakan dia duluan. Ada pelajaran buat kita di balik sopan yang begini.

    Atau, misalkan saudara murid sekolah. Kalau ada guru yang galak atau super pelit dalam memberi nilai, maka tidak boleh menjelek-jelekkan beliau. Tetapi ambillah pelajaran dari hal itu. Seperti mulai sekarang hingga di mana saja kita akan bekerja kelak, jangan meniru hal-hal yang tidak kita sukai dari beliau, sambil kita doakan kebaikan untuk beliau.

    Jadi, saudaraku. Ubahlah diri makin lebih baik dengan gigih memperbaiki diri sendiri. Jangan menginginkan orang lain berubah, sedang kita sendiri juga begitu-begitu saja. Seperti kita menginginkan anak kita saleh, maka salehkanlah diri kita sendiri. Insya Allah, nanti Allah akan memberi kita hadiah anak yang saleh. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang yang beruntung. (*)



-->