• Pedagang Luar Biasa

    Oleh : Abdullah Gymnastiar20 Maret 2017 09:28
    Kalau kita semakin yakin Allah Mahakaya, semakin tidak bergantung kepada selain-Nya, maka semakin kaya pula hati ini. Hidup semakin nyaman. Tetapi kalau kita masih berharap atau menginginkan apa yang ada di tangan orang lain atau makhluk, hati kita semakin sulit ikhlas dan kaya hati. Kebaikan-kebaikan yang kita perbuat lebih cenderung kepada apa yang ada di tangan orang.

    Misalnya, ada dua orang ibu yang bertamu ke Daarut Tauhiid. Yang seorang turun dari mobil dan kopernya berat. Kita langsung menyambutnya dengan sok akrab, “Mari saya bantu membawanya, bu.” Sedangkan yang seorang lagi menumpang becak dan kopernya ringan. Maka kita pun menyapanya, “Ibu harus kuat menghadapi tantangan hidup ini.”

    Seperti itulah kebiasaan kita saat membantu orang lain, yaitu mengharapkan sesuatu darinya. Bisa uang, diajak makan, foto bersama, kartu nama, atau sekadar berharap ia mau disapa bila suatu waktu bertemu lagi. Apa pun, selama masih ada yang diharapkan dari orang lain, kita tidak bisa ikhlas.

    Padahal Allah Mahadekat dibanding orang kaya yang sering kita harapkan. Allah Yang Mahakaya. Semua kekayaan dan segalanya di dunia ini milik Allah. Sehingga yang disebut orang kaya, sebetulnya sama sekali tidak memiliki apa-apa kecuali hanya menumpang mengaku. Sampai pada waktunya bisa diambil lagi oleh Allah, atau sampai saat ia sendiri dikembalikan kepada-Nya.

    Jadi, seharusnya kita berbuat hanya karena Allah. Seperti pedagang. Jangan mengincar uang orang, tapi incarlah rida Allah. Contohnya saat ada yang bertanya, “Ini jeruknya manis atau tidak, kang?” Maka beranikanlah diri menjawab, “Kalau yang sudah saya cicipi ini, menurut saya manis dan ada asamnya sedikit. Tapi yang lain saya tidak berani menjamin, karena belum saya kupas dan cicipi satu per satu.”

    Mungkin calon pembeli menegur, “Saudara serius mau berdagang? Nanti tidak laku.” Tetap beranikan diri menjawab, “Serius, pak. Saya tidak berani berbohong karena Allah memerhatikan saya. Saya hanya berharap disukai Allah, agar dagangan saya juga dibuat-Nya laku. Kalau pun tidak dibuat laku, tidak apa-apa. Asalkan Allah rida.”

    Nah, bisakah kita membayangkan pedagang luar biasa seperti itu? Yang tidak menawari dagangannya dengan menjilat maupun menipu. Tidak mengurangi timbangan atau pun bersumpah palsu. Begitulah seharusnya. Karena sehebat apa pun memuji dagangan atau berjanji palsu, tapi jika Allah berkehendak tidak laku, maka tetap tidak akan laku.

    Berdaganglah dengan jujur dan amanah, tanpa serba memuji dan berstrategi. Pedagang luar biasa itu adalah sebuah contoh atau ilustrasi. Mari kita terapkan yang luar biasa seperti itu dalam setiap aspek kehidupan yang kita jalani masing-masing. Putuskanlah harapan dari seluruh makhluk. Cukup hanya dengan niat lillaahita’ala, kita terus-menerus berbuat kebaikan.

    Perbuatan-perbuatan kita semakin berkualitas. Hati semakin kaya dan hidup semakin nyaman. Allah pasti melihat, menghitung, dan memberi ganjaran. Ini tidak menggunakan kata “insya Allah”, sebab ganjaran itu adalah janji Allah yang sudah pasti.

    Hanya saja, bentuk dan caranya sesuka Allah. Boleh jadi ganjaran yang diberikan-Nya tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Karena terbaik menurut kita, tidak ada apa-apanya dibanding yang terbaik menurut Yang Mahabaik dan Mahaagung.