• Ikhlas Mendoakan Sesama

    Oleh : Abdullah Gymnastiar07 April 2017 08:52
    Saudaraku. Dalam bergaul sehari-hari mungkin kita pernah diminta oleh saudara, tetangga, teman maupun kenalan lainnya, untuk mendoakannya. “Tolong doakan, ya!” atau “Mohon doanya!” Entah saat itu dia sedang menghadapi ujian di sekolah, hendak mencari kerja, memulai sebuah usaha, atau pun bersyukur atas kelahiran anaknya.

    Sebetulnya, tanpa diminta pun kita sudah semestinya melakukan. Misalkan ketika ada seseorang yang selalu berbuat baik kepada kita, maka doakanlah dia. Atau, dalam sebuah urusan kita terpaksa meminta bantuan seseorang, dan saat itu kita tidak mampu membalasnya. Maka, selain mengucap terima kasih, benar-benar doakanlah dia dengan ikhlas.

    Terhadap orang yang baik atau rajin menolong, bahkan sering terbebani oleh kita, kalau bisa kita balas dengan yang lebih baik. Kalau tidak bisa, ucapkanlah terima kasih dengan tulus, serta serius dan ikhlas mendoakannya. Supaya kemuliaan (izzah) kita tetap terjaga, tidak lantas turun dengan menjadi beban bagi orang lain.

    Misalkan setelah tahajud, doakanlah sebanyak-banyaknya bagi orang yang sudah membantu kita. Mohonkan kepada Allah SWT, kebaikan demi kebaikan maupun apa yang kira-kira sedang diperlukannya. Jadi tidak perlu di-sms.

    Seperti mungkin kita pernah menerima sms pukul setengah tiga pagi, “Ya Allah, di saat yang mustajab, hamba mendoakan sahabatku ini. Balaslah semua kebaikannya. Engkaulah Yang Mahamendengar dan Mahamelihat. Kabulkanlah, ya Tuhanku Yang Mahapemurah.” Tapi mungkin kita tidak pernah mendapat sms begitu, karena kitalah yang biasa mengirimnya.

    Saudaraku. Benarkah yang seperti itu kita sedang mendoakan? Atau, sebenarnya kita hanya memberi informasi, bahwa kita sedang tahajud dan kita teringat kepadanya. Lalu merasa kalau sering sms akan diartikan saleh, karena misalkan berharap dia mau menikah dengan kita. Bagaimana kalau sambil mengantuk ternyata salah kirim? Sudah berdoanya kepada sesama makhluk, dan yang dikirimi pun sama-sama lelaki misalnya.

    Sekalipun seseorang meminta kita mendoakannya, maka doakan saja. Yang penting bukanlah dia tahu kalau kita sudah mendoakannya, tapi yang penting adalah diijabah.

    “Apabila salah seorang mendoakan saudaranya sesama muslim tanpa diketahui oleh yang didoakan, maka para malaikat berkata: ‘Amin dan semoga engkau memperoleh pula seperti apa yang engkau doakan itu.’” (HR. Imam Muslim dan Abu Daud).

    Jadi, tidak perlu diberi tahu. Baik lewat sms atau pun lainnya. Misalkan saat bertemu kita berkata, “Kang, semalam akang sudah saya doakan.” Mungkin si akang jadi senang, “Terima kasih, tapi doa apa?” “Doa lunas utang.” “Enak saja! Saya kan tidak punya utang.” Akhirnya malah jadi tersinggung.

    Begitu kalau misalnya dia benar-benar sedang terlilit utang. Maka saat nanti utangnya sudah lunas dan usahanya terus maju, kita juga tidak perlu merasa berjasa. Walaupun doa kita memang kuat. Nanti jadi ujub.

    Misalkan ada teman sedang mengikuti tes masuk kerja. Kita doakan karena dia sering menolong kita. Meski kita sering mendoakannya hingga berderai air mata, tapi saat dia diterima, kita tidak usah jadi ikut-ikutan keren. Karena merasa doa kita yang diijabah. Seperti mendadak berlagak tawadhu sambil menepuk-nepuk pundaknya, “Alhamdulillah, diterima kan?” Teman kita jadi bingung, “Kamu kenapa? Lagi sakit, ya?”

    Jadi, saudaraku. Balaslah kebaikan orang dengan ikhlas. Walaupun yang bisa kita perbuat hanya mengucap terima kasih dan berdoa. Sesudah itu diam, dan terserah Allah saja.