• Headline

    Mandiri Itu Mulia

    Oleh : Abdullah Gymnastiar16 Juni 2017 09:45
    Saudaraku. Ternyata kemuliaan (izzah) itu diberikan oleh Allah SWT kepada yang mandiri. Seperti anak-anak yang mandiri cenderung lebih disegani dari anak-anak manja. Begitu halnya remaja mandiri akan lebih tinggi kemuliaanya di sisi Allah. Masjid yang mandiri akan lebih disegani daripada masjid yang terus-menerus tergantung kepada makhluk. Dia akan lebih berkharisma. Tentu saja sebuah bangsa yang mandiri juga akan lebih disegani.

    Kemandirian adalah salah satu yang membuat seseorang bisa dimuliakan oleh Allah. Tidak bisa dipungkiri bahwa seorang manusia akan membutuhkan orang lainnya. Kita pasti akan tergantung kepada orang lain. Tetapi jangan pernah menikmati membebani orang lain. Contohnya dalam mencukur rambut.

    Misalkan kita minta tolong teman yang mencukur. Sebetulnya, pada saat yang sama, kemuliaan kita sudah turun. Kecuali kalau kita membayarnya. Mungkin teman kita tidak mau dibayar. Katakan kepadanya kalau, “Ini bukan bayaran, tapi ini adalah rezeki dari Allah untuk saudara.” Sehingga izzah kita naik lagi.

    Pergi ke pengajian nebeng, berangkat ke kantor dibonceng. Kalau keseringan, seharusnya kita sudah ingat pada bensin, oli yang cepat kotor, serta ban dan shockbacker yang jadi aus. Terlebih kalau suka sengaja berpura-pura, “Eh, ketemu lagi.” Padahal itu memang strategi agar dibonceng. Mungkin ada kalanya kita memang tidak punya pilihan. Tapi ingat, jika kita terus menerus menjadi beban, maka kita akan kehilangan izzah.

    Sesekali belikanlah bensin, full tank. Kumpulkan uang untuk mengganti olinya. Meskipun habis 100 ribu, tidak apa-apa. Kalau kita mengeluarkan uang untuk menjaga kehormatan di jalan Allah, yakinlah tidak akan rugi dan nanti rezeki kita juga akan diganti oleh-Nya. Karena kita mengeluarkannya dengan benar.

    Seandai kita sedang tidak punya uang misalnya, maka cuci kendaraannya. Bagaimana kalau itu mobil? Sesulit apa pun tetap upayakan untuk membalas kebaikannya. Jika memang tidak ada lagi kebaikan yang bisa kita perbuat untuk membalas kebaikannya, maka ucapkanlah terima kasih dan benar-benar doakan kebaikan untuknya dengan ikhlas.

    Jangan justru sengaja membebani orang, dan senang melihat dia mengangkat beban kita. Misalkan teman kita kaya. Jangan memperlambat bayar ongkos saat di angkot, atau pura-pura lupa bawa dompet di warteg. Karena menganggap sudah selayaknya bagi dia yang lebih kaya, atau merasa “Saya berusaha membalas kebaikannya kemarin dengan memberi jalan dia bersedekah lagi.” Nanti dompet kita bisa hilang betulan.

    Saudaraku. Kalaupun kita memang terpaksa harus membebani orang lain, maka balaslah, dan kalau bisa dengan kebaikan yang lebih. Pokoknya bulatkan tekad bahwa “Saya harus membalas budi.” Tidak pernah ada enaknya kalau kita menjadi beban bagi orang. Karena itu tidak sesuai dengan jalan kemuliaan.

    Rasulullah saw adalah orang yang mandiri. Betapa kemandirian Rasul telah bisa dirasakan sejak saat masa kecil. Beliau yang melihat langsung kematian sang ibu, dalam perjalanan pulang dari berziarah di makam sang ayah. Rasul dibantu Barakah al-Habsyiyyah atau Ummu Aiman mengantar kembali jenazah sang ibu dari tengah padang pasir. “Dia (Barakah) adalah ibuku setelah ibuku,” kata Rasul. Dan pada waktunya, anak Barakah, yakni Usamah bin Zaid, pun begitu beliau cintai dan sering beliau pangku.

    Jadi, semakin tinggi derajat seseorang di sisi Allah SWT, sebetulnya dia semakin tidak mau tergantung kepada selain-Nya. Sekecil apa pun akan menjaga hati. Karena itu, kemandirian ini sama sekali tidak menjadikan kita sombong dan ujub.

    Kemandirian merupakan salah satu hikmah dari asma Allah, al-Qayyuum. Yang Maha Berdiri Sendiri. Allah tidak membutuhkan sesuatu pun dalam mengurus semesta ini. Sedangkan kita, semandiri apa pun pasti tetap membutuhkan sesuatu. Allah yang terus-menerus mengurus kita. Dan semua amal ibadah yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri.

    Mari jaga kemuliaan kita di sisi Allah, dengan membangun kemandirian dan terus memperbanyak kebaikan.




meikarta.. the world of ours