• Headline

    Menyucikan Jiwa dan Harta dengan Zakat

    Oleh : Ahmad Heryawan19 Juni 2017 04:48

    Salah satu kewajiban seorang muslim di antara rukun Islam ialah zakat. Inilah satu-satunya rukun islam yang memiliki konsekuensi atau imbas langsung terhadap sesama manusia.


    Jika syahadat, shalat, puasa, naik haji, semuanya tergolong pada amalan pribadi yang langsung berhubungan dengan Allah, maka zakat memiliki kedudukan yang istimewa, sebab bentuknya yang merupakan materi dan lebih menitikberatkan pada interaksi antara muzakki dan mustahiq.


    Di bulan Ramadan ini, salah satu bentuk zakat yang disyariatkan ialah zakat fitrah. Suatu bentuk ibadah dan kewajiban yang sejatinya memiliki makna yang sungguh dalam. Tak hanya merupakan bukti ketakwaan kita, tapi juga memberikan sumbangsih yang riil sehingga dapat memberdayakan, bernilai secara spiritual, material, dan sosial.


    Allah Swt. berfirman,“Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat.” (QS Al-Baqarah [2]: 110)

    Menjelang penghujung Ramadan, masjid-masjid mulai membuka penitipan zakat fitrah. Panitia dengan sigap menerima maupun menjemput zakat untuk disalurkan kepada yang berhak.


    Tentu, hal ini pun menjadi syiar, sekaligus mengingatkan kita tentang kewajiban menunaikan zakat fitrah di bulan Ramadan ini. Zakat secara bahasa berarti suci, berkembang, berkah. Adapun menurut syara’, bermakna pemberian yang wajib diberikan dari sekumpulan harta tertentu, pada waktu tertentu, dan kepada golongan tertentu yang berhak menerimanya.


    Zakat dapat mensucikan harta kita, sebab bisa jadi secara tidak sadar atau bahkan sadar, ada bagian-bagian dalam harta kita yang kita dapatkan dengan cara yang bathil. Zakat juga mengikis sifat-sifat buruk kita, misalnya kikir dan serakah dalam harta.


    Dengan zakat, kita didorong untuk menyisihkan harta yang kita miliki, sebab di dalamnya terdapat pula hak-hak fakir miskin, kaum duafa, dan golongan-golongan lain yang memerlukan bantuan. Maka, salah satu hikmah zakat adalah sebagai terapi bagi sifat-sifat kikir kita dalam membelanjakan harta di jalan Allah sehingga kelak terbiasa dan merasa ringan dalam memberi. Ada pula shadaqah, yakni pemberian secara ikhlas tanpa dibatasi waktu dan jumlahnya (haul dan nisab).


    Sementara itu, zakat fitrah memiliki pengertian sebagai zakat yang wajib dikeluarkan setiap muslim karena berakhirnya shaum di bulan Ramadan. Sementara batas waktu ditunaikan zakat fitrah ialah sebelum menjalankan shalat Idul Fitri, sesuai hadis yang diriwayatkan oleh ibnu Abbas: “Rasulullah Saw. mewajibkan zakat fitri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa membayarkannya sebelum salat (Hari Raya) maka itu adalah zakat (fitri) yang diterima, dan barangsiapa membayarkannya setelah salat maka itu hanyalah berupa sedekah dari sedekah (biasa)".


    Adapun mereka yang berhak menerima zakat fitrah ialah sesuai dengan ayat: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Mahabijaksana. (QS At-Taubah [9]: 60).

    Maka, marilah kita menunaikan zakat fitrah untuk menyucikan jiwa dan harta kita. Sebab, di dalamnya terdapat hak bagi orang-orang yang ditentukan oleh Allah Swt. Jangan sampai kita lupa berzakat atau sengaja lalai menunaikan zakat. Inilah kewajiban yang nyata-nyata dibebankan bagi mereka yang mampu di bulan Ramadan, tanpa terkecuali.[*]