• Headline

    Jangan Mengharap Gratis

    Oleh : Abdullah Gymnastiar20 Juni 2017 08:02
    Ada sebuah kisah tentang pedagang minyak wangi di Madinah. Ketika itu, rombongan jamaah umrah melewati seorang tukang minyak wangi yang tunanetra. Salah satu telinganya ditutupi kapas. Di depannya ada nampan berisi sejumlah minyak wangi berukuran kecil.

    Kemudian, jamaah mengeluarkan uang sejumlah lima real untuk diberikan kepada pedagang minyak wangi tersebut. Tetapi beliau bertanya, “Ini untuk apa?” Jamaah menjawab, “Ini sedekah.” Beliau menolak, “Saya menjual minyak wangi.”

    “Oh, ya. Berapa harganya satu?” tanya jamaah sambil meminta maaf. “Tiga real,” jawabnya. Lalu dibelilah satu, sehingga masih ada sisa dua real. “Yang dua realnya untuk bapak saja,” kata jamaah. Tapi beliau kembali menolak, “Tidak, sudah cukup. Saya sudah mendapat untung.” Semua jamaah yang menyaksikan peristiwa itu pun terdiam.

    Nah, jauh sekali berbeda dengan kita. Sehari-hari lebih suka berharap diberi, bahkan dikasihani. Padahal, hampir semua kita secara lahiriah lebih sehat dan kuat dibanding pedagang minyak wangi itu. Terlebih bagi kita yang dalam hal uang bisa dibilang lebih memiliki.

    Misalnya dalam berdagang, terkadang ada orang yang sudah mengurangi timbangan, uang kembaliannya juga diincar. Dengan berakting, seperti meminta uang pas kepada pembeli sambil beralasan tidak mempunyai uang receh. Berharap pembeli berkata, “Ya sudah, tidak usah saja. Tidak apa-apa.” Padahal yang berdagang punya mobil bagus, sedangkan si pembeli berjalan kaki.

    Pun sebaliknya. Ada orang kaya yang ketika berbelanja justru ingin gratis. Padahal ia mengetahui kalau yang berjualan adalah pedagang kecil. Tapi tetap saja, kalau sudah tidak bisa memperoleh tambahan diskon, maka meminta tambahan kresek untuk kantong sampah sebulan. Jangan, saudaraku! Yang begitu perbuatan zalim. Bayarlah, supaya kedudukan kita di sisi Allah tidak turun.

    Jadi, jangan ada keinginan diperlakukan spesial. Entah karena kaya, lalu memanfaatkan keterpukauan pedagang kecil terhadap yang dipakainya untuk meminta gratis. Atau sebaliknya, ingin dikasihani karena menyandang status pedagang kecil. Sehingga membenci orang kaya yang hanya lewat dan tidak membeli dagangannya.

    Jangan mengharapkan gratis meski sama-sama kenal. Apalagi karena telah lama tidak bertemu, lalu sengaja mengingatkan dengan mengobrol panjang. Sehingga calon pembeli lain terabaikan, dan satu-satunya dagangannya yang laku hari itu adalah yang kita minta gratis. Sama halnya yang berdagang, jangan memaksa kenalan untuk membeli dagangan kita. Terlebih memaksanya membeli mobil, di saat ia sedang kebingungan membayar uang kontrakan.

    Tentunya termasuk pula pejabat. Misalkan sengaja menghampiri penjual sate. Berharap ia memberi gratis sambil hormat, “Yang penting pak RT tidak melarang saya berjualan di sini.” Atau, pejabat yang berpangkat lebih tinggi sengaja berangkat ke pasar. Ketika pulang membawa beras, ayam, sayur dan buah-buahan, tapi uangnya tetap utuh. Rasanya malah jadi mirip dengan orang yang sering dicari-cari polisi.

    Mari kita jauhi keinginan untuk diberi gratis. Jauhi keinginan diperlakukan spesial atau dikasihani. Di samping hidup kita menjadi keliru karena berharap kepada sesama makhluk, yang seperti itu juga memanjakan kita. Membuat kita tidak mandiri. Sedangkan kemandirian adalah hikmah yang harus kita ambil dari asma Allah, al-Qayyuum. Yang Maha Berdiri Sendiri.




meikarta.. the world of ours