• Headline

    Menjernihkan Hati dan Pikiran dengan Shaum

    Oleh : Ahmad Heryawan21 Juni 2017 05:15

    Shaum merupakan amalan amat dahsyat. Berbagai penelitian medis telah menyimpulkan bahwa shaum memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan tubuh. Pola makan yang tak terkendali merupakan salah satu faktor penyebab penyakit.

    Bahkan, Rasulullah Saw. menyatakan dalam hadisnya bahwa berbagai penyakit datang dari masalah perut, “Sumber dari segala penyakit adalah perut, perut adalah gudang penyakit dan berpuasa itu obat.” (H.R. Muslim). Dalam hadis tersebut diterangkan bahwa perut adalah gudang penyakit.

    Hal ini tak terlepas dari asupan yang dicerna oleh perut kita. Maka, sehat atau sakitnya kita sangat terkait erat dengan bagaimana kita memperlakukan perut beserta asupannya. Sementara itu, puasa merupakan obat dari penyakit-penyakit tersebut. Berbagai penelitian pun mendukung hal ini, bahwa puasa dapat mengembalikan fungsi pencernaan ke dalam kondisinya yang ideal, seolah sistem pencernaan kita memperoleh jeda sehingga dapat kembali melakukan kinerjanya secara optimal.

    Manfaat shaum atau puasa bagi kesehatan tubuh tak lagi disanksikan. Akan tetapi, sebenarnya puasa juga tak hanya menyehatkan kita secara fisik. Pikiran pun dapat disegarkan dan memperoleh energi positif dari shaum. Mengapa hal ini bisa terjadi? Shaum, terutama di bulan Ramadan, ibarat suatu potret kecil kehidupan Rasulullah Saw., di mana Rasulullah sering sekali berpuasa di siang hari dan menghidupkan malam-malamnya dengan shalat tahajud.

    Hal ini serupa dengan apa yang kita lakukan ketika di bulan Ramadan, yakni siang hari berpuasa, dan malam-malamnya diisi dengan shalat tarawih atau qiyamul lail. Inilah pola hidup Rasululllah Saw. yang seringkali kita lupakan. Selain itu, shaum merupakan suatu kondisi ketika frekuensi hati kita terpaut erat dengan frekuensi ilahiyah, merasa diri kita senantiasa disaksikan oleh Allah, sadar bahwa segala amalan kita dicatat, bahkan ketika tak ada orang di sisi kita atau melihat tindak-tanduk kita. Dengan shaum, komitmen takwa kita semakin dikuatkan.

    Saat komitmen takwa ini menguat, maka diri kita pun mendekat kepada Allah, dan barangsiapa yang mendekat kepada Allah, sesungguhnya Allah juga kian mendekat kepadanya, seperti yang disampaikan melalui hadis: “…. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya hadisdengan berlari-lari kecil.” (HR Bukhari).

    Dalam keadaan dekat dengan Allah tersebut, hati dan pikiran kita tak akan terlepas dari bimbingan Allah. Petunjuk dan hidayah akan senantiasa meliputi ketika kita berada dalam jalan takwa, seperti yang ditunjukkan melalui amalan puasa yang ikhlas dan tak mengharap pujian atau sanjungan sesama hamba. Barangsiapa bersama Allah, tentu ia akan dinaungi keberuntungan dan pertolongan Allah. “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl [16]: 128). Saat pikiran dan hati kita terpaut pada Allah, tak akan kita temukan noda-noda atau pengaruh buruk yang dapat mengganggu pikiran kita. Justru, Allah akan memberikan petunjuk dan cahayanya agar kita dapat melangkah dengan pasti di atas jalan yang diridai-Nya.

    Di samping itu, kejernihan hati dan pikiran juga dicapai saat hati kita merasa tenteram. Adapun ketenteraman batin akan senantiasa kita rasakan ketika kita tak berada dalam jalan yang berseberangan dengan perintah dan petunjuk Allah Swt. Dari ketakwaan akan muncul rasa optimisme, ketenangan, dan kekuatan agar dapat melalui segala rintangan dalam kehidupan. Ini tak lain karena kita telah berada pada frekuensi ketakwaan kepada Allah, yang salah satu cara terbaiknya ialah dicapai melalui puasa. Wallauhu’alam bishawab. [*]