• Headline

    Hikmah di Balik Mudik

    Oleh : Kang Aher22 Juni 2017 04:42

    Idul fitri tinggal menghitung hari. Menjelang berakhirnya Ramadhan ada sebuah prosesi istimewa yang seolah-olah telah menjadi kewajiban di masyarakat kita. Sebuah “ritual” yang bisa dibilang selalu mewarnai pengujung Ramadhan, khususnya di Indonesia. Siapa yang tidak tahu tradisi yang satu ini, sebuah tradisi yang dikenal orang dengan istilah mudik.


    Ramadhan yang akan segera berakhir kini mulai diwarnai oleh suatu persiapan yang dilakukan hampir seluruh lapisan masyarakat, utamanya para perantau. Libur panjang di hari raya hampir pasti akan ikut diisi dengan mudik untuk bertemu keluarga dan sanak famili di kampung halaman.


    Mudik telah menjadi fenomena sosial yang menjadi tradisi yang turun-temurun dilakukan oleh hampir mayoritas masyarakat Indonesia, sehingga lebaran tanpa mudik tidaklah afdol rasanya. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh sebagian orang.


    Menyikapi tradisi mudik yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita, ada beberapa hal yang patut kita renungi sebagai hikmah dari kegiatan mudik ini.

    Pertama, mudik merupakan suatu aktivitas yang sebenarnya mengandung nilai-nilai yang positif. Di dalamnya ada unsur silaturahmi yang amat kental. Bagi para perantau yang kampung halamannya jauh, bertemu dengan keluarga dan kerabat di kampung halaman bukanlah sesuatu yang biasa, entah karena waktu dan kesempatan maupun pertimbangan ongkos yang mahal.


    Saat mudik hari raya Idul fitri khususnya, ada kesempatan yang cukup lapang di libur panjang. Dengan aktivitas itu, kita menyambung ikatan tali silaturahmi dengan kerabat dan keluarga di kampung halaman. Sebagaimana kita tahu, kegiatan menyambung tali silaturahmi mendapat kedudukan yang istimewa di dalam Islam dan bernilai pahala.


    Kedua, mudik mengajarkan kita bahwa kebersamaan itu bisa jadi sangat mahal harganya. Kita harus bersyukur masih memiliki kesempatan untuk bertatap muka dan melepas rindu kepada keluarga dan saudara-saudara di kampung halaman.


    Sesuatu yang jika kita mengalaminya setiap hari, kebersamaan tersebut tidak akan terasa begitu bermakna. Maka, ketika kita berpisah untuk kembali ke tempat tinggal kita, yakni di perantauan, akan terasa bahwa ada rindu yang kelak akan kembali kita lepas bersama orang-orang terkasih di kampung halaman.


    Ketiga, mudik juga mengajarkan kita untuk berbagi dan menyayangi seseorang tanpa pamrih. Jika kita punya kelapangan rezeki di hari raya, sudah sepatutnya kita membaginya dengan keluarga dan saudara-saudara kita di kampung. Saat mereka merasakan kebahagiaan karena mendapat pemberian kita, saat itu sesungguhnya diri kita akan ikut merasakan kegembiraan yang lebih besar. Belum lagi kita mendapat pahala karena telah membahagiakan keluarga dan saudara-saudara kita.


    Jikapun kita tak punya rezeki berlebih, dengan ketulusan untuk bertemu dan melepas rindu dengan keluarga dan sanak saudara pun, sudah merupakan kepuasan bagi mereka, mendapati bahwa putra-putri atau saudaranya sehat wal afiat dan tidak kekurangan satu apapun.


    Keempat, sebagai hikmah terpenting, mudik juga mengingatkan kita, bahwa kita semua akan berpulang ke rumah kita yang sesungguhnya, yakni akhirat. Tempat pulang kita yang sebenarnya, tempat kita merasakan konsekuensi atas amal kita di kehidupan dunia. Di tempat pulang kita yang sesungguhnya itu, tergantung amalan kita apakah kita memperoleh nikmat atau siksa.


    Maka carilah bekal amal saleh sebanyak-banyaknya, seperti halnya saat kita mempersiapkan mudik, tentu kita memerlukan bekal, entah itu uang ataupun bahan makanan dan minuman. Jika perbekalan cukup, kita akan sampai di tujuan dengan selamat, tapi jika kurang, kita akan susah payah dan malah mendapat celaka. Maka, dengan mudik, kita harus menyadari, bahwa bukanlah dunia tujuan akhir hidup ini, kita harus banyak mengumpulkan bekal untuk mempersiapkan mudik ke rumah yang sebenarnya, yakni alam akhirat. Wallahu ‘alam bishawab.[*]