• Headline

    Menyenangi Kesendirian

    Oleh : Abdullah Gymnastiar28 Juli 2017 09:14
    Pernahkah saudara merasa bernar-benar terpojok dan sendirian? Misalkan saat sahabat dekat pindah ke daerah lain. Kawan yang sering menelpon juga tiba-tiba mengganti nomor ponsel. Teman yang biasa dimintai tolong pun sudah bosan mendengar suara kita.

    Orang yang setiap bulan memberi kita sedekah mendadak bangkrut. Semuanya terjadi dalam rentan waktu bersamaan, sedangkan keluarga atau orangtua sangat jauh di kampung.

    Atau, misalkan ketika kita berangkat kerja ditilang polisi. Lalu, waktu diminta tidak ditilang dengan menunjukkan foto atau kartu nama seorang pejabat di dalam dompet. Polisinya tersenyum, “Maaf, pejabat ini kemarin sore sudah ditangkap.” Berlanjut sampai di tempat kerja, tiba-tiba dipecat. Pulang ke rumah ternyata buku tabungan juga hilang. Yang bersamaan pula dengan sms pembatalan pernikahan dari calon mempelai.

    Kejadian tidak menyenangkan datang bertubi-tubi, sehingga merasa terpojok, terpuruk, dan amat sendirian. Tidak seorang pun yang bersedia maupun bisa mengeluarkan kita dari rentetan kejadian itu. Walaupun kita telah berupaya keras memohon bantuan atau bercerita kepada seseorang. Namun, sekali pun ada yang mau mendengarkan atau mencoba membantu, tetap saja tidak memengaruhi keadaan. Bisa jadi kita justru makin terjebak dan terperosok sendirian.

    Seandai kita mengalami hal ini, maka jangan bersedih, putus asa, atau berburuk sangka. Karena yang begitu berarti bagus. Itu adalah karunia dari Allah SWT. Allah membantu kita melepaskan seluruh tambatan hati selain-Nya. Allah cemburu kalau di hati ini ada selain Dia, yang mengalahkan kedudukan-Nya.

    Allah pasti mengetahui ke mana saja hati ini menambat. Baik kepada keluarga dan sanak saudara, tetangga dan teman sekerja, kawan dan kenalan, rumah, tabungan, ponsel, atau apa pun di dunia ini. Bahkan sesuatu yang terkadang kita sendiri tidak menyadarinya.

    Seseorang yang dekat dengan Allah, atau yang menjadi kekasih Allah, biasanya tambatan-tambatan hatinya sudah diputus atau dijauhkan terlebih dulu. Sampai hatinya benar-benar utuh hanya menambat kepada Allah. Semua kekasih Allah mengalami saat-saat sendirian. Sebagaimana sebelum diturunkan wahyu, Rasulullah saw juga menyendiri di Gua Hira.

    Betapa kondisi yang amat sendirian merupakan karunia Allah. Syaratnya, kita harus sadar, bertobat dan rida. Ingatlah masa-masa sebelum sendirian. Misalnya saat bisnis kita maju, salat tahajud menjadi bersamaan dengan azan subuh. Atau, salat subuh yang sudah setengah tujuh. Kita sibuk dengan berbagai aktivitas, relasi, dan teman.

    Beruntung kalau kita diselamatkan oleh Allah. Dengan mengambil kembali bisnis atau dunia yang telah diberikan-Nya. Seperti dibuat bangkrut sampai habis. Rumah yang megah berganti sederhana. Teman dan relasi menjauh. Kita pun menjadi mempunyai banyak waktu sendirian. Allah menjauhkan semua tambatan hati yang telah mencuri ibadah dan akhlak kita.

    Ketika kita ditolong Allah dengan menanggali apa-apa yang dimiliki, maka pergunakanlah kesendirian itu untuk bertafakur. Nikmatilah kesendirian itu untuk berduaan dengan Allah. Nanti kita bisa merasakan bagaimana Allah mengibur hati. Sangat jauh lebih nikmat bisik-bisik dengan-Nya.

    Allah mengondisikan kita sendirian karena Dia menghendaki kemandirian kita dalam mendekat kepada-Nya. Jika semua tambatan sudah lepas dari hati, kita semakin merunduk dan tauhid makin kuat, insya Allah nanti Allah akan memberikan lagi dunia yang baru kepada kita. Yang kira-kira tidak akan merusak hubungan kita dengan-Nya.

    Tidak akan identik sendirian selamanya. Misalkan kalau memang garisnya seseorang itu kaya, nanti akan dibuat kaya lagi oleh Allah. Amat mudah bagi-Nya. Allah Yang Mahakaya dan Yang Maha Pemberi Kekayaan. Tetapi saat diberi kembali, hati sudah tidak silau.

    “Dan ingatlah kisah Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘Wahai Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.’ Maka Kami kabulkan doanya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya, dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan jumlah mereka, sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.” (QS. al-Anbiyâ’ [21]: 83-84)

    “Dan ingatlah kisah Dzun Nûn (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap (di dalam perut ikan di laut dan pada malam hari), ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. al-Anbiyâ’ [21]: 87-88)

    Percayalah! Bagus kalau tiba-tiba Allah mengondisikan kita terpuruk dan terkubur sepi, atau merasa sendiri. Karena sebelum senang bergaul dengan orang, sebetulnya yang paling bagus kita harus senang bergaul dengan Allah terlebih dulu.

    Kemandirian dalam mendekat kepada Allah adalah salah satu hikmah dari asma Allah, al-Qayyum. Allah Yang Maha Berdiri Sendiri. Dia Maha Mandiri dan Memandirikan. Sungguh karunia, kalau tiba-tiba ditolong Yang Maha Mandiri untuk mandiri mendekat kepada-Nya.

    Kemandirian mendekat kepada Allah amat penting dan mendasar. Allah sangat menyukai kalau hati ini hanya menambat kepada-Nya. Karena itu, bagi kita yang tidak atau mungkin belum diberi karunia disendirikan, marilah membiasakan diri untuk senang menyendiri. Yaitu mandiri berduaan dengan-Nya. Contohnya i’tikaf. Usahakanlah tidak beramai-ramai, supaya tidak malah mengobrol semalaman.

    Sebagaimana kalau kita suka bergaul atau sering bertemu orang. Kita akan cenderung lupa dan tidak menyadari, kalau sebetulnya kita membutuhkan waktu untuk bertafakur. Bahkan, bisa jadi kita tidak mau mengakui kalau hati kita sebenarnya gelisah. Hidup kita sesungguhnya tidak bahagia karena tidak ingat kepada-Nya.

    “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. al-Baqarah [2]: 152)