• Headline

    Mau Dibawa ke Mana Harta Dunia Kita?

    Oleh : Abdullah Gymnastiar25 Agustus 2017 08:56
    Kita semuanya ciptaan Allah SWT. Allah pula yang mengurus dan menjamin hidup ini. Seperti rezeki bagi istri dan anak, Allah yang memberikan. Kita hanyalah perantara sebagian rezeki mereka saja. Kalau suatu saat kita meninggal lebih dulu, hidup mereka pasti tetap diurus dan dijamin oleh Allah. Mustahil Allah tidak bertanggungjawab terhadap ciptaan-Nya.

    Jadi, jelas sudah kalau istri dan anak tidak bisa dijadikan alasan untuk sibuk mengumpulkan dunia. Sebab yang begitu berarti kita meragukan janji Allah, dan sebetulnya iman kita kurang. Kita sendiri diciptakan dan diurus oleh Allah.

    Lalu, masih adakah dalih untuk sibuk ingin kaya? Pontang-panting mengumpulkan dunia, mau dibawa ke mana? Padahal setiap saat ajal bisa saja tiba-tiba datang menjemput.

    Lihatlah orang kaya, ujungnya bagaimana? Seperti Qarun, saat meninggal hartanya malah terpendam jadi harta karun. Sedikit pun tidak bisa di bawa ke alam kubur. Walaupun ada yang membawa ke kuburan, tidak lama ada yang membongkar. Misalnya saudara punya toko emas, coba di tiap jari serta leher saudara penuhi dengan emas berlian. Tidak lama, mayat saudara sudah tidak ada jari dan lehernya.

    Sampai datangnya kiamat, dunia yang sibuk kita kejar tetap di sini. Yang silih-berganti datang dan pergi, atau yang lahir dan mati itu kita. Saudara masih ingat kisah istana negara yang dibangun oleh Belanda? Sekarang istananya masih tetap di sana. Tapi apa saudara tahu di mana Belanda yang membangunnya? Seperti Jepang yang jauh-jauh dan repot-repot datang ke sini membuat gua. Jepang yang membuatnya sudah meninggal semua. Tapi gua Jepang masih dipakai oleh si Asep untuk berjualan bakso.

    Dunia dari dulu di sini. Gegerkalong dari dulu ada, saya suatu saat akan tiada. Dunia hanyalah tempat singgah. Karena itu tidak usah iri melihat orang kaya. Misalnya, biasa saja kalau melihat ada yang naik mobil bagus. Karena itu cuma kaleng, karet, dan plastik. Tapi tidak perlu menyebut, “Ah, cuma kaleng.” Karena yang begitu masih berkemungkinan iri.

    Kalau kita tidak punya, ya sudah. Cukup ucapkan masyaallah saja saat melihat orang jalan-jalan mengendarai kaleng. Nanti ketika yang punya meninggal, kalengnya juga tidak akan ikut serta dikuburkan. Bisa pindah kepada anaknya, atau bisa juga ditarik kembali oleh tempat kreditan kaleng.

    Sungguh, dunia tidak ada apa-apanya. Kita tidak boleh terpukau melihatnya. Jangan menjadi bodoh dengan sibuk mengejar atau mengumpulkannya. Atau, pernahkah saudara mendengar ada hadis dari Rasulullah yang menyampaikan, jika orang kaya atau memiliki dunia sudah dijamin bahagia dan masuk surga? Tidak!

    Rasulullah saw justru memeringatkan kita,“Demi Allah, kefakiran bukanlah yang aku takutkan pada kalian. Namun, aku takut dunia membentangkan dirinya pada kalian, sebagaimana ia telah menghamparkan dirinya pada umat sebelum kalian. Kalian akan berlomba-lomba mengejar dunia, seperti halnya mereka telah berlomba-lomba mengejarnya. Dunia akan membinasakan kalian, sebagaimana dunia telah membinasakan mereka.” (HR. Imam al-Bukhari)

    Saudara tahu mengapa Firaun mengaku dirinya Tuhan? Karena dia sangat kaya dan berkuasa. Tapi dunia pula yang telah membinasakannya. Setelah tenggelam di laut dan tiba di alam kubur, “Kepada mereka diperlihatkan neraka, pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (lalu kepada malaikat diperintahkan): ‘Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang paling keras!’” (QS. Ghâfir [40]: 46)

    Yang namanya kekurangan tidak akan ada habisnya. Keinginan atau nafsu tidak akan pernah selesai, dan semakin membuat kita membusuk lalai. Membuat kita terus bersimbah keringat mengejar dunia. Padahal kita tidak tahu dunia itu mau dibawa ke mana. Dunia akan tetap di sini, kitalah yang setiap saat bisa dibawa pulang oleh mati.

    Kalau begitu, apakah dilarang berupaya menjadi kaya? Tidak. Tapi ingatlah bahwa Allah Yang Mahakaya dan Maha Pemberi kekayaan. Allah mengetahui karakter, bakat, kemampuan, keilmuan, dan ketahanan kita terhadap dunia ini. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita, dibanding diri kita sendiri. Masing-masing kita juga sudah ada garisnya. Jadi, kaya atau tidak, bagi kita terserah Allah saja.