• Headline

    Jaga Kehormatan dengan Bekerja Keras

    Oleh : Abdullah Gymnastiar29 Agustus 2017 09:10
    Sauadaraku, salah satu ciri orang beriman kepada Allah adalah ia senantiasa memaksimalkan kemampuan dalam berikhtiar. Penuh kesungguhan, tidak mudah menyerah saat menemui jalan buntu atau kegagalan. Sebuah pepatah mengatakan, “Man jadda, wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil.

    Dalam al-Quran, Allah SWT berfirman, “..Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..” (QS. ar-Ra’d [13]: 11)

    Pantang bagi orang yang beriman untuk berpangku tangan, mengharapkan belas kasihan orang lain, apalagi sampai meminta-minta. Ia akan memaksimalkan potensi yang ia miliki sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, atas karunia berupa akal pikiran, anggota tubuh dan waktu atau kesempatan.

    Bekerja dengan pekerjaan kasar, kotor penuh debu dan tanah, di bawah terik matahari, itu adalah mulia dibandingkan meminta-minta belas kasihan dan pemberian orang lain. Bahkan, baik diberi atau pun tidak, meminta-minta adalah perbuatan yang rendah dan sangat tidak dianjurkan di dalam Islam.

    Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya seseorang di antara kamu yang berpagi-pagi dalam mencari rezeki, memikul kayu kemudian bersedekah sebagian darinya dan mencukupkan diri dari (meminta-minta) kepada orang lain, adalah lebih baik ketimbang meminta-minta kepada seseorang, yang mungkin diberi atau ditolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Pantang meminta-minta pada orang lain apalagi kita masih punya tenaga, pikiran untuk kita gunakan dalam berikhtiar menjemput rezeki Allah yang bertebaran di bumi ini. Jika seekor burung saja, ia terbang dari sarangnya di pagi hari bisa pulang kembali ke sarangnya di sore hari dalam keadaan kenyang, maka apalagi kita manusia yang Allah jadikan sebagai makhluk paling sempurna, lengkap dengan akal pikiran.

    Kesalahan sebagian orang adalah lemah iman dan lemah tekad untuk berikhtiar. Lemah iman, tidak yakin bahwa Allah Maha Penjamin Rezeki, sehingga belum apa-apa sudah putus asa. Akibatnya ia lemah tekad, malas berikhtiar, sedikit saja membayangkan kelelahan bekerja maka ia menyerah, padahal satu langkah pun belum ia tempuh. Sedangkan kebutuhannya sehari-hari tidak bisa ditolak. Tidak heran jika orang-orang seperti ini kemudian terlilit utang, semakin hari semakin besar karena yang ia lakukan untuk membayar utang adalah dengan cara mencari utang baru, gali lubang tutup lubang. Masya Allah, semoga kita terhindar dari sikap seperti ini.

    Bekerjalah dengan keras agar terjaga kehormatan kita. Bekerja bukan demi mendapat penilaian orang lain bahwa kita orang yang giat. Bukan pula untuk mendapat sanjungan sebagai orang yang berpenghasilan dan mapan. Bekerja adalah ibadah yang bisa menjaga izzah/kehormatan kita, karena bisa hidup mandiri sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.

    Kita bisa meneladani sosok Utsman bin ‘Affan dan Abdurrahman bin Auf yang memiliki etos kerja luar biasa sehingga memiliki kelapangan dalam hal materi, yang dengan itu mereka terjaga kehormatannya, bahkan bisa lebih leluasa membela agama Allah.

    Abdurrahman bin Auf ketika hijrah ke Madinah, beliau meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Ketika tiba di Madinah, beliau ditawari berbagai macam bantuan dan pemberian oleh kaum Anshar, tetapi beliau hanya minta ditunjukkan jalan menuju pasar. Beliau memulai kembali usahanya di pasar terbesar di Madinah yaitu pasar Qainuqa. Dan, dalam jangka waktu satu tahun, Abdurrahman bin Auf sudah memiliki beberapa kios dan karyawan.

    Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan salat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

    Rasulullah mengajarkan agar umatnya berdiri di atas kaki sendiri. Makan dari hasil jerih payahnya sendiri. Menjaga kehormatan dan menghindarkan diri dari sikap meminta-minta. Pantang berputus asa dari rahmat Allah karena Allah yang menjamin rezeki.

    Allah SWT menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya. Ada orang yang begitu yakin dengan jaminan Allah ini, namun usaha yang ia lakukan ala kadarnya saja. Di lain pihak ada juga orang yang terlalu yakin dengan kemampuan dirinya sendiri dalam mencari rezeki, sehingga lupa untuk bergantung kepada Allah.

    Allah SWT berfirman, “Dan, berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. al-Ankabut [29]: 60)

    Orang yang beruntung adalah orang yang berusaha secara lahir, dan ia sempurnakan usahanya dengan tawakal kepada Allah. Sikap seperti inilah yang kemudian membuatnya menuai jaminan Allah di dunia dan akhirat.

    Orang yang yakin Allah Maha Menjamin Rezeki, maka ia sungguh-sungguh dalam bekerja menjemput jaminan tersebut. Mengapa? Karena keyakinannya rezeki itu sudah ada, bahkan bertebaran di setiap jengkal bumi ini. Sehingga yang ia lakukan adalah “menjemput”, bukan “mencari”.

    “Menjemput” itu adalah untuk sesuatu yang sudah pasti ada, sedangkan “mencari” itu untuk sesuatu yang belum pasti ada. Semakin kuat keyakinan kepada Allah dan jaminan-Nya, maka semakin keras upaya menjemputnya. Orang yang “menjemput” akan bergerak dengan langkah pasti dan hati yang mantap, karena didorong dengan keyakinan yang akan dijemputnya sudah pasti ada. Sedangkan orang yang “mencari” akan bergerak diiringi rasa gamang dan was-was, karena tidak yakin yang dicarinya itu ada.

    Bekerja dengan keras, berusaha dengan sungguh-sungguh adalah bagian dari ibadah. Sehingga Rasulullah bersabda, “Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan karena usaha keterampilan kedua tangannya pada siang harinya, maka pada malam itu ia diampuni.” (HR. Ahmad)

    Banyak orang yang sudah buru-buru berkata, “Aku sudah berusaha, sekarang tinggal tawakal saja”, padahal ia belum bekerja dengan sungguh-sungguh, belum memaksimalkan potensi yang dimiliki. Ada orang yang bekerja hanya berleha-leha, datang ke tempat kerja hanya untuk mengisi absensi, dan bekerja ala kadarnya saja. Ada juga orang yang bekerja demi memenuhi pesanan dengan asal saja, tanpa keseriusan. Jika kita mengukurnya dalam kacamata profesionalisme bekerja, maka kemungkinan besar orang-orang seperti demikian akan lambat mencapai kesuksesan dalam pekerjaannya.

    Bekerja dengan keras itu tidak hanya keras secara fisik saja, bukan hanya membanting tulang, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala kalau dalam penggambarannya. Bekerja keras juga berarti bekerja diiringi dengan iman yang kuat pula. Apalah artinya jika bekerja keras namun yang dipikirkan hanya uang dan uang. Jika uang tidak didapat, maka besar kemungkinan yang hadir kemudian adalah kekecewaan luar biasa. Padahal, bukankah tidak setiap usaha itu berhasil. Adakalanya usaha pun mengalami kegagalan atau kerugian.

    Hanya para pekerja keras yang memiliki iman kuat pulalah, yang mampu melalui pasang-surut gelombang kehidupan dengan tangguh. Karena seorang pekerja keras yang memiliki iman, sebelum mengupayakan keberhasilan, ia sudah memiliki cara pandang bahwa kerja keras yang ia lakukan pun adalah lahan ibadah, yang harus bisa ia lewati dengan baik. Apa pun nanti hasil yangdi dapatkan, kerja keras yang ia lakukan harus menjadi amal saleh di hadapan Allah SWT. Masya Allah.

    Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang di jaIan Allah ‘Azza Wa Jalla.” (HR. Ahmad)

    Bekerjalah dengan keras. Tidak ada orang yang sukses di dunia ini secara tiba-tiba, melainkan pasti melalui suatu proses panjang yang ia lewati dengan kerja keras, penuh kesungguhan.