• Headline

    Silaturahim Membuka Pintu Pintu Kebaikan

    Oleh : Abdullah Gymnastiar11 September 2017 10:10
    Allah SWT berfirman, “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. an-Nisaa [4]: 1)

    Saudaraku, suatu ketika Rasulullah saw ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke surga.” Rasulullah menjawab, “Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan salat, tunaikan zakat dan engkau menyambung silaturahim.“ (HR. Bukhari)

    Ada orang yang karena merasa dirinya sudah sukses, hartanya sudah berlimpah, mobil banyak, rumah megah, ia merasa tidak perlu lagi berhubungan dengan orang lain dalam rangka silaturahim. Apalagi segala kebutuhannya bisa ia dapatkan dengan cara tinggal telepon, maka pesanan datang. Ia tidak menjalin hubungan yang baik dengan tetangga yang dekat, apalagi dengan yang jauh. Bahkan, dengan kerabat pun semakin menjaga jarak karena tidak mau dipusingkan dengan masalah yang sedang terjadi pada mereka.

    Ada juga karena ia merasa jabatannya sudah begitu tinggi, merasa sudah menjadi orang penting, tanggung jawab dan amanah yang dipikulnya pun berat, ia semakin berjarak dengan orang lain. Merasa tidak perlu lagi bersilaturahim dengan orang-orang, apalagi ia merasa tidak membutuhkan bantuan mereka. Masya Allah.

    Padahal Rasulullah bersabda, “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya di dunia bagi para pelakunya, berikut dosa yang disimpan untuknya di akhirat, daripada perbuatan melampaui batas (kezaliman) dan memutus silaturahim.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

    Dalam hadisnya yang lain, Rasulullah bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, Aku adalah ar-Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga haknya. Dan, siapa yang memutuskannya, niscaya Aku akan memutus darinya.” (HR. Ahmad)

    Tidak ada kebaikan sama sekali bagi orang yang memutuskan silaturahim. Jika seseorang merasa dengan memutus ia bisa hidup lebih tenang dan nyaman, maka itu adalah ketenangan yang semu. Manusia selalu membutuhkan orang lain dalam hidupnya karena fitrah manusia adalah makhluk sosial. Tetapi, bukan berarti kita menjalin silaturahim dengan maksud terselubung supaya terbentuk pamrih, yaitu ketika kita ada kebutuhan maka bisa memanfaatkannya. Bukan demikian.

    Silaturahim adalah menjalin persaudaraan tanpa pamrih, sehingga terbangun kasih sayang di antara sesama manusia. Urusan saling tolong-menolong, bantu-membantu, itu adalah konsekuensi dari kasih sayang yang sudah terbangun. Semakin kencang tali silaturahim, maka semakin kuat pula rasa persaudaraan di antara manusia. Semakin kuat rasa persaudaraan, maka dengan sendirinya terbangun sikap saling membantu, menolong dan bekerja sama dalam kebaikan dan kebenaran.

    Orang-orang yang menjalin silaturahim secara tulus, maka akan terasa sampai ke hatinya. Sedangkan hati tidak bisa disentuh melainkan dengan hati pula. Jika hati sudah saling terpaut, rasa kasih sayang sudah terjalin, maka persaudaraan akan terbangun. Jika sudah demikian, berbagai pintu kebaikan lainnya akan terbuka.

    Misalnya, dengan silaturahim bisa terjalin hubungan kerja sama bisnis. Dengan silaturahim, manusia bisa saling bertukar informasi mengenai banyak hal yang berguna. Bahkan, dengan silaturahim satu orang teman dengan teman lainnya bisa menjadi keluarga. Dengan silaturahim pula nilai-nilai Islam bisa hidup dengan lebih nyata, karena suasana hidup berjamaah tidak akan hadir kecuali dengan jalan silaturahim. Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang suka dilapangkan rezekinya, dipanjangkan usianya, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Semakin banyak saudara, semakin bahagialah kita. Karena ketika silaturahim terjalin baik dengan orang lain, maka terjadi saling berbagi ilmu, saling mengingatkan, saling mengajak pada kebaikan, dan saling tolong-menolong dalam kebenaran. Semakin banyak saudara, semakin beruntung. Sebaliknya, semakin banyak musuh, semakin rugi.

    Silaturahim adalah tersambungnya hati. Karena, banyak yang secara fisik saling berdekatan, tapi hatinya saling berjauhan. Namun, banyak juga yang secara fisik saling berjauhan, tapi hati berdekatan.

    Untuk memperkuat silaturahim, berikut ini beberapa kiat yang terangkum dalam 2B2L, agar silaturahim antara kita dengan saudara kita semakin erat terjaga. Pertama, bijak menyikapi kekurangan dan kesalahan orang lain. Tidak ada manusia yang sempurna dan suci dari kesalahan, setiap orang adalah tempatnya salah dan lupa. Kekurangan orang lain semestinya menjadi ladang amal bagi kita untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, dan menjadikan kesalahan orang lain sebagai pelajaran untuk tidak diikuti.

    Kedua, berani melihat kebaikan dan jasa orang lain. Untuk apa? Untuk kita balas sebagai ungkapan rasa terima kasih. Karena berterima kasih kepada manusia adalah bagian dari sikap bersyukur kepada Allah SWT. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

    Ketiga, lihat kekurangan dan kesalahan diri. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa, tapi jauh lebih berbahaya kalau kita tidak memiliki mental untuk menyadari dan mengakui kekurangan dan kesalahan diri sendiri. Karena sifat ini akan menjauhkan kita dari perbaikan diri, malah mendekatkan kita pada kesombongan.

    Keempat, lupakan jasa dan kebaikan diri. Tidak perlu merasa hebat (ujub) atas kebaikan diri kita. Karena perasaan seperti itu hanya membuat amal baik kita menjadi sia-sia. Tidak perlu mengungkit-ungkit, apalagi mengharap pamrih. Lakukanlah kebaikan, bantulah sesama, kemudian lupakan dan berserah dirilah kepada Allah SWT.

    Dalam hubungan dengan orang lain, boleh jadi kita bertemu dengan masalah yang menyebabkan adanya keretakan atau perselisihan di antara kita. Tetapi, tetap itu bukanlah alasan untuk memutuskan silaturahim. Alangkah lebih baik jika hal semacam itu kita pandang sebagai ujian, sehingga kita mau menghadapi dan menyelesaikannya dengan baik.

    Salah satu keterampilan yang perlu kita miliki dalam menjalin silaturahim adalah keterampilan mengakui kesalahan lalu memohon maaf, dan juga keterampilan untuk memaafkan.

    Allah berfirman, “Dan, tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat [41]: 34)

    Memaafkan adalah sikap yang tidak ringan. Oleh karena itu, memaafkan hanya bisa dilakukan oleh pribadi-pribadi yang kuat sejati. Kuat mengendalikan hawa nafsu, kuat mengontrol amarah dan meredam dendam. Memaafkan adalah kemampuan yang hanya dimiliki orang beriman, karena ia yakin bahwa Allah pasti benar, membalas kejahatan dengan kebaikan justru membangkitkan kebaikan yang lebih besar lagi. Sebaliknya, membalas keburukan dengan keburukan hanya menimbulkan keburukan yang lebih besar lagi.

    Rasulullah saw adalah suri teladan terbaik. Disakiti seperti apa pun, hatinya senantiasa jauh dari dendam. Beliau senantiasa memaafkan dan membalasnya dengan kebaikan. Sehingga orang yang awalnya berbuat buruk, menjadi berbalik menjadi pengikut, mendapat hidayah, dan masuk kepada barisan orang-orang yang beriman. Masya Allah.

    Bagaimana jika itikad baik untuk tetap menjalin silaturahim dengan orang yang berselisih dengan kita itu malah ditolak olehnya? Maka ikhtiar untuk menyambung silaturahim akan dicatat sebagai amal saleh kita.

    Abu Hurairah berkata, “Seorang pria mendatangi Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya punya keluarga yang jika saya berusaha menyambung silaturahim dengan mereka, mereka berusaha memutuskannya, dan jika saya berbuat baik pada mereka, mereka balik berbuat jelek kepadaku, dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal saya bermurah hati pada mereka”. Rasulullah menjawab, “Kalau memang halnya seperti yang engkau katakan, (maka) seolah- olah engkau memberi mereka makan dengan bara api dan pertolongan Allah akan senantiasa mengiringimu selama keadaanmu seperti itu.” (HR. Muslim)

    Kemudian, dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda, ”Seorang yang menyambung silaturahim bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Tetapi seorang yang menyambung silaturahim adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahim setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari)