Jumat, 29 Agustus 2014 | 12:19 WIB
POLITIK DAN PEMERINTAHAN

Kondisi Kota Bandung Disoal Berbagai Kalangan

Oleh: Evi Damayanti
Jabar - Selasa, 17 Juli 2012 | 23:05 WIB
Gerah dengan kondisi Kota Bandung yang dianggap semrawut, Bandung Institute menggelar diskusi publik, Selasa (17/7/2012). - inilah.com

INILAH.COM, Bandung - Gerah dengan kondisi Kota Bandung yang dianggap semrawut, Bandung Institute menggelar diskusi publik dengan tajuk 'Problematika serta Tantangan Kota Bandung di Masa yang Akan Datang' di caf Clio, Jalan WR Supratman, Selasa (17/7/2012).

Dalam acara dihadiri pakar, LBH, mahasiswa, Dewan Pemerhati Kehutan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) serta salah anggota Komisi V DPR RI, hampir semuanya menyayangkan situasi dan kondisi tata Kota Bandung saat ini yang mereka nilai banyak masalah dan tak kunjung selesai.

“Bandung itu punya banyak ahli atau pakar tata kota, semisal ITB. Tapi kenapa masalah kota Bandung ini sulit dipecahkan. Kalau seperti terlihat pemerintah melakukan pembiaran, kami juga sadari ini semua tanggungjawab kita bersama. Makanya Bandung Institute menggelar acara ini, nanti setelah semua gagasan atau ide disampaikan akan kami dokumentasikan untuk kemudian kami tawarkan sebagai kontrak politik kepada kepala daerah,” jelas Ketua Bandung Institute, Zainal Muttaqin.

“Bandung ini kota jasa, kreatif, cyber, atau apa. Saya lihat kepentingan mereka bermodal kuat (Kapitalis) yang mampu mengguncang pemerintah agar membuat kebijakan, namun hal itu tak bisa disalahkan karena anggaran memang minim. Hanya saja seharusnya pemerintah itu menjadi wasit bukan penerima saja, karena yang dirugikan selain masyarakat, ya pemerintah sendiri,” tambah Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad, Caroline Paskarina. Ia pun mempertanyakan saat ini Kota Bandung dibawa kemana.

Hal senada anggota Komisi V DPR RI Yudi Widiana yang mengaku heran dengan APBD Kota Bandung sebesar Rp3,4 triliun yang 40% digunakan untuk gaji pegawai dan 50% untuk hibab dan bansos. Tapi, dari APBD itu, Kota Bandung tak mampu membangun fasilitas umum yang lebih baik dan selalu harus menunggu pusat.

“Kenapa harus nunggu pusat, PAD dari hiburan, kuliner bagaimana?. Masa untuk bangun tol di kota saja menunggu pusat. Pusat pun memang sudah menganggarkan kendati kecil namun kebijakan dari lokal tidak jelas sehingga sulit untuk direalisasikan misal TMB, sarana dan prasarananya sampai sekarang tidak beres-beres. Bagaimana pusat mau bantu kalau begitu,” ujar Yudi.

Sosiologi perkotaan Budi Radjab berharap diskusi ini mampu menggugah semua pihak untuk bersama-sama memperbaiki Kota Bandung. "Bagaimana masyarakat memperbaiki kesemrawutan Kota Bandung terutama tentang situasi kondisi ketidaknyaman, kotor, kurang tunjukan estika dana lainnya. Ini juga bukan hanya untuk kalangan terbatas saja namun bisa mendorong ke masyarakat lain yang lebih luas guna membenahi kota,” jelas Budi.[ang]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERUJUNG MAUT
PIPA solar milik PT Pertamina bocor dan meledak di Subang, Kamis (28/8). Tiga korban tewas. Illegal tapping diduga jadi pemicu insiden.
ASPIRASI + Indeks