Kamis, 31 Juli 2014 | 22:30 WIB
PENDIDIKAN

Masjid Agung Mbah Wali, Jejak Islam dari Cibiuk

Oleh: Nul Zainulmukhtar
Syiar - Selasa, 24 Juli 2012 | 10:40 WIB
Mendengar kata Cibiuk, ingatan tertuju pada nama sambal. Ya, sambal Cibiuk adalah jenis kuliner yang jadi trade mark sejumlah restoran di kota besar. - inilah.com\Nul Zainulmukhtar

INILAH.COM, Bandung - Mendengar kata Cibiuk, ingatan tertuju pada nama sambal. Ya, sambal Cibiuk adalah jenis kuliner yang jadi trade mark sejumlah restoran di kota besar. Tapi, Cibiuk bukan sekadar sambal. Nama itu punya nilai sejarah Islam di Garut.

Cibiuk kini menjadi nama dari sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten Garut. Konon, daerah tersebut pernah menjadi pusat pembinaan masyarakat Islam terkemuka. Tak hanya di Kabupaten Garut, tapi juga di Jawa Barat.

Ini tak lepas dari peran dan jasa besar tokoh penyebar Islam, Syekh Ja'far Shidiq, alias Mbah Wali Cibiuk. Dia tak henti-hentinya mendorong umat mengembangkan ilmu pengetahuan serta kemajuan ekonomi, termasuk keahlian membuat perkakas rumah tangga atau makanan.

‘Sambal Cibiuk’ sendiri hanyalah satu bukti kecil warisan dari Mbah Wali yang hingga saat ini terus dikenal, berkat hasil pengembangan putrinya, Raden Ayu Fatimah.

Mbah Wali juga meninggalkan satu warisan yang tak kalah pentingnya bagi pengembangan Islam. Warisan itu adalah sebuah bangunan masjid yang hingga kini masih bisa dimanfaatkan umat Islam untuk berbagai kegiatan keagamaan.

Masjid itu memiliki ciri dan corak khas bangunan buatan para wali di Pulau Jawa. Beratap kerucut dengan disangga tiang-tiang kayu kokoh yang sambungannya tidak menggunakan paku.

Pada bagian atas atapnya dipasang sebuah benda berukir terbuat dari batu yang disebut masyarakat setempat sebagai "pataka". Diperkirakan bangunan masjid tersebut sudah berusia lebih dari 460 tahun.

Karenanya, sejumlah tokoh masyarakat berharap pemerintah bisa menjadikan masjid yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Wali di Kampung Pasantren Tengah RT 01 RW 02 Desa Cibiuk Kidul itu sebagai salah satu bangunan cagar budaya.

Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut Warjita menegaskan, Masjid Agung Mbah Wali Cibiuk dapat dimasukkan sebagai bangunan cagar budaya.

"Sebab, bangunan tersebut merupakan masjid bersejarah peninggalan Syekh Ja'far Shidiq, tokoh penyebar Islam di Cibiuk dan Limbangan pada abad ke-18. Jadi jelas merupakan bangunan cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan," tegasnya.

Sayangnya, bangunan masjid peninggalan Mbah Wali itu kini sudah banyak berubah dari aslinya. Seorang pengurus Masjid Mbah Wali, Ahmad Zainal Muttaqien sempat menjelaskan, Masjid Mbah Wali aslinya berupa bangunan panggung berukuran 6 meter kali 6 meter terbuat dari bahan kayu dan bambu, dengan lantai dari palupuh (papan terbuat dari bambu). Atapnya berupa ijuk yang di atasnya dipasangi sebuah pataka.

"Tapi sekarang yang asli, mungkin tinggal kerangka dan bentuk bangunan serta patakanya. Atapnya sudah diganti genteng, dan palupuh juga sudah diganti dengan papan kayu dari beberapa kali renovasi," katanya.

Saat ini, bangunan Masjid Mbah Wali sudah diperluas dengan cara disambungkan dengan bangunan permanen di belakangnya berukuran 11x 13 meter. Perluasan bangunan dilakukan seiring bertambahnya jumlah penduduk di daerah tersebut. Dengan penambahan bangunan tersebut, masjid mampu memuat lebih dari 200 jemaah.

Di depan Masjid Mbah Wali terdapat sebatang pohon kendal yang diduga juga berusia ratusan tahun. Usianya bahkan lebih tua dari masjid. Pohon yang buahnya oleh anak-anak sering dipakai sebagai lem penangkap capung itu dipercaya sebagai tempat pertemuan para wali zaman dulu.

Masjid Mbah Wali hingga kini sering dikunjungi para peziarah dari luar daerah, terutama bulan Rabiul Awwal (Mulud) dan Rajab. Umumnya, mereka datang ke masjid tersebut sebelum memulai ziarahnya ke makam Mbah Wali di kaki Gunung Haruman, Desa Cipareuan Kecamatan Cibiuk.

Sayang kondisi jalan menuju lokasi Masjid Mbah Wali kurang baik. Aspal banyak yang terkelupas, dan bebatuan berserakan di sejumlah tempat hingga mengganggu kenyamanan kendaraan. Karena makamnya terletak di Gunung Haruman, tak sedikit orang menyebut Mbah Wali Ja'far Sidik dengan sebutan Sunan Haruman.

Padahal sebuah catatan menyebutkan, Sunan Haruman adalah sebutan untuk kakek buyutnya Mbah Wali bernama Syekh Abdul Jabbar alias Mbah Lembang yang juga dimakamkan di dekat makam Mbah Wali.

Lokasi Masjid Mbah Wali disebut sebagai Kampung Pasantren Tengah. Diduga hal itu karena tempat tersebut tepat berada di pertengahan dari kampung-kampung dan desa di wilayah tersebut. Walhasil, masjid dan pondok pesantren yang dibangun Mbah Wali bisa dijangkau masyarakat dari berbagai tempat.[gin/jul]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
MACET NAGREG MENGGILA
JALUR Nagreg mulai ramai. Pemudik bermotor mendominasi jalur. Kendaraan mengular hingga 30 Km mulai dari Ciamis hingga Nagreg.
KARIKATUR + Indeks