Senin, 22 Desember 2014 | 11:53 WIB
EKONOMI

UU Koperasi Baru Minimalisir Praktek Rentenir

Oleh: Dadi Haryadi
Ekbis - Jumat, 26 Oktober 2012 | 19:15 WIB

INILAH.COM, Bandung - Sebelumnya, koperasi memiliki image kurang baik sebagai sebuah lembaga keuangan. Sejumlah oknum memanfaatkan koperasi untuk menjalankan praktek rentenir. Akibatnya, pelaku usaha enggan menyentuh koperasi.

Image buruk koperasi diharapkan bisa diubah melalui revisi Undang-Undang perkoperasian menggantikan UU 25/1992. Peraturan baru tersebut dinilai mampu mengembangkan koperasi sebagai sebuah lembaga yang dekat dengan pelaku usaha mikro dan kecil.

"Revisi UU tentang koperasi ini diharapkan bisa mengembalikan citra koperasi menjadi positif kembali," ujar Wakil Ketua Kadin Bidang Kemitraan dan Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (KUMKM) Jabar, Iwan Gunawan sata dikonfirmasi wartawan, Jumat (26/10/2012).

Dia menjelaskan, sebelum terjadi revisi para oknum kerap memanfaatkan koperasi untuk menjalankan praktek rentenir. Sebab, UU yang lama memiliki kelemahan yang dimanfaatkan oknum.

"Dengan adanya revisi tersebut maka akan meminimalisir praktik rentenir koperasi," paparnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, koperasi terdiri dari empat jenis yakni koperasi produsen, simpan pinjam, koperasi jasa dan koperasi konsumen. Keempat jenis koperasi tersebut memiliki fungsi yang berbeda namun bertujuan sama untuk mensejahterakan anggota.

"Meski sudah diatur namun sering ada oknum yang mencari celah memanfaatkan koperasi," ucapnya.

Menurutnya, pemerintah perlu mesosialisasikan kepada masyarakat terkait peraturan baru ini. Hal ini dinilai penting agar masyarakat tidak salah kaprah dan paham manfaat koperasi yang sebenarnya.

Iwan pun meminta pemerintah melakukan pengawasan terhadap pertumbuhan koperasi. Pengawasan sangat penting artinya agar keberadaan koperasi bisa bermanfaat bagi masyarakat.

"Peran dan fungsi koperasi dapat benar-benar sesuai prinsip dan azas yang sebenarnya sebagai soko guru ekonomi," bebernya.

Saat ini, lanjutnya, banyak koperasi berjenis simpan pinjam. Jenis ini dinilai kurang bermanfaat karena akan sulit bersaing dengan perbankan konvesional. Koperasi simpan pinjam pun kurang sesuai dengan kondisi Jabar yang memiliki potensi besar dalam bidang produksi dan konsumsi. Produksi kerajinan tangan dan kuliner merupakan sektor usaha andalan Jabar yang dinilai perlu pengembangan melalui sentuhan koperasi produsen dan konsumen.

Seperti diketahui, UU Perkoperasian yang telah berumur 20 tahun akhirnya mengalami revisi. UU baru ini diharapkan dapat merevitalisasi peran koperasi dalam perekonomian nasional sekaligus menjawab berbagai tantangan era baru ini. Peraturan ini juga diharapkan mampu melindungi masyarakat dari praktik-praktik penipuan yang mengatasnamakan koperasi.[ang]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
5.000 WARGA MENGUNGSI
HAMPIR 5.000 warga mengungsi karena banjir. Pemerintah diminta tidak berbelit-belit dalam menyalurkan bantuan.
ASPIRASI + Indeks