Minggu, 27 Juli 2014 | 00:11 WIB
POLITIK DAN PEMERINTAHAN

Banyak Gizi Buruk, Inilah Antisipasi Dinkes Bogor

Oleh:
Jabar - Senin, 5 November 2012 | 13:34 WIB
ilustrasi

INILAH.COM, Bogor - Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, melakukan sistem jemput bola dalam mengatasi masalah gizi buruk yang kerap terjadi di wilayah tersebut.

"Kami berlakukan sistem jemput bola dengan mendatangi warga-warga yang rumahnya berada di pelosok-pelosok untuk melakukan penimbangan bayi secara rutin," kata Kepala Bidang Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Devi Siregar, di Cibinong, Senin.

Devi menyebutkan, ada ratusan kader kesehatan posyandu dan puskesmas yang tersebar di setiap desa di wilayah Kabupaten Bogor.

Rata-rata satu desa memiliki dua hingga lima kader kesehatan yang bertugas dalam menyosialisasikan kesehatan kepada masyarakat.

Selain itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor memiliki 19 pusat klinik gizi di sejumlah kecamatan, 101 puskesmas dan 96 puskesman pembantu.

"Memang semua fasilitas ini belum menjangkau semua lapisan masyarakat. Karena keterbatasan sarana dan prasarana," kata Devi.

Devi menyebutkan, meski sudah tersedia sarana dan prasarana, rendahnya kesadaran masyarakat untuk mau memeriksakan diri secara rutin ke unit kesehatan masih menjadi kendala dan faktor penyebab masih terjadinya kasus gizi buruk.

Banyak kasus gizi buruk terjadi kadang sudah berlangsung lama dan lambat ditangani, karena berbagai alasan diantaranya ekonomi, jarak yang jauh dan lebih percaya ke pengobatan tradisional.

"Kader telah berupaya bekerja di lapangan. Kami melakukan sistem jemput bola, membawa pasien ke puskesmas untuk perawatan," katanya.

Menurut Devi, kasus gizi buruk tahun ini justru mengalami penurunan dari tahun sebelumnya (2011) sebanyak 252 kasus menjadi 149 kasus tahun 2012.

Dari 149 kasus gizi buruk yang ditangani, sebanyak 49 masih dalam penanganan.

Kematian balita dan batita yang disebabkan oleh gizi buruk juga mengalami penurunan pada tahun lalu sebanyak sembilan kasus, tahun ini lima kasus.

Wilayah Kabupaten Bogor yang luas mencapai 2.071,21 km persegi terdiri dari 40 kecamatan, 410 desa dan 16 kelurahan memiliki kepadatan penduduk lebih dari 4 juta.

Luasnya wilayah, jumlah penduduk yang banyak menjadi salah satu kendala dalam mengatasi gizi buruk di Kabupaten Bogor.

Sebaran gizi buruk merata terjadi di semua wilayah. Namun, sejumlah kasus yang sering terjadi di wilayah Cijeruk, Citereup, Lewiliang, Parung Panjang dan Tenjo.

Akhir Oktober lalu dua batita dilarikan ke RSUD Cibinong oleh Relawan Peduli Bogor Barat karena gizi buruk.

Dua batita tersebut yakni Wani (2) warga Kampung Gintung Cilejet, RT 15/RW 5 Kecamatan Parung Panjang dan Zahwa batita usia 19 bulan warga Kampung Azere RT 05/RW 02 Desa Tapos, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Menurut Dessy Suprhartini, Relawan Peduli Bogor Barat, kasus gizi buruk di wilayah Parung, Tenjo dan sekitarnya cukup tinggi.

"Warni dan Zahwa ini marupakan kasus yang kesekian kalinya. Sebelumnya tahun lalu ada dua pasien gizi buruk yang meninggal karena terlambat dibawa ke rumah sakit," katanya. ANT [ito]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
MACET NAGREG MENGGILA
JALUR Nagreg mulai ramai. Pemudik bermotor mendominasi jalur. Kendaraan mengular hingga 30 Km mulai dari Ciamis hingga Nagreg.
KARIKATUR + Indeks