Jumat, 29 Agustus 2014 | 15:00 WIB
POLITIK DAN PEMERINTAHAN

Perlu Nurani untuk Menghitung UMK

Oleh:
Jabar - Kamis, 8 November 2012 | 09:00 WIB
ilustrasi - inilah.com

PENGUSAHA dan pekerja ditakdirkan untuk saling membutuhkan. Tapi, takdir pula yang membuat kedua pihak berseteru terus ketika menyangkut persoalan upah. Selalu perlu pihak ketiga untuk menyelaraskan hubungan mereka. Dan di sinilah pemerintah berperan.

Hubungan buruh-majikan selalu memanas setiap menjelang akhir tahun, saat pemerintah menghitung ulang angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL), yang akan menjadi acuan penyesuaian upah minimum kabupaten/kota (UMK) yang harus dibayar pengusaha. Tahun ini, KHL Kota Bandung, misalnya, ditetapkan sebesar Rp1.465.000 -- naik 15,24% dibanding tahun lalu.

Di Jawa Barat, tempat lebih dari 7 juta buruh mencari nafkah, angka KHL-nya bervariasi. Tergantung kabupaten atau kotanya. Otomatis UMK-nya juga berbeda-beda. UMK Kabupaten Bekasi berada di posisi puncak dengan nilai Rp1.491.866, sedangkan Kota Banjar paling rendah dengan Rp780.000. UMK Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat berada di posisi menengah, dengan kisaran antara Rp1.271.625 – Rp1.236.991.

Disparitas upah ini mengundang masalah. Buruh dari daerah-daerah yang UMK-nya lebih rendah pasti merapat ke kabupaten atau kota yang bisa membayar lebih tinggi. Tidak mengherankan jika Bekasi dan Depok, contohnya, mengalami ledakan penduduk.

Namun, masalah paling serius bagi buruh adalah angka-angka kelayakan tersebut terlalu sumir. Survei yang dilakukan gabungan sejumlah serikat pekerja di Kota Bandung menghasilkan angka KHL Rp1.700.661. Angka inilah yang tampaknya menjadi acuan para buruh Kota Cimahi, misalnya, untuk menuntut UMK 2013 sebesar Rp2,2 juta.

Tuntutan tersebut tentu menuai reaksi keras kalangan pengusaha. Sebagian dari mereka mengancam akan mogok produksi. Ada pula yang menggertak akan menutup pabrik dan merelokasinya ke negara lain, gertakan yang hanya akan menambah panas suasana. Sebab, semua tahu tingkat upah buruh di Indonesia termasuk yang cukup menawan investor. Di sini upah rata-rata per jam hanya US$0,60. Di Malaysia $2,88 per jam, di Filipina $1,04, dan di China $2.

Berapakah sebenarnya upah yang layak bagi buruh? Akan sulit menetapkan angka yang fair kendati cara menghitungnya sama. Karena ada yang absen dari daftar 60 indikator yang digunakan dalam penghitungan KHL, yaitu nurani.

Dalam satu dekade terakhir ini, secara sadar kita membiarkan kesenjangan sosial akibat ketimpangan pendapatan semakin parah.

Menurut laporan Global Wealth 2012, dari 155 juta orang dewasa Indonesia saat ini hanya terdapat 104.000 orang kaya dengan total kekayaan di atas US$1 juta atau sekitar Rp9 miliar. Yang masuk kategori miskin berjumlah 82% dari 155 juta orang dewasa hidup. Angka tersebut jauh di atas lebih jumlah orang miskin dunia yang mencapai 69% dari total orang dewasa.

Perlu nurani untuk bisa mengakui bahwa nasib buruh kita belum tersentuh pertumbuhan ekonomi yang belakangan ini memang patut diapresiasi. Mereka butuh hidup layak.

*Tulisan Fokus InilahKoran, Kamis (8/11/2012)

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERUJUNG MAUT
PIPA solar milik PT Pertamina bocor dan meledak di Subang, Kamis (28/8). Tiga korban tewas. Illegal tapping diduga jadi pemicu insiden.
ASPIRASI + Indeks