Selasa, 2 September 2014 | 13:42 WIB
LINTAS JABAR

Abrasi, 50 Ha Tambak di Karawang Terancam Hilang

Oleh: Asep Mulyana
Pantura - Jumat, 9 November 2012 | 17:31 WIB
Abrasi pantai - inilah.com/Asep Mulyana

INILAH.COM, Karawang - Abrasi pantai yang melanda pesisir Karawang kian memprihatinkan. Dari enam kecamatan pesisir yang ada, dua di antaranya paling parah abrasinya.

Sebanyak dua kecamatan itu yakni Cibuaya dan Cilebar. Adapun bibir pantai yang abrasi di Cibuaya, panjangnya sekitar 10 kilometer. Sedangkan di Cilebar mencapai lima kilometer.

Meski kondisinya sudah memprihatinkan, hingga saat ini belum ada penanganan yang serius dari pemerintah. Padahal, jika tak ditangani dalam waktu dekat, 50 hektare tambak yang ada di dua kecamatan itu terancam hilang.

“Abrasi ini perlu segera ditangani. Apalagi, dampaknya tambak yang ada di sekitar lokasi itu akan hilang. Mengingat, tambak tersebut lokasinya berada di dekat bibir pantai. Jadi bila air laut pasang, puluhan hektare tambak itu akan tergenang banjir rob,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Karawang Yayat Supriyatna, saat dihubungi melalui selulernya, Jumat (9/11).

Yayat mengatakan akibat abrasi ini produktivitas tambak jadi menurun. Bahkan, dari total hasil produksi per tahun yang mencapai 35 ribu ton, ancaman kehilangan hasilnya mencapai 25 %. Dengan begitu, petambak akan sangat merugi. “Jika dibiarkan, setiap tahun kami kehilangan 25 % hasil produksi,”cetus Yayat.

Menurutnya, kerusakan bibir pantai ini sebenarnya sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu. Bahkan, instansinya sering melaporkan kasus ini ke pihak terkait. Namun, hingga saat ini untuk penanganannya belum ada realisasinya.

Dikatakan dia, pemerintahan pusat menyiapkan Karawang sebagai daerah industri perikanan. Seperti, dibangunnya pusat penelitian perikanan dan kelautan. Bahkan, saat ini ada rencana pembangunan sekolah tinggi perikanan. Namun ironisnya, tambak yang merupakan laboratorium penelitiannya terancam hilang akibat abrasi.

“Sebenarnya, potensi perikanan yang dimiliki Karawang cukup tinggi. Terutama, untuk udang dan ikan. Akan tetapi, perhatian untuk memperbaiki infrastrukturnya sangat minim. Jangankan untuk mengatasi abrasi, perbaikan saluran irigasi yang melintasi tambak dan konservasi hutan mangrove pun masih minim. Padahal, irigasi dan hutan mangrove yang bagus, merupakan pendukung keberhasilan produksi tambak ini. Belum lagi masalah abrasi, yang hingga kini tak ada upaya mengatasinya,” jelas Yayat.

Menurut dia, untuk penanganan abrasi di dua kecamatan itu membutuhkan biaya sekitar Rp5 miliar. Mengingat, abrasi tersebut perlu ditahan dengan bangunan yang permanen. Bukan seperti saat ini, yang hanya menggunakan karung berisi pasir.[jul]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
DPRD Baru Kawal Pemprov
SEBANYAK 100 anggota DPRD Jabar resmi dilantik. Ahmad Heryawan berharap, para wakil rakyat bisa bersanding membangun Jabar.
ASPIRASI + Indeks