Jumat, 19 Desember 2014 | 06:44 WIB

Ironi Pembangunan Jalan Tol Bocimi

Oleh:
Fokus inilah - Rabu, 14 November 2012 | 09:00 WIB
ilustrasi

PEMBANGUNAN ruas jalan tol di Jawa Barat banyak yang terkendala, bahkan ada yang terancam. Tapi, yang menimpa Tol Bocimi agak unik. Investor keteteran. Pemerintah harus bersikap dan mengambil langkah yang berpihak kepada rakyat.

Masing-masing urusan jalan tol rupanya memiliki gradasi kemudahan-kesulitan. Yang paling mudah tentulah mengutip uang jasa pemakaian jalan tol. Juga agak gampang, menaikkan tarif tol. Operator dan pengelola jalan tol tinggal bermain dengan pemerintah dan wakil rakyat yang sebagian masih bermental korup.

Tingkat kesulitan yang paling tinggi adalah proses pembangunan jalan tol. Selain harus ulet mengejar kredit sindikasi perbankan, tawar-menawar ganti rugi lahan tak kalah beratnya. Apalagi jika sindikasi perusahaan konstruktor jalan tol kemudian mengalami krisis finansial.

Lihatlah apa yang terjadi pada pembangunan Tol Bocimi. Jalan bebas hambatan yang menghubungkan Bogor, Ciawi, Sukabumi ini mestinya sudah mulai jalan proses pembangunannya. Jangan proses konstruksi, bahkan pembebasan lahannya masih tertatih-tatih. Bahkan sementara terhenti.

Fakta bahwa sudah terlayangkan surat permintaan penghentian kegiatan pembebasan tanah untuk Tol Bocimi ke Kementerian PU adalah sesuatu yang menyedihkan. Lebih menyedihkan karena salah satu penyebabnya adalah kondisi satu dari tiga perusahaan konsorsium yang membentuk PT Trans Jabar –PT Jasa Sarana Jabar, PT Bakrie Toll Road, PT Bukaka Teknik Utama—terlilit krisis finansial.

Maka, keinginan masyarakat pengguna jalan Bogor-Sukabumi terbebas dari kemacetan, kini tinggal impian. Jalur sempit yang kini kian menyempit karena pertumbuhan kendaraan bermotor itu akan terus menyengsarakan.

Persoalan pembebasan lahan memang jadi salah satu faktor yang selalu menghambat pembangunan jalan tol. Jarang sekali proses pembebasan lahan berjalan mulus. Selalu saja ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan kondisi itu untuk memetik keuntungan sebesar-besarnya.

Pemerintah, karena punya kuasa, ingin membeli lahan dengan ganti rugi serendah-rendahnya. Pemilik lahan, karena tahu kebutuhan pemerintah yang mendesak, memasang harga tinggi. Kadang-kadang, di tengah itu muncul pula spekulan dan calo yang memanfaatkan keadaan.

Tidaklah mengherankan jika proses pembebasan lahan ini menyita waktu yang sangat panjang. Tol Bocimi bukan satu-satunya. Pembebasan lahan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) juga molor. Sampai pertengahan tahun ini baru 20% proses pembebasan lahan bisa diselesaikan. Biaya pembebasan lahan mencapai 10% dari total investasi proyek sebesar Rp10 triliun. Padahal, pembangunan jalan tol sepanjang 58,5 km ini direncanakan mulai tahun 2014.

Dalam konteks kegagalan-kegagalan pihak swasta, baik sendiri-sendiri maupun dalam bentuk konsorsium, memenuhi kewajibannya, kita berharap pemerintah sebagai pemberi proyek bisa bertindak tegas. Kita ingin pemerintah dan pihak swasta bermain pada koridor yang sudah ditetapkan dalam nota kesepahaman, apalagi jika sudah tertera dalam kontrak yang mengikat.

Janganlah pemerintah bersikap mendua jika berhadapan dengan investor-investor raksasa ini. Jangan sampai pemerintah memicingkan mata dan memberi pemaafan berlebihan ketika mereka, para kontraktor dan pengelola itu, gagal menjalankan kewajibannya. Tetapi, di sisi lain pemerintah memberikan keleluasaan kepada pengelola jalan tol untuk menaikkan tarif jalan tol karena kekeliruan perhitungan investasi yang dilakukan pengusaha, dan membebankannya kepada pengguna jalan tol.

Juga dalam hal rencana pembangunan Tol Bocimi. Ketegasan pemerintah dituntut terhadap kelemahan-kelemahan investor, termasuk dalam penyediaan modal investasi. Agar segala rencana pemerintah untuk menyenangkan rakyat banyak, bisa terwujud. Jadi, bukan hanya untuk menyenangkan kalangan investor.[ang]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
PUTING BELIUNG KEPUNG BANDUNG
PUTING beliung menerjang kawasan Bandung Timur. Puluhan rumah rusak, jalanan macet. Seorang nenek, tewas tertimpa bangunan.
ASPIRASI + Indeks