Rabu, 23 Juli 2014 | 18:03 WIB

Mimpi Indonesia Vs Upah Buruh

Oleh: Hairul Fatoni
Fokus inilah - Jumat, 16 November 2012 | 11:51 WIB
inilah.com/Salman Farist

SESUSAH apakah menaikkan upah minimum buruh? Kalau pertanyaan tersebut kita ajukan kepada-- misalnya -- para penanggung jawab perekonomian Amerika Serikat atau Kanada, jawabannya pasti, “Very beurat.”

Bahkan di masa lalu, mereka bisa mengatakan, “Jangan coba-coba!” Maka ketika pemerintah Haiti berkeras untuk menaikkan upah buruhnya, terjadilah kudeta yang didukung kekuatan Barat.

Alasannya sederhana saja. Kenaikan upah pekerja di Haiti akan menyebabkan harga-harga kaus kaki, pakaian dalam, dan T-shirt di toko-toko di AS dan Kanada melonjak dan menguras dompet kelas pekerja di kedua negara tersebut.

Banjir darah dalam kudeta tersebut telah membuka mata sebagian pemimpin dunia tentang pentingnya memperkecil kesenjangan tingkat kesejahteraan antara bangsa-bangsa pekerja dan negara-negara konsumen.

Lagi pula, rendahnya tingkat upah buruh ditengarai tidak selalu menguntungkan negara-negara maju. Banyak perusahaan multinasional merelokasi industrinya ke negara-negara berupah rendah. Akibatnya, tingkat pengangguran di negeri asal mereka membengkak.

Kini, setidaknya sejak empat tahun terakhir ini, kenaikan upah buruh adalah tren di seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia. Sayangnya, kenaikan upah di Indonesia agak tersendat, bahkan jika dibandingkan dengan kalangan ASEAN sendiri.

Tingkat upah minimum rata-rata buruh di Indonesia bahkan berada di bawah Kamboja yang baru pulih dari perang saudara. UMR kita memang berada sedikit di atas Vietnam.

Tapi, selisih yang sedikit ini tak patut dibanggakan karena biaya hidup di Vietnam jauh di bawah Indonesia. Data 2010 menunjukkan upah minimum harian buruh Kamboja setara dengan lima kilogram beras dan Vietnam empat kilogram. Sedangkan UMR di Indonesia untuk tahun yang sama hanya setara dua kilogram beras.

Bisa dipahami jika belakangan ini tuntutan perbaikan nasib buruh ditampilkan dalam aksi-aksi yang cukup beringas, bahkan cenderung membabi-buta. Mereka melakukan sweeping, menutup jalan raya, dan mengganggu ketertiban umum. Ini patut kita sesalkan.

Kita mengapresiasi inisiatif Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang pekan lalu memprakarsai penandatanganan Deklarasi Harmoni Industri yang melibatkan unsur pemerintah, pengusaha, dan pekerja saat di kawasan Kabupaten Bekasi.

Ketiga unsur tersebut memang ditakdirkan untuk saling membutuhkan. Dan takdir pula yang seharusnya menyingkirkan segala bibit perseteruan setiap kali membahas persoalan upah.
Fakta yang tidak boleh kita abaikan adalah bahwa kesenjangan sosial akibat ketimpangan pendapatan di negeri ini begitu parah. Buruh termasuk bagian dari kelompok masyarakat yang terpinggirkan dalam hal kesejahteraan.

Mustahil mewujudkan mimpi Indonesia menjadi raksasa ekonomi ketujuh di dunia pada 2030 selama kesejahteraan lebih dari 40 juta buruh yang ada sekarang belum menjadi mimpi bersama di antara ketiga unsur tersebut. [ito]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
JOKOWI PRESIDEN
KOMISI Pemilihan Umum (KPU) menetapkan pasangan Joko Widodo- Jusuf Kalla pemenang pilpres.
KARIKATUR + Indeks