Minggu, 26 Oktober 2014 | 12:08 WIB
LINTAS JABAR

Kekerasan Terhadap Perempuan di Garut Meningkat

Oleh: Zainulmukhtar
Priangan - Minggu, 25 November 2012 | 20:50 WIB
ilustrasi

INILAH.COM, Garut - Kasus kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Garut terindikasi mengalami peningkatan. Hal itu diakibatkan perkembangan sosial ekonomi yang tak kunjung membaik.

"Banyak faktor menjadi penyebab munculnya kekerasan terhadap perempuan di Garut. Antara lain rendahnya pendidikan, dan sistem kekeluargaan patriarki. Dukungan pemerintah juga belum maksimal. Memang ada kecenderungan kasusnya meningkat, dan itu kelihatannya lebih karena kondisi ekonomi," kata Penanggung Jawab Paguyuban Perempuan Garut (PPG), Nita K Widjaya, Minggu (25/11/2012).

Nita yang juga Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Garut menyebutkan, dari sekitar 121 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ditanganinya, 68% diantaranya berupa kekerasan terhadap perempuan. Kasus kekerasan terhadap perempuan tersebut menyangkut kekerasan seksual, psikis, penelantaran, rumah tangga, dan ekonomi. Kasus terjadi tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Garut.

"Sedangkan kasus perkawinan di bawah umur, ada sekitar 6% dari 68% kasus kekerasan terhadap perempuan ini. Penyebabnya antara lain karena ketidaktahuan, 'kecelakaan' atau MBA (married by accident), dan ekonomi," kata Nita yang akrab disapa Bunda Nita.

Dia mengingatkan semua pihak agar mengenali setiap bentuk kekerasan terhadap perempuan, dan juga anak, serta segera menyikapinya dengan memprosesnya ke ranah hukum.

"PPG sendiri siap menampung korban kekerasan, dan mendukung proses pemulihannya. Siapapun yang merasa jadi korban kekerasan, silahkan datang ke alamat kami di Komplek Paseban 2 Blok C Nomer E7 Kelurahan Sukagalih Kecamatan Tarogong Kidul," ujarnya.

Terkait kasus yang menimpa Fany Octora (18), Nita menegaskan pihaknya kini sedang memfokuskan perhatian untuk mendukung pemulihan Fany agar tidak terus menerus merasa trauma.

"Kita berharap korban tidak dieksploitasi pihak tertentu. Anak ini membutuhkan kejelasan status, legalitas, dan masa depan. Siapapun jadi korban kekerasan, kita dukung pemulihannya. Terlepas apakah dia korban publik figur, tokoh politik, atau masyarakat biasa," tandas Nita.

Fany Octora sendiri terindikasi kuat menjadi korban perkawinan di bawah umur dengan sejumlah kemelut menyertainya. Dia santri Pesantren al Fadilah Balubur Libamgan asal Kampung Cukanggaleuh Desa Dunguswiru Kecamatan Balubur Limbangan sempat dinikahi Bupati Garut Aceng HM Fikri pada 14 Juli 2012. Namun berselang empat hari kemudian, 18 Juli 2012, dia diceraikan begitu saja lewat pesan SMS.[ang]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
TARIK-ULUR KABINET JOKOWI
PRESIDEN Jokowi masih belum mengumumkan susunan kabinetnya. Ada tarikmenarik kepentingan dalam proses seleksi.
ASPIRASI + Indeks