Kamis, 31 Juli 2014 | 14:23 WIB
LINTAS JABAR

Dokter RSUD Gunung Jati Ancam Gelar Aksi

Oleh: Muhamad Syahri Romdhon
Pantura - Selasa, 8 Januari 2013 | 20:35 WIB
ilustrasi

INILAH, Cirebon - Akibat banyaknya masalah internal yang tak kunjung usai, puluhan dokter hingga staf yang tergabung dalam Forum Karyawan Peduli Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunung Jati Kota Cirebon mengancam akan menggelar aksi keprihatinan. Mereka pun meminta sikap Wali Kota Cirebon untuk memberikan ketegasan atas berbagai masalah tersebut.

Koordinator Forum Karyawan Peduli RSUD Gunung Jati, Ismail Jamaludin mengatakan masalah yang sedang dialami RSUD Gunung Jati bukanlah masalah yang baru muncul, melainkan masalah lama. Seperti pemberitaan di beberapa media, yakni kasus calo Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), hingga kurangnya disiplin para dokter, dan lainnya. Namun, upaya penyelesaian masalah tersebut tiap kali tak membuahkan hasil.

Ismail yang merupakan dokter ortopedi dan traumatologi RSUD Gunung Jati mengatakan hal tersebut disebabkan regulator terkait yang dipandang tutup mata hingga menyebabkan ketidaknyamanan suasana kerja para karyawan di dalam rumah sakit tersebut. Dan kondisi inilah yang membuat puluhan karyawan rumah sakit dari beragam profesi membentuk forum tersebut.

Melalui forum tersebut, dia meminta pelaku mafia CPNS sekaligus oknum rumah sakit, yang telah terbukti dan bahkan mengakui perbuatannya, tidak lagi berada dan tidak lagi menjabat jabatan penting di RSUD Gunung Jati.

Terkait tudingan beberapa pihak atas kurangnya kedisiplinan dokter RSUD Gunung Jati akibat berpraktik di tempat lain, Ismail menyampaikan dasar atau payung hukumnya. Berdasar Permenkes 631 tahun 2005 hak kerja tenaga medis telah diatur, dan dalam hal ini dokter bekerja di tiga tempat (rumah sakit).

Dia menilai selama ini yang dilakukan pada dokter, tidak ada pelayanan yang diberikan asal-asalan. Bahkan hingga kapanpun, kegawatan kondisi pasien terus menjadi prioritas. Dia mengeluhkan banyaknya masalah yang tak kunjung padam. Pasalnya selama ini, pihaknya berupaya untuk mengkomunikasikan dan mencari jalan keluarnya, namun tetap saja tidak membuahkan hasil. Ketika diminta diperjelas, Ismail memilih untuk tidak menjawab dikarenakan masalah internal.

Lebih lanjut dia mengatakan, usaha komunikasi itu sudah dilakukan berbagai tingkatan, sejak tingkat direksi rumah sakit, dewan pengawas rumah sakit, komisi C DPRD Kota Cirebon yang membidangi kesehatan, sekretaris daerah (sekda), hingga wali kota Cirebon.

“Ya begitulah, hingga saat ini, masih belum menemukan jalan keluar. Bahkan sejak diundang enambulan lalu, Wali kota Cirebon belum pernah menemui dan mendengarkan persoalan rumah sakit, terlebih untuk memberikan kebijakan," jelasnya.

Wizhar Syamsuri, salah satu dokter dan anggota Forum Karyawan Peduli RSUD Gunung Jati mengatakan baru beberapa hari dibentuk, forum tersebut memiliki anggota yang terdiri dari 42 dokter, sekitar 30 pejabat, dan staf manajemen, dan lebih dari 90 orang paramedis. Dia menjelaskan forum tersebut adalah gerakan moral yang lebih besar dari karyawan rumah sakit untuk mendorong regulator terkait, seperti sekda hingga kebijakan-kebijakan Wali Kota Cirebon guna memperbaiki RSUD Gunung Jati.

"Kami hanya meminta agar Wali Kota Cirebon menyempatkan untuk duduk bersama, dan memberikan sikap atas masalah yang selama ini terjadi," katanya.

Ketua Badan Koordinasi Pendidikan, Tresna, mengatakan secara prinsip dokter terikat dengan sumpahnya, yakni mengutamakan pelayanan pasien. Namun, kalau kembali tidak direspons, pihaknya akan menggelar aksi keprihatinan. "Hanya saja, gerakan itu tidak akan mengganggu pelayanan kepada pasien," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUD Gunung Jati Heru Purwanto menerangkan persoalan calo CPNS menjadi tanggung jawab Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BK Diklat). Bahkan, kasus tersebut sendiri sudah mendapat SP3 dari pihak kepolisian.

“Saya tidak memiliki wewenang sama sekali untuk menghentikan oknum calo tersebut. Apalagi sudah ada SP3 dari polisi. Dan saya serahkan seluruh masalah ini pada BK Diklat terkait status kepegawaiannya,” jelasnya.

Terhadap aksi forum peduli karyawan, Heru balik menuding aksi para dokter adalah upaya pengalihan isu atas problem indisipliner mereka, terutama saat libur panjang akhir tahun lalu. Dia menyebutkan, sejumlah dokter tertangkap basah BK Diklat tidak hadir usai cuti bersama libur Natal dan tahun baru.

Sebagai PNS, mereka terikat dengan aturan RSUD Gunung Jati. Disinggung permintaan mereka untuk bertemu langsung Wali Kota, Heru mempersilahkannya. “Besok langsung saya temui dokter-dokter itu. Saya hanya ingin tahu, sebenarnya, apa yang mereka mau,” katanya.[jul]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
MACET NAGREG MENGGILA
JALUR Nagreg mulai ramai. Pemudik bermotor mendominasi jalur. Kendaraan mengular hingga 30 Km mulai dari Ciamis hingga Nagreg.
KARIKATUR + Indeks