Senin, 22 September 2014 | 05:07 WIB
POLITIK DAN PEMERINTAHAN

Inilah Alasan Kandidat Memilih Kampanye Blusukan

Oleh: Dadi Haryadi
Jabar - Jumat, 15 Februari 2013 | 19:40 WIB
Calon Gubernur Ahamd Heryawan - istimewa

INILAH, Bandung - Hampir seluruh pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2013 melakukan kampanye lewat aksi blusukan ke masyarakat. Para kandidat tanpa sungkan mendatangi langsung pasar tradisional, terminal dan pusat keramaian lainnya.

Para calon pemimpin Tatar Pasundan tersebut berusaha mendengarkan keluhan dan keinginan masyarakat sambil mengumbar janji kampanye. Cara itu dilakukan demi menarik simpati 32,5 juta pemilih di Jabar.

Ketua Tim Pemenangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar, Imam Budi mengaku, metode blusukan dipilih karena sesuai keinginan masyarakat. Dengan bertemu dan berdekatan langsung, masyarakat akan lebih mengenal dengan calon pemimpinnya.

"Blusukan itu untuk mendekatkan calon dengan masyarakat," ujar Imam saat dihubungi melalui telepone, Jumat (15/2/2013).

Menurutnya, blusukan juga terbilang efektif untuk menarik simpati masyarakat. Sebab cara ini akan membuat masyarakat setara dengan calon sehingga komunikasi akan terjalin lebih mudah.

Blusukan, lanjutnya, sesuai dengan bentuk kampanye yang dilakukan pasangan nomor urut 4 tersebut yakni kampanye simpatik. Metode ini juga diyakini lebih efektif dibandingkan metode kampanye konvensional.

"Dengan blusukan calon akan mudah menyerap aspirasi secara langsung," katanya.

Dari sisi ongkos, bebernya, pengeluaran biaya kegiatan blusukan relatih lebih murah dibandingkan kampanye terbuka. Hanya saja, butuh stamina ekstra dari pasangan calon dan tim suskes dalam menjalani kegiatan seperti ini.

"Cukup menguras stamina apalagi kalau titik blusukannya sangat banyak," bebernya.

Hal yang serupa diungkapkan Ketua Tim Pemenangan Dede Yusuf-Lex Laksamana, Didin Supriadin. Menurutnya, kampanye blusukan lebih murah meriah.

Meski lelah, katanya, rasa itu akan terobati saat masyarakat menyambut dengan antusias pasangan nomor urut 3. "Karena disambut dengan meriah maka kami mendapat tenaga ekstra," beber Dindin.

Sementara itu, Pengamat Politik dari Universitas Parahyangan Asep Warlan menilai kampanye blusukan sedang digemari masyarakat. Cara itu dilakukan kandidat hingga pejabat yang sudah terpilih untuk meningkatkan citra dihadapan masyarakat.

"Blusukan sedang ngetren sehingga banyak yang menggunakan metode seperti itu," ucap Asep Warlan.

Metode blusukan, kata Asep, belum tentu berhasil menarik simpati pemilih mengingat belum ada penelitian yang menyebutkan efektivitas blusukan. Metode seperti ini juga belum tentu bisa dibilang ber-ongkos murah.

"Kalau blusukannya sudah direncanakan jauh hari mungkin bisa murah," katanya.

Asep juga berharap metode blusukan jangan hanya dilakukaan kandidat saat kampanye saja karena seharsunya dilakukan sebelum dan sesudah terpilih. Sebab, metode ini bisa menyerap aspirasi langsung dari masyarakat.

"Harus tiru jokowi yang tetap blusukan meski sudah terpilih," pungkasnya.[ang]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Jabar Awali Sejarah Monorel
SOFT launching monorel mewarnai pesta rakyat De Syukron 4 di Gedung Sate, Jumat (19/9). Gubernur Jabar Ahmad Heryawan berharap monorel tahap pertama rampung 2017.
ASPIRASI + Indeks