Selasa, 2 September 2014 | 06:24 WIB
PENDIDIKAN

Kurikulum Baru Untungkan Guru

Oleh: Evi Damayanti
Umum - Jumat, 22 Februari 2013 | 07:15 WIB

INILAH, Bandung - Dinas Pendidikan Jabar mengklaim kurikulum baru lebih menguntungkan guru. Sebaliknya, sejumlah guru mengaku khawatir tidak kebagian mengajar.

Kepala Disdik Jabar Wahyudin Zarkaysi mengatakan, pada dasarnya Kurikulum 2013 bukan merupakan kurikulum baru melainkan hanya pengembangan dari kurikulum sebelumnya. Sebab hanya beberapa kontennya yang dikurangi, dan model pembelajarannya ditujukan dalam pembentukan karakter.

Dengan begitu itu, kata Wahyudin, tugas guru pun tidak begitu berat dan lebih banyak diuntungkan. "Pembelajaran siswa aktif sehingga tidak memberatkan guru, siswa dituntut memahami pelajaran. Guru juga menjadi lebih enak karena semua sudah disiapkan pemerintah seperti silabus sudah disiapkan," kata Wahyudin.

Menurutnya, pembelajaran yang ada saat ini kurang dalam pembentukan karakter. Contohnya saja dalam pelajaran agama yang diberikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga universitas justru hasilnya membuat anak-anak tidak percaya pada Tuhan. "Anak-anak tidak percaya Tuhan sekarang karena kalau ujian mereka nyontek. Kalau percaya Tuhan, mereka kalau nyontek harusnya takut karena Tuhan mengetahui. Untuk itu pembentukan karakter itu yang dikuatkan," katanya.

Lebih jauh Wahyudin menjelaskan, sebanyak 90% sekolah di Jawa Barat sudah siap menyambut pemberlakuan kurikulum baru. Jumlah tersebut ditetapkan berdasarkan nilai akreditasi sekolah di Jawa Barat yang mayoritas sudah bernilai A dan B.

Namun demikian, sesuai keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kurikulum 2013 untuk jenjang sekolah dasar hanya akan diterapkan pada SD yang berakreditasi A dan B. Sedangkan untuk tingkat SLTP dan SLTA 100% akan menerapkan kurikulum baru tahun ini,” ujar Wahyudin.

Berbeda dengan sikap Kadisdik, sejumlah guru malah mengaku gelisah dengan rencana pemberlakuan kurikulum baru. Mereka khawatir tidak akan kebagian mengajar karena sejumlah materi pelajaran dihapus.

Seperti disampaikan Ketua Forum Komunikasi Guru Honorer (FKGH) Yanyan Herdian kepada INILAH, Kamis (21/2/2013). Menurutnya, kekhawatiran itu muncul terutama di kalangan Guru Bahasa Sunda, Muatan Lokal, Lingkungan Hidup, Komputer dan Guru Seni Budaya dan Keterampilan.

Menurut Yanyan, kekhawatiran itu mencuat menyusul pesan para kepala sekolah yang mewanti-wanti para guru agar menyesuaikan diri apabila kurikulum 2013 mulai diterapkan. "Dari pengakuan para guru, kepala sekolah sudah mewanti-wanti agar para guru menyesuaikan dengan kurikulum baru itu, jika tidak menyesuaikan kemungkinan bisa dipecat, sebab kalau beralih mengajar materi di luar bidangnya, kemungkinannya sangat kecil," jelas Yanyan di sela-sela aksi peringatan hari ibu internasional di Jalan Cikapayang, Kamis (21/2/2013).

Yanyan pun mengaku pesimistis revisi Kurikulum 2013 bisa sesuai keinginan guru yakni mempertahankan bahasa daerah (bahasa Sunda). "Sekarang saja sudah mulai disosialisasikan dan pemerintah ataupun kepala sekolah tidak peduli dengan keluhan guru. Bahkan sepertinya bahasa daerah hampir pasti akan hilang dari materi pelajaran di sekolah," ucapnya.

Pada kurikulum baru, kata Yanyan, tidak ada keharusan insan pendidikkan turut melestarikan bahasa Sunda. Sekalipun Pemkot Bandung sudah memiliki peraturan daerah tentang Aksara dan Bahasa Sunda. "Pada kurikulum baru itu, semua sekolah lebih diutamakan mengajarkan murid-muridnya bahasa Inggris daripada bahasa Sunda," tandasnya.(evi damayanti/hol)

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Tugas Lama DPRD Baru
HARI ini, Senin (1/9), 100 anggota DPRD Jabar terpilih periode 2014- 2019 dilantik di Gedung Merdeka, Kota Bandung. Pekerjaan Rumah pun menanti mereka membangun Jabar masa depan.
ASPIRASI + Indeks