Jumat, 19 Desember 2014 | 17:43 WIB
LINTAS JABAR

Cianjur Masih Membutuhkan Tenaga Penyuluh KB

Oleh: Benny Bastiandy
Pakuan - Jumat, 29 Maret 2013 | 15:30 WIB
ilustrasi

INILAH, Cianjur - Minimnya jumlah petugas penyuluh Keluarga Berencana (KB) di Kabupaten Cianjur, mengakibatkan pelayanan informasi mengenai manfaat penggunaan alat-alat KB maupun kependudukan tak berjalan optimal. Saat ini, satu orang penyuluh harus bertugas melayani di 4-5 desa. Padahal idealnya 1 orang penyuluh mestinya melayani 1 desa.

Kasubbid Pemberdayaan Perempuan Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Kabupaten Cianjur, Yenni Rosyenni mengaku, jumlah petugas penyuluh KB saat ini masih jauh dari ideal. Mayoritas para petugas penyuluh KB ini berstatus tenaga kontrak. Sementara sebagian lainnya adalah penyuluh yang merupakan kader posyandu di setiap lingkungan di desa-desa.

"Padahal, petugas KB merupakan ujung tombak untuk memberikan pengetahuan kepada warga mengenai manfaat KB, baik manfaat bagi diri sendiri, keluarga, maupun lingkungannya," kata Yenni.

Dia menuturkan, pentingnya keberadaan penyuluh KB itu bukan sekadar memberikan pengetahuan manfaat ber-KB. Tapi lebih dari itu, keberadaannya diharapkan bisa menekan angka kematian bayi (AKB) maupun angka kematian ibu (AKI) yang saat ini masih relatif tinggi di Kabupaten Cianjur.

"Seorang penyuluh KB itu harus menularkan pengetahuannya untuk memperbaiki kualitas kaum perempuan. Cara yang dapat dilakukan penyuluh dalam upaya tersebut adalah, memberikan penjelasan kepada warga tentang menghindari 4-Ter, terangnya.

Pertama, lanjutnya, Terlalu muda menikah. Usia terbaik pernikahan bagi perempuan adalah minimal 20 tahun, sedangkan usia matang pernikahan bagi laki-laki adalah minimal 25 tahun. Perempuan yang menikan di usia bawah 20 tahun merupakan masa reproduksi muda. Secara medis, usia itu dianggap belum benar-benar matang untuk menikah, mengandung, dan melahirkan karena risiko kematian bagi ibu dan bayi sangat tinggi.

Kedua adalah terlalu sering hamil. Seorang ibu yang terlalu sering hamil dan melahirkan sangat mempengaruhi kesehatannya. Tingkat kematian bayi dan ibu pada kelahiran ketiga, keempat dan seterusnya sangat tinggi. Kematian bayi karena jarak kelahiran antara anak kesatu, kedua, ketiga dan seterusnya yang kurang dari dua tahun, berakibat pada rata-rata anak meninggal pada usia sebelum satu tahun, yakni sekitar 50 persen dari jumlah anak yang dilahirkan dengan jarak kurang dua tahun.

Ketiga adalah terlalu banyak melahirkan. Setiap melahirkan, saraf-saraf sang ibu banyak yang putus. Saraf-saraf tersebut akan pulih kembali bersambung setelah tiga hingga empat tahun ke depan. Dan keempat adalah terlalu tua hamil. Perempuan berusia 35 tahun masih beresiko hamil dan melahirkan. Sedangkan usia 35 tahun ke atas juga memiliki resiko tinggi terhadap kematian ibu dan bayi saat kelahirannya.

Yenni menyebutkan, selama Januari-Februari 2013, jumlah ibu hamil di Kabupaten Cianjur tercatat sebanyak 21.144 orang tersebar di berbagai wilayah. Sementara kasus kematian ibu melahirkan masih didominasi usia kehamilan di bawah 20 tahun. "Sebagiannya lagi kematian ibu hamil di atas usia 35 tahun," pungkasnya.[ang]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
PUTING BELIUNG KEPUNG BANDUNG
PUTING beliung menerjang kawasan Bandung Timur. Puluhan rumah rusak, jalanan macet. Seorang nenek, tewas tertimpa bangunan.
ASPIRASI + Indeks