Rabu, 26 November 2014 | 21:49 WIB

Oknum TNI Pembunuh Ibu-Anak Didakwa Pasal Berlapis

Oleh: Ahmad Sayuti
Hukum - Rabu, 3 April 2013 | 15:11 WIB
Oknum TNI AD dari kesatuan Kostrad 303 Cibuluh - inilah.com/Ahmad Sayuti AK

INILAH.COM, Bandung- Oknum TNI AD dari kesatuan Kostrad 303 Cibuluh Garut Prada MAI didakwa pasal berlapis oleh Oditur militer yang dipimpin oleh Letkol CHK Sihabudin dan Mayor SUS Asep Saeful Gani di Pengadilan Militer 11-09 Bandung, Jalan Soekarno-Hatta, Rabu (3/4/2013).

Itu terungkap dalam sidang dakwaan kasus pembunuhan ibu dan anak yang dilakukan oleh terdakwa Prada MAI di Garut pada 13 Februari 2013.

Sidang yang dipimpin oleh Letkol CHK Sugeng Sutrisno, S.H, M.H dan didampingi dua hakim anggota Mayor SUS Mertusin, dan Mayor CHK NR Jaelani S.H tak juga langsung mendengar kesaksian 17 orang.

Sidang bisa dilanjutkan, lantaran terdakwa MAI menerima dakwaan Oditur Militer dan tidak mengajukan eksepsi.

Dalam persidangan sendiri Oditur Militer Letkol CHK Sihabudin mendakwa Prada MAI dengan pasal berlapis, untuk dakwaan primer Prada MAI dijerat pasal 340 KUHP, dalam kualifasi pembunuhan berencana. Dengan pasal subsider 338 KUHP, subsider pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan kematian.

Dakwaan kedua yang diterapkan yakni pasal 80 ayat 3 juncto pasal 1 butir 1 UU no.23 tahun 2002.

"Terdakwa didakwa dakwaan primer pasal 340 KUHPidana tentang pembunuhan berencana, kemudian pasal subsider 338 KUHPidana, lebih subsider pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan kematian. Ancamannya sendiri maksimal 20 tahun penjara," papar Letkol CHK Sihabudin dalam dakwaannya.

Selain itu, katanya, terdakwa juga dijerat pasal 80 ayat 3 juncto pasal 1 butir 1 UU no.23 tahun 2002 tentang setiap orang yang melakukan kekejaman dan ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dan mengakibatkan mati.

Menurutnya, pengertian anak adalah termasuk anak yang berada di dalam kandung sesuai pasal 1 butir 1. Pasal ini dikenakan terdakwa membunuh juga janin yang berusia 8-9 bulan di dalam kandungan Sinta Mustika selaku korban yang minta pertanggungjawaban kehamilan kepada Prada MAI.

"Ancaman hukumannya sesuai dakwaan primer pasal 340 ancamannya hukuman mati atau seumur hidup atau 20 tahun kurungan penjara. Untuk Subsider nya sendiri ancaman maksimal 15 tahun, lebih subsider pasal 351 KUHP 7 tahun," terang Sihabudin.

Sedangkan untuk dakwaan lainnya yakni pasal 80 ayat 3 uu no 23 tahun 2002 adalah 10 tahun atau denda maksimal 200 juta rupiah.

Mengenai sanksi pemecatan terhadap Prada MAI dari keanggotaan TNI, Sihabudin menyebutkan, Majelis akan memperoleh penilaian yang terungkap dalam fakta persidangan, setelah sidang pemeriksaan dinyatakan selesai dan dimusyawarahkan maka akan diputuskan apakah terdakwa layak dipecat atau tidak.

Sementara itu, penasihat Hukum terdakwa Prada MAI yang didatangkan dari Divisi Infanteri I Kostrad Jakarta Kapten CHK Ronald Mugabe, S.H mempersilakan hakim ketua melanjutkan persidangan karena tak ada eksepsi atas dakwaan Oditur militer.

" Tak ada eksepsi dari kami, sehingga hakim ketua dipersilakan melanjutkan persidangan," terang Ronald.

Seperti diketahui, kasus pembunuhan oleh oknum anggota TNI kesatuan Yonif 303 Garut, pada 13 Februari 2013 lalu tersebut berawal saat Sinta yang merupakan teman dekat pelaku meminta pertanggung jawaban atas kehamilannya. Karena orang tua Sinta tidak terima dengan kehamilan Sinta, Hj. Popon mendatangi ke markas kesatuan korban di Cikajang untuk meminta tanggung jawab, dan mengancam akan melaporkan ke komandannya jika terdakwa tidak mau mengakui kehamilan Sinta.

Atas ancaman orangtua Sinta tersebut, korban gelap mata hingga melakukan pembunuhan dengan keji di daerah kebun kentang kecamatan Cikajang. [ito]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
PARTAI GOLKAR PECAH
SUHU politik di tubuh Partai Golkar memanas. Di tengah persiapan rapat pleno antarpetingggi Partai Golkar, dua kubu Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) terlibat bentrok.
ASPIRASI + Indeks