Kamis, 2 Oktober 2014 | 23:29 WIB
LINTAS JABAR

Populasi Satwa Langka di Cianjur Terancam Punah

Oleh: Benny Bastiandy
Pakuan - Kamis, 4 April 2013 | 12:09 WIB
ilustrasi

INILAH.COM, Cianjur- Tingkat populasi sejumlah satwa langka dan dilindungi yang ada di beberapa cagar alam di Kabupaten Cianjur mengalami penurunan bahkan terancam punah. Upaya pelestarian terus dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kabupaten Cianjur.

Kepala Resort Wilayah VI BKSDA Kabupaten Cianjur, Isis Iskandar mengatakan, sejumlah satwa langka dan dilindungi di beberapa cagar alam yang terbagi dalam dua wilayah pengelolaan di Kabupaten Cianjur di antaranya Elang Jawa, Owa Jawa, Suruli, Mencak/Kijang, dan Kancil. Tingkat populasinya saat ini dinilai mendekati kepunahan.

Mencak/Kijang misalnya yang mayoritas berada di beberapa cagar alam di Cianjur selatan dan berada di bawah koordinasi Wilayah VII populasinya nyaris punah lantaran diduga banyak diburu masyarakat setempat untuk dikonsumsi dagingnya.

"Hasil penelitian di sejumlah blok cagar alam meskipun memang keberadaan satwa-satwa langka dan dilindungi itu masih ada namun tingkat populasinya sudah mulai menurun. Penyebabnya dikarenakan berbagai faktor. Misalnya saja masih ada masyarakat yang mengonsumsi daging satwa dilindungi, seperti Mencak (Kijang)," kata Isis kepada INILAH, Kamis (4/4/2013).

Isis menyebutkan, beberapa cagar alam yang ada di Kabupaten Cianjur tersebar di wilayah selatan dan utara, di antaranya Gunung Simpang di Kecamatan Naringgul, Bojonglarang di Kecamatan Cijati, Talaga Warna di Kecamatan Cipanas, dan di Kecamatan Campaka.

Di beberapa cagar alam di wilayah selatan kebanyakan dihuni Owa Jawa, Kijang/Mencak, Kancil, Lutung, dan Elang Jawa. Sementara di wilayah utara masih terdapat Elang Jawa dan Owa Jawa.

"Populasi Owa Jawa di Gunung Simpang kami nilai masih cukup tinggi karena luasan wilayahnya mencakup dua kabupaten, yakni Bandung dan Cianjur. Kalau tidak salah mencapai sekitar 15.000 hektare. Sementara di Kecamatan Campaka luasan cagar alamnya mencapai 15 hektare, Kecamatan Takokak seluas 60 hektar, dan Talaga Warna sebanyak 486 hektare," tuturnya.

Menurut Isis, pihaknya pun berupaya memantau keberadaan satwa-satwa langka dan dilindungi. Di antaranya dengan melakukan patroli rutin, terutama di cagar-cagar alam yang berdekatan dengan permukiman penduduk.

"Kalau untuk penangkaran sebagai upaya pelestarian dan antisipasi perburuan tampaknya sangat sulit dilakukan. Tapi kita upayakan terus melakukan patroli dan pemantauan," katanya.

Isis mengatakan, kalau melihat tingkat perburuan satwa langka dan dilindungi di Kabupaten Cianjur dinilai rendah. Menurutnya, yang saat ini perlu dipantau adalah perburuan satwa-satwa yang tak dilindungi, seperti burung-burung liar.

"Meskipun bukan satwa langka dan dilindungi, tetap saja perburuan liar itu mesti dipantau, karena jika tak diawasi, maka berimbas terputusnya mata rantai ekosistem," tegasnya.

Isis pun menyayangkan minimnya kepedulian masyarakat menjaga kelestarian cagar budaya di Kabupaten Cianjur. Karena itu, pihaknya pun akan terus mengintensifkan upaya sosialisasi kepada masyarakat agar timbul kesadaran melestarikan cagar alam.

"Kami harapkan masyarakat ikut menjaga kelestarian cagar budaya, terutama dalam menjaga satwa-satwa yang langka dan dilindungi," pungkasnya. [ito]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Pemilihan Ketua DPR Alot
PEMILIHAN kursi pimpinan DPR berlangsung alot. Ada dua kubu yang ‘bertempur’. Nama Setya Novanto dan Puan Maharani pun bersaing.
ASPIRASI + Indeks