Minggu, 27 Juli 2014 | 02:14 WIB
LINGKAR BANDUNG

60% Pabrik di Majalaya Buang Limbah ke Citarum

Oleh: Dani R Nugraha
Bandung raya - Kamis, 4 April 2013 | 15:18 WIB
inilah.com/Dani R Nugraha

INILAH, Soreang - Dari 217 industri tekstil di Majalaya, 60 persen diantaranya ditenggarai membuang limbah cairan berbahaya langsung ke aliran Sungai Citarum. Hal tersebut mengakibatkan kerusakan lingkungan, matinya sejumlah ekosistem air mati hingga menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat.

Ketua Elemen Lingkungan (Elingan), Deni Riswandani mengatakan, kerusakan lingkungan yang disebabkan limbah cair berbahaya dari sejumlah industri tekstil di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Citarum, sangat kritis. Ini terjadi sejak dibukanya kawasan Majalaya sebagai zona industri pada dekade 80-an.

"Para pemilik industri itu memang hampir semuanya punya Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). Tapi ada dugaan, IPAL itu digunakan hanya saat ada pemeriksaan dan pengawasan dari pemerintah. Lihat saja buktinya di lapangan, air Sungai Citarum setiap hari dan selama 24 jam itu warna-warni dan mengandung racun berbahaya," kata Deni Riswandani, Kamis (4/4).

Deni pun mengklaim, 60 persen dari 217 industri tekstil di Majalaya, membuang langsung limbah cair berbahaya ke Sungai Citarum. Selain di Majalaya, kata dia, sejumlah pabrik di Rancaekek dan Solokan Jeruk pun membuang limbah cairnya ke anak Sungai Citarum. Yakni ke Sungai Cimande dan Cikijing.

"Ini juga terjadi di sepanjang aliran Sungai Citarum di daerah Cisirung Dayeuhkolot. Begitupun di daerah lain seperti di Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Apalagi di Majalaya, daerah hulu Sungai Citarum," jelasnya.

Dampak langsung yang dirasakan masyarakat, lanjut dia, yakni terganggunya kesehatan masyarakat. Seperti yang dialami warga di RW 9, 10, 11 dan 12 di Kampung Ciwalengke Desa Sukamaju Kecamatan Majalaya. Warga disana, sejak lama menderita penyakit gatal-gatal. Selain itu, semua sumber air bersih warga, kering akibat tersedot oleh sumur milik pabrik-pabrik disekitar pemukiman warga.

"Karena sumur mereka kering, mereka terpaksa mengalirkan air Citarum ditampung ke dalam sumur. Meski tidak layak untuk dipakai untuk konsumsi maupun mandi dan cuci, tetap saja mereka pergunakan untuk keperluan sehari-hari. Akibatnya kesehatan mereka terganggu," terangnya.

Selain limbah kimia cair berbahaya dari pabrik, lanjutnya, sungai Citarum pun dipenuhi limbah rumah tangga, dengan perbandingan limbah rumah tangga 60 persen, limbah industri kimia cair 30 persen dan sisanya limbah pertanian dan peternakan.

"Memang limbah rumah tangga lebih besar. Tapi jangan dilihat kuantitas. Kalau limbah rumah tangga itu padat, paling cuma bikin mampet aliran sungai dan tidak akan merusak ekosistem sungai. Tapi kalau limbah kimia cair B3, 1 liter saja perbandingannya bisa mencemari 1 meter kubik air. Sekarang ada ratusan perusahaan yang membuang langsung limbah cair berbahayanya, bisa dibayangkan sendiri kerusakan lingkungannya seperti apa," terangnya.

Dengan kondisi tersebut, pihaknya menyayangkan lemahnya pengawasan serta penindakan yang dilakukan pemerintah. Bahkan terkesan ada saling lempar tanggung jawab, baik dari pemerintah daerah tingkat II hingga provinsi.

"Saling menyalahkan antara eksekutif dan legislatif sudah biasa terjadi. Tanpa bisa memberikan solusi, padahal keduanya juga memiliki kewajiban yang sama," katanya.

Sementara itu, berdasarkan catatan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLHD) Kabupaten Bandung, sekitar 150 perusahaan tekstil di Kabupaten Bandung diduga keras membuang limbah industri di anak Sungai Citarum. Beberapa anak sungai yang kerap menjadi pembuangan limbah adalah Sungai Cisangkuy, Citepus, Citanduy, Ciseah, dan Cikapundung.

Kepala Bidang Penegakan Hukum dan kemitraan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLHD) Kabupaten Bandung, Agus Maulana mengatakan, pihaknya telah melakukan pengawasan terhadap 150 perusahaan tekstil tersebut. Namun upaya pengawasan tersebut juga terkadang menemui hambatan.

"Hambatan yang didapat disaat melakukan penelitian ke sejumlah perusahaan adalah pihak perusahaan bisa memperlihatkan hasil olahan limbah yang telah diproses melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)," ujar Agus.

Agus pun mengaku, petugas yang diturunkan untuk menyelidiki adanya pencemaran oleh perusahaan tekstil kesulitan untuk mencari bukti di lapangan. Meski demikian, pihaknya sudah menemukan adanya pelanggaran hukum karena pencemaran limbah pabrik dan sudah ada perusahaan yang ditetapkan sebagai tersangka.

"Sudah ada yang ditetapkan, tetapi kami belum bisa menyebutkan. Kami juga sedang melakukan pengusutan dengan Polda Jabar," kata dia.

Dalam penegakan kasus ini, ungkap Agus, perusahaan yang dianggap bersalah terkena Undang-undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH). Namun demikian, pihaknya juga mengakui ada oknum yang memanfaatkan permasalahan limbah.[ang]

Berita Lainnya
0 Komentar
Kirim Komentar Anda
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHKORAN.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
MACET NAGREG MENGGILA
JALUR Nagreg mulai ramai. Pemudik bermotor mendominasi jalur. Kendaraan mengular hingga 30 Km mulai dari Ciamis hingga Nagreg.
KARIKATUR + Indeks